
Maxim menyusuri lorong apartemen Julia , kamar kekasih nya itu berada di ujung lorong . Dan Maxim tidak perlu mengetuk untuk masuk kedalamnya , pria itu tahu apa sandinya . Kamar itu tidak terlalu besar tapi cukup mewah untuk ukuran seorang gadis , Julia sudah bersamanya sejak 6 bulan ini . Dan entah apa yang menghalangi gadis itu untuk segera pindah dengannya .
Maxim mendesah pasrah , melangkah kan kakinya ke ruang tamu . Dia tertegun dengan suasana terlalu hening , ia yakin Julia ada ditempat menurut informasi pengelola dibawah . Maxim sudah sering berkunjung kesini sehingga para pengelola atau security sudah sangat hapal dengan wajah selebritisnya .
" Honey...." Panggil Maxim pada Julia kekasihnya , ia berusaha membuka pintu kamarnya , tapi itu terkunci .
Hening lalu terdengar suara gaduh dibalik kamar kekasihnya , hati Maxim mulai diliputi gelisah . Apakah Julia dalam bahaya , kejadian ini pernah terjadi pada Jocey sepupunya dan Maxim tidak mau hal itu terjadi pada pacarnya .
" Julia ..." Maxim memanggilnya sekali lagi , sebelum akhirnya mendobrak pintu didepannya .
Mata Maxim membara karena amarah , ia tidak pernah merasa sesakit dan semarah ini ingin rasanya ia menjungkirbalikkan ranjang didepannya .
Julia ada disana , dibawah tumpukan selimut yang menyembunyikan setengah tubuh telanjangnya dan bersama seorang pria , dan Maxim yakin pria itu juga tidak mengenakan apa-apa dibawahnya .
" Appa apaan kau wanita!"mata Maxim menghujam tepat kemata Julia , wanita itu tak kalah kagetnya .
Tidak menyangka jika Maxim akan mendapatinya bersama Jhonny hari ini di kamarnya sendiri .
" Maxim aku bisa menjelaskan semua ini ..." Kata kata Julia terputus ketika Maxim meloncat keranjang dan meluapkan amarahnya pada Jhonny .
Jhonny yang tidak siap hanya bisa pasrah menerima setiap bogem mentah Maxim . Wajahnya berlumuran darah dalam sesaat , Julia menjerit sejadi-jadinya . Wanita itu menangis dan memohon agar Maxim melepaskan Jhonny , Jhonny terengah-engah dengan Maxim yang menduduki dadanya .
Sialan , Jhonny merutuk dalam hati , ternyata benar rumor yang selama ini beredar , Maxim adalah mantan mafia . Pukulannya benar benar mematikan , pria itu meninjunya berkali-kali .
" Max , aku mohon ..." Rintih Julia , panggilan itu , paling dibenci Maxim . Ia menoleh berang pada Julia , cintanya untuk wanita ini tiba-tiba menguap begitu saja .
Maxim turun dan menghempaskan Jhonny begitu saja , ternyata benar gosip yang selama ini beredar . Harusnya ia bisa lebih mendengarkan Angela , Maxim berbalik dan membanting pintu kamar Julia . Meninggalkan apartemen sialan itu dengan suara Julia yang melengking memanggilnya , keparat wanita !
Maxim tidak pernah menoleh , ia bahkan meninju kesal tombol lift didepannya . Buku buku jarinya memerah dan mengeluarkan darah , tapi rasa sakit itu tidak sebanding dengan sakit hatinya .
Maxim masih ingat ketika Angela memperingatkan nya bahwa Julia hanya memanfaatkannya agar terkenal . Tapi Maxim yang dibutakan oleh cinta tidak menggubris ucapan managernya . Wanita itu sialan cantik dan seksi , membutakan hati nuraninya . Kenapa ia begitu bodoh terperangkap dalam hasrat sialannya .
Entah kesialan apa lagi yang terus mengikuti Maxim . Ban mobil BMW X5 nya tiba tiba bocor ditengah jalanan yang sepi dipinggiran kota Philadelphia . Tadinya Maxim terus melajukan mobilnya tanpa arah , dan tanpa sadar itu mengarah pada daerah tempat tinggal ayahnya .
Maxim keluar dan membanting pintu kemudi , dia tidak pernah sekesal ini pada mobilnya . Ia turun untuk memeriksa bannya , sialnya bannya bahkan sudah koyak tak berbentuk , beruntung ia tidak terguling dan celaka . Maxim berlari kebelakang untuk mengambil dongkrak danban cadangannya , tapi hanya ada dongkrak disana .
Maxim merogoh sakunya , berharap Angela masih terjaga untuk mendengar sumpah serapahnya .
" Angela..!" Maxim meledak pada sambungan telepon .
" Max..im...." Suara Angela putus putus dan terkesan sedang mendesah . Sialan apa yang dilakukan wanita itu !
" Angela! Dimana..."
" Oh my... honey hentikan ...." Terdengar suara Angela yang cekikikan menahan erangannya .
" Maxim , maaf telpon aku nanti..." Sambungan terputus , Maxim membanting ponselnya kejalanan . Ia berteriak frustrasi , ini hari apa hingga ia harus kena sial bertubi tubi .
Pertama pacarnya berselingkuh darinya dan tidur dengan pria lainĀ , kedua bannya pecah dan tak ada ban cadangan sama sekali . Dan ketiga parahnya , ketika ia ingin mengkonfirmasi dimana letak ban cadangan nya berada , managernya justru sedang asyik bercinta tanpa memedulikan dirinya . Dan sekarang ia harus berjalan menuju rumah ayahnya , ia tidak bisa menghubungi ayah ataupun saudaranya karena ponselnya sekarat ia banting tadi .
Mata Maxim memicing ketika melihat dari kejauhan , sudah satu kilo lebih ia berjalan dan tak ada satupun mobil yang mau memberinya tumpangan . Ada apa dengan semua orang kota kenapa semua jadi benar benar sial bagi dirinya .
Maxim semakin berjalan mendekat , entah dua orang laki-laki itu perampok atau cuma orang mabuk gila yang mencoba menggoda seorang gadis .
" Kembalikan itu brengsek ...!" Gadis berambut pirang itu mencoba menggapai sesuatu ditangan salah satu laki laki .
Kedua laki laki itu tertawa , saling memandang lalu kembali menatap gadis itu lagi .
" Kau dengar Bill, rupanya dia bisa bersuara , aku pikir dia bisu ...." Mereka tertawa lagi , gadis itu berusaha lagi tapi dompet nya sudah berpindah tangan ke tangan satunya .
" Aku mohon.... tolong kembalikan ...." Suara gadis itu memelas , seorang pria yang dipanggil Bill menyentuh pipi merah sang gadis . Gadis itu tersentak dan berusaha dan berusaha menyingkirkan tangan Bill .
" Kalian tidak ada pekerjaan lain , selain menganggu wanita ..." Maxim berdiri tak jauh dari mereka , pria itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada .
Kedua pria itu menoleh , termasuk gadis pirang berpipi merah muda , kaca mata besar bertengger dimatanya .
" Oh , lihatlah siapa yang mencoba menjadi pahlawan ..."