
Pria itu berdiri disana , meski hanya ada sorot lampu jalanan yang menerangi mereka , Anna masih bisa melihat dengan jelas , betapa tampannya dia . Mata Anna menelusuri setiap jengkal tubuh pria itu , tinggi ,kekar , sangat menawan dan wajahnya menampilkan kesan arogan yang tampan .
Anna belum pernah melihat pria semenarik ini , biasanya pria dimatanya hanyalah makhluk membosankan yang selalu mematahkan hatinya .
Anna berkedip sekali lagi, dan menyadari pria itu adalah Maxim Lockwood , tetangganya . Tapi sepertinya pria itu tidak mengenalinya , atau pria itu terlalu fokus pada dua pria mabuk yang mengganggunya .
Anna sebenarnya tidak pernah ingin pulang larut malam seperti ini , tapi kebutuhannya memaksa Anna mengambil kerja paruh waktu selepas kuliah . Biasanya dia selalu bisa menghindari Bill dan David , dua pria didaerahnya yang selalu mabuk dan menjahili orang orang .
" Lihatlah siapa yang mencoba menjadi pahlawan ..." Bill menyelipkan dompet Anna kedalam celananya , semantara David memegang tangan Anna keras keras , gadis itu terlihat meringis kesakitan .
" Oh aku mengenalnya Bill , pergilah keparat , kami tidak membutuhkan tanda tangan bodohmu..." Serapah David , emosi Maxim kini mulai mendidih .
Seharian ini dia sudah cukup tersulut emosi , dan jangan coba menyalahkannya jika ia melampiaskan pada dua orang bodoh ini .
" serahkan dompetnya dan lepaskan gadis itu ! Atau aku akan menendang pantat kalian satu persatu ..." Maxim mencoba menggertak , ini kesempatan dua orang bodoh itu untuk lari . Sebenarnya Maxim tidak masalah atau pun takut berkelahi dengan dua begundal ini , tapi jika keinginannya untuk cepat tidur bisa terlaksana kenapa tidak .
Tapi sepertinya suasana sama sekali tidak mendukung , Bill dan David justru menertawainya . Bill maju untuk melepaskan tinjunya pada Maxim, tapi pria itu mengelak dengan sangat mudah . Dan menghadiahi bill dua pukulan telak di hidungnya .
Bill oleng ke belakang , pria itu memegang hidungnya yang mulai berdarah . Bill meringis dan geram , pria itu berusaha maju lagi dan berniat menerjang Maxim dengan tendangan terbaiknya .
Lagi lagi tendangan Bill meleset , bill terhuyung kedepan memudahkan Maxim memberinya pukulan siku bertubi tubi . Bill tersungkur , pria itu mengerang karena tubuhnya terhantam aspal .
David maju begitu mendapati temannya tidak berdaya , tapi yang tidak pernah Maxim sadari pria mabuk itu mengeluarkan pisau lipat kecil .
Kilatan peraknya berpendar dibawah cahaya lampu , Anna menjerit memperingatkan nya . Maxim sempat tidak siap , tapi Maxim sudah terlatih menghadapi situasi ini .
Maxim sudah membekali dirinya untuk tidak akan pernah tertusuk pisau untuk kedua kalinya . Tubuh Maxim mengelak kesamping , dan tangannya cekatan menangkap pergelangan tangan David , memelintirnya dan menghantam tangan David dengan satu tangan lainnya .
Pisau itu terjatuh , David mengerang kesakitan , Maxim buru buru memungut pisaunya sebelum David menyadarinya .
" Keparat kau Max! Kau mematahkan tangan ku! " Maxim melotot mendengar panggilan David padanya , Maxim mendekat dan memojokkan David pada tiang lampu dibelakangnya .
Pisau kecil itu mengarah pada leher David , David meringis merasakan ketakutan , bergerak sedikit saja mungkin kulit lehernya akan terkoyak .
" Jangan pernah memanggilku Max! Max yang kau kenal sudah mati !"
" Ok..ok... Maxim maafkan aku , tolong jangan sakiti aku..." David mencicit ketakutan , ia tidak sadar air matanya merembes keluar , yang ia pikirkan hanya terbebas dari pisaunya sendiri .
Maxim menekan lagi pisau itu dileher David , menyebabkan satu saya sayatan kecil yang mungkin cukup membuat jera pria bodoh ini .
" Aku sudah memperingatkan mu..., Jika sekali lagi aku melihat mu mengganggu wanita , aku tidak akan segan segan melubangi leher mu ini !"
" Aku berjanji... tolong lepaskan aku... Maxim ... kumohon "
" Sekarang pergi jauh jauh dari sini , bawa teman keparatmu itu , dan kembali lah kepelukan ibumu..!" Maxim menghempaskan David kesamping , pria itu sambil ketakutan memapah tubuh Bill yang setengah sadar .
Maxim memperhatikan dua orang itu sebelum akhirnya menghilang di tikungan .
Anna meremas tangannya yang gemetar , kejadian tadi sedikit membuatnya syock . Ia tidak menyangka jika David akan mengeluarkan pisau lipat dari balik sakunya , bahkan Anna sempat menahan nafas ketika pisau itu hampir saja menembus perut Maxim . Perut yang Anna yakini sangat keras dibalik kemeja thermal nya basah oleh keringat .
Pria itu mendekat setelah akhirnya menyodorkan dompetnya , dan ketika itulah mata mereka saling terkunci . Maxim mempunyai mata biru yang sangat cerah , ketampanannya semakin terlihat dari jarak dekat .
Anna menunduk menatap dompetnya , menghindari kontak mata dengan ******** tampan ini . Anna tidak boleh terpesona , seberapa pun tampannya dia Maxim adalah pria brengsek yang selalu membuatnya menangis ketika SMP dulu .
Anna ingin meraih dompetnya , sebelum tiba tiba Maxim menariknya lagi dan membuat Anna bingung .
" Tunggu dulu , sepertinya aku mengenalmu..." Maxim menelusuri bentuk wajahnya , membuat Anna merona maludan memalingkan wajahnya .
" Hei , kau Annabelle si kawat gigi kan?!" Seru Maxim , Anna terlonjak kaget . Tidak pernah menyangka setelah bertahun tahun ia melepaskan kawat giginya , Anna tidak pernah berharap orang akan mengingat masa terburuknya . Masa dimana orang orang mengejeknya , hingga ia harus pulang dengan bercucuran air mata .
Dan Maxim adalah salah satu orang itu , orang yang selalu mengejeknya . Orang yang selalu tertawa dibalik kesedihannya , dan Maxim tidak pernah merasakan itu .
" Berikan dompetku..." Suara Anna bergetar menahan lonjakan air matanya , ia tidak menyangka terlepas dari dua orang mabuk sekarang ia harus menghadapi orang paling usil dan tidak berperasaan seperti Maxim .
" Kemana kawat kawat gigi itu pergi ..." Maxim menundukkan kepalanya , mensejajarkan wajahnya dengan Anna .
Anna sudah tidak kuat lagi menahan rembesan air matanya , gadis itu berpaling dan lebih memilih berlari meninggalkan Maxim .
" Hei , apa yang salah ?! Kau melupakan dompet mu ...?!" Gadis itu cepat sekali berlari , membuat Maxim tertinggal di belakangnya .
Tangan Anna gemetar mencari kunci didalam tasnya , ia berharap kunci itu tidak berhamburan begitu ada ditangannya .
" Hei , Anna ! Kenapa kau berlari ketakutan , kau lupa pada dompetmu ?" Maxim tepat ada didepan pintu rumah Anna , ketika pintu itu tertutup dengan sangat keras didepan wajahnya .
" Brengsek wanita , setidaknya ucapkan terima kasih ..." Maxim memandang dompet Anna ditangannya , apa yang akan ia lakukan dengan dompet ini ?