
Nafas Maxim naik turun , matanya benar-benar berair menatap balita gemuk itu . Seorang paramedis mengambil alih Kevin dari gendongan Anna , balita itu sontak menangis . Wajahnya memerah karena menangis dan terus mencoba menggapai kearah Anna . Anna menatap anaknya dan Katie yang sedang diperiksa paramedis , memastikan kemungkinan tidak ada asap yang terhirup . Dia masih tidak percaya kejadian mengerikan yang baru saja dialami putranya . Yah putranya , Anna masih ingat bagaimana dia tahu pertama kali dia hamil . Dia bahagia tapi dia juga bingung , dia tidak punya rumah ataupun pekerjaan dan suami . Anna memejamkan matanya , mengingat kembali masa masa pahit sebelum bertemu Katie . Wanita berhati mulia yang juga kembali menyelamatkan bagian hidupnya . Tapi mungkin Katie tidak akan keluar dengan mudah jika bukan karena Maxim .
" Anna kita perlu bicara ..." Maxim ada disampingnya , wajah pria itu mengeras saat Anna memandangnya . Anna tahu ada satu hal yang tidak sempat dia sampaikan kepada Maxim , tapi dia punya alasan untuk itu . Alasan yang sangat kuat .
" Terima kasih sudah menyelamatkan mereka untuk saya .." Anna memeluk Maxim, tidak tahu hatinya terus diliputi rasa syukur . Tapi pria itu tidak membalas pelukannya seperti yang biasa Maxim lakukan.
Anna mengusap sisa air matanya , dia sangat gugup dan malu . Ini adalah pertama kalinya dia tidak lagi membenci Maxim , semua dendam yang dipendamnya seolah menguap . Maxim telah menyelamatkan bagian jiwanya , putranya . Anna melirik lagi Kevin , balita itu sudah tidak lagi menangis justru sedang asyik bercanda dengan paramedis yang tadi memeriksanya .
" Anna kamu tahu apa yang saya maksud ..?!" pria itu berbicara tegas kedua tangannya ada diatas pinggulnya .
Anna tersenyum sekilas , " Kevin adalah putraku , terima kasih sudah menyelamatkan dia , saya sangat menghargainya ..."
" terima kasih ?" Maxim tertawa hambar , dirinya sangat marah . Menatap balita gemuk itu , seharusnya dia ada disampingnya , dia kehilangan kesempatan itu.
" aku tidak percaya apa yang baru saja kamu lakukan Anna , kenapa tidak pernah memberi tahu saya . Saya sangat berhak atas dia !" Maxim menunjuk Kevin , bayi sedang tertawa sangat lucu dan Maxim ingin menangis ingin memeluknya lebih dari apapun .
" Max.. saya ...."
" Sekarang aku mengerti , kenapa anda selalu menolak saya , selalu membenci saya , seolah olah sayalah manusia paling buruk . Lihatlah dirimu Anna , anda telah menyembunyikan milik saya .." Maxim menunjuk Kevin lagi dan kali ini dia tahan . Perset*n dengan pandangan orang yang memandangnya cengeng , pria itu menangis memukul pintu mobil didepannya .
Anna juga ikut terharu , dia tidak menyangka jika Maxim akan menyangka bahwa Kevin adalah miliknya . Andai saja itu adalah kenyataan Anna sangat berharap.
" Max..." Anna menatap Maxim dan rasa bersalah menyelimuti hatinya .
" cukup Anna .., ..." potong Maxim .
Tapi Anna memberanikan suaranya , dia kembali memotong kata kata Maxim . " Anda ingin tahu kenapa saya tidak pernah memberi tahu anda ? "
Maxim mengangguk menelan kembali kata kata yang akan meluncur dari mulutnya . Matanya menatap lurus pada wanita yang sudah dua tahun ini dia rindukan dan kenyataan yang baru dia ketahui .
" Karena saya takut Max , saya takut anda akan membenci saya ..."
Maxim membuka mulutnya ingin menimpali semua jawaban Anna , tapi wanita itu mengangkat tangannya . ". ... biarkan saya menyelesaikannya .." Anna mengatur nafasnya sebelum dia kembali menatap Maxim dan mengucapkan ketakutan yang selama ini dia pendam . " saya takut anda akan membenci saya karena saya tidak tahu dia milik anda atau Jamie ..." Anna memejamkan matanya , membayangkan masa lalunya rasanya sangat menyakitkan .
" apa ?! apa maksudmu Anna ..?" Maxim mengguncang bahu Anna . Wanita itu tersedu dalam tangisnya sendiri .
Tapi yang tidak pernah Anna sangka , Maxim justru memeluknya ikut meratapi nasib buruk .
" tidak babe , itu adalah salah saya , saya tidak bisa menjaga anda dengan baik ...." Maxim semakin merekatkan pelukannya , diciumnya rambut dan pelipis wanita yang dikasihinya . Anna menggeleng dalam pelukan Maxim , dialah yang bersalah . Anna menemui Jamie diam diam dibelakang Maxim , yang menurut Jamie itu adalah permintaan terakhir sebelum mereka berpisah . Anna sama sekali tidak tahu jika itu adalah jebakan Jamie dan ibu tirinya .
" sekarang dengarkan , saya tidak peduli jika dia bukan darah saya . Saya sudah jatuh cinta padanya sejak pertama kali melihatnya , dia adalah milik saya , kalian adalah milik saya ..."
Anna tidak mempercayai apa yang baru saja dia dengar . " Max , saya tidak ingin anda menyesal nantinya , saya tidak ingin anda merasa kasihan dengan saya ..."
" hentikan itu Anna , berhenti berpikir bahwa saya laki laki serendah itu ..." Maxim menatap tajam pada Anna , tapi hatinya tidak pernah berhenti mencintai wanitanya .
" saya tidak ..."
_________
Anna menggeleng , dia tidak pernah berpikir bahwa bahwa Maxim serendah itu . Dia hanya takut , takut semua kata katanya hanya sementara . Dia tidak ingin kembali patah hati apalagi jika itu menyangkut Kevin , hidupnya .
Anna sudah akan kembali bicara , tapi seorang paramedis menghampiri mereka . " maaf menyela kalian , tapi saya juga harus memeriksa anda pahlawan ..." perawat itu berkedip menatap Maxim.
" perbuatan anda sangat bodoh tapi patut dipuji juga , anda adalah pahlawan bagi pria kecil itu.." si perawat mengisyaratkan kepalanya kearah Kevin yang sudah berpindah tangan dalam gendongan Katie , dia terlihat sehat dan sangat menggemaskan .
" tapi tuan anda harus diperiksa , mari ikut saya ..." sang perawat hendak melangkah , menuju mobil ambulans .
" saya tidak apa-apa , tapi terima kasih " ucap Maxim kaku , Anna bahkan sampai menoleh melihatnya . Ucapan si perawat ada benarnya , Maxim mungkin saja menghirup asap karbon , mengingat pria itu menerobos asap untuk Kevin dan Katie .
" tidak , saya tahu Anda merasa baik baik saja tapi ini adalah prosedur kami , kami harus memastikan Anda baik baik saja ..." sang perawat tak kalah sengit .
Maxim menghela nafas , dia melirik Anna yang jelas jelas memohon padanya agar mematuhi instruksi paramedis .
" saya bersedia diperiksa tapi dengan satu syarat ....." pria menarik gurat senyumnya , melirik pada Anna yang tidak mengerti apa maksud senyum licik itu .
" oh man , jangan bilang Anda minta permen ,kami tidak punya hal itu ..." perawat itu tertawa geli , membuat Anna pun ikut tersenyum malu .
Maxim tersenyum penuh kemenangan lagi , " saya bersedia jika Anna dan Kevin ikut pulang bersama saya ...."