
Maxim berbalik setelah kepergian Rocco , membuka pintu kemudi dan bergabung dengan Anna disana .
" Anna , aku akan mengantarmu pulang..." Maxim memandang Anna dari sisinya gadis itu meringkuk menghadap jendela .
" Anna ..." Maxim memanggilnya sekali lagi , tapi gadis itu tidak bereaksi , nafasnya turun naik dengan sangat lembut .
Maxim memberanikan diri menyibak rambut gadis itu , rambut pirangnya menutupi pandangan Maxim . Anna sangat damai dalam tidurnya , bulu matanya yang panjang tertekuk indah pada tempatnya . Bibirnya yang sewarna darah sedikit terbuka , membuat Maxim tergoda untuk mencicipi rasanya , apalagi sejak tadi tangan Maxim sudah menjelajah disepanjang garis rahang Anna .
" Ibu... kenapa kau lakukan ini...." Maxim terkejut saat Anna mengigau ditengah tidurnya , wajah gadis itu terlihat sedih ditengah lelapnya . Maxim berusaha membelai pipi Anna , menenangkan gadis itu . " Sst... tenanglah , kau aman sekarang ..." Nafas Anna yang tadinya berhembus cepat , mulai kembali teratur .
Maxim menjauhkan diri dari tubuh Anna begitu gadis itu kembali tenang . Maxim mengutuk dan mengerang dalam kesakitannya yang membutuhkan kenikmatan , secepat itukah ia bergairah hanya dengan menatap Anna dalam tidurnya . " Sialan , apa yang kau lakukan padaku Anna ...?" Maxim mengubur wajahnya diatas stir kemudi , menunggu gairahnya redup .
______
Jocey terjingkat kaget saat membuka kamar sepupunya . Dia pikir setelah setengah jam lebih mengetuk pintu apartemen Maxim tanpa ada jawaban , Jocey berpikir sepupunya itu mungkin sedang terkubur diatas kasurnya karena mabuk semalaman .
Jocey tidak akan menyangka menemukan Maxim tidur diatas ranjang dengan seorang wanita yang memeluknya layaknya guling .
" Astaga !" Suara lengkingan Jocey cukup membuat Anna terbangun , gadis itu masih memakai gaun hitam berkilau dan kemeja navy milik Maxim . Anna mengangkat kepalanya yang masih mengantuk dan terkejut menemukan sosok Jocey yang berdiri shock di depan pintu , mata mereka saling bertemu dan Jocey tidak kalah terkejutnya , mendapati sepupu dan sahabatnya ada dalam satu ranjang .
" Aku akan menunggu di luar ..." Jocey berusaha membersihkan tenggorokannya .
Jocey pergi dan Anna hanya mengangguk tidak mengerti bagaimana Jocey bisa ada hadapannya ketika ia bangun . Tapi kesadaran Anna langsung meningkat dua ratus persen begitu mendapati ia berada di kamar dan ranjang asing , dan seorang lelaki yang bertelanjang dada , bersyukur pria itu masih memakai celana jeans-nya . Anna berteriak dan memukuli dada pria itu yang ternyata adalah Maxim Lockwood , musuh bebuyutannya sewaktu remaja .
Maxim terbatuk karena pukulan Anna didadanya , pria itu menggeram dan terbatuk . " Tidak bisakah kau membangunkan ku dengan cara yang lembut ..!" Bola mata biru Maxim dikelilingi warna merah yang mengerikan , Anna mencoba menjaga jarak darinya , tubuhnya dalam mode waspada .
Maxim memicingkan matanya , gadis itu tampak berantakan dengan kemeja miliknya , tapi sial gadis itu sangat cantik dan menggoda . Ia harus beberapa kali menyembunyikan ketertarikannya , karena berulang kali menelan ludah .
" Apa yang kau lakukan padaku!" Sembur Anna , tangan gadis itu menyilang di depan dadanya .
" Tidak ada !" Jawab Maxim tak kalah keras .
Anna menggeleng tidak percaya , " kau bohong ! kenapa kita tidur satu ranjang bersama ?!"
Maxim tertawa serak , membuat Anna semakin bingung . " Karena ini kamarku , ranjang ku , kasurku cukup luas untuk kita berdua .."
Emosi Anna menggelegak , ia melemparkan satu bental kearah Maxim , tapi pria itu mengelak dengan sangat mudah . " Kau brengsek !!"
" Itu kata kata mu kepada orang yang sudah menyelamatkamu ..?"
" Maxim , aku serius ! Apa yang kau lakukan padaku ?! Kenapa aku ada di kamarmu ?! Apa kita berhubungan s*ks ..?" Anna tidak percaya kenapa ia mengungkapkan kata terakhirnya itu .
Wajah Maxim tampak terkejut , tapi pria itu tersenyum licik ." Belum.." jawaban Maxim membuat emosi Anna semakin meningkat , ingin sekali mencakar seluruh sixpack ditubuh pria itu .
Anna melompati ranjang ingin menggapai tubuh pria itu , ia tidak percaya dengan jawaban pria itu , emosi dalam darahnya begitu cepat meningkat .
" Cukup Anna !" Maxim menangkap tangan gadis itu membuat Anna tidak bisa bergerak terkurung tubuh besar Maxim dan sebuah lemari .
" Aku hanya tidak tahu harus membawamu kemana saat kau tertidur di mobilku , aku tidak punya waktu untuk mendobrak pintu rumahmu , aku terlalu lelah untuk melakukannya .." Maxim menatap kedalam mata biru Anna , nafas gadis itu sudah sedikit tenang . Anna sempat tertegun melihat mata biru Maxim , begitu teduh dan menenangkan .
" Lepaskan aku..!" Anna memalingkan wajahnya , ia tidak mau Maxim melihat pipinya yang memerah . Ia malu pada dirinya sendiri , kenapa mudah sekali ia terbuai pada mata biru itu .
Maxim melepaskan tangan gadis itu , dan melangkah mundur meninggalkan kamarnya . Aroma kopi langsung tertangkap indra penciumannya , Maxim terkejut saat mendapati Jocey ada di dapurnya .
Jocey berbalik dan memberikan tatapan seperti seorang pembunuh padanya . " Kau harus menjelaskannya padaku..?!" Mata Jocey melotot dan tangannya menunjuk arah kamarnya dengan sendok ditangannya .
Maxim memutar matanya , " aku butuh sarapan untuk penjelasan .." Maxim melirik roti Perancis , dan ham yang telah dipanggang diatas meja .
Jocey masih cemberut , ketika Maxim melihatnya dari atas cangkir kopi . " Apa yang kau lakukan padanya ..?" Jocey tidak sabar untuk menunggunya sarapan .
" Kenapa kalian begitu kompak ?" Jocey menatapnya tidak mengerti , lalu memukul tangan Maxim dengan sendok ditangannya .
Maxim meringis , menahan kesakitan , sedang mata Jocey melebar karena marah . " Serius Maxim ! Apa yang terjadi , kenapa sahabatku ada diatas ranjangmu , jangan kau pikir aku lupa bagaimana riwayat kalian dulu !"
" Orang bisa saja berubah Jocey "
" Aku juga tidak lupa kau punya kekasih bernama Julia ..!"
Maxim memutar matanya , " kau pasti tidak melihat gosip hari ini , aku sudah putus dengan Julia .." Maxim mencondongkan tubuhnya kearah Jocey , wanita itu tampak terkejut mendengarnya .
" Akhirnya kau terbebas dari wanita ular itu .." Maxim tampak terkejut , melihat reaksi Jocey .
" Kau tidak pernah berkomentar saat aku bersamanya .."
" Itu karena aku menyayangimu Maxim , aku tidak mau membuat mu sedih dengan pendapat ku .."
Maxim mengangguk setuju , ia senang dikelilingi orang yang peduli padanya tapi tetap menjaga privasinya .
" Jadi apa yang terjadi pada Anna , kenapa ia bisa berakhir di ranjangmu , aku tidak peduli jika itu gadis lain Maxim , tapi ini adalah Anna sahabatku ..."
Maxim menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi , " dengar Jocey , aku menyelamatkannya dari klub tadi malam , dan dia tertidur dimobilku , aku tidak tahu harus membawanya kemana selain kesini , "
Jocey tampak terkejut mendengarnya , setahunya Anna adalah gadis pendiam . Klub malam adalah hal tabu untuk gadis seperti Anna .
" Klub ?? Apa yang terjadi ??" Perasaan cemas Jocey mulai bergejolak . Ia sudah mulai bergaul dengan Anna sejak sekolah dasar , gadis itu adalah penyelamatnya ketika ia sedih dengan amarah Max di masa lalu .
Maxim memandang cemas perubahan mimik muka Jocey , pria itu menggenggam erat punggung tangan Jocey . " Tenanglah , dia baik-baik saja , sudah kubilang aku menyelamatkannya pada saat yang tepat .."
" Aku tidak mengerti , apa yang dia lakukan disana , Maxim aku sangat khawatir padanya .."
" Kau bisa bertanya langsung padanya , bukan hakku untuk memberitahumu .."
Maxim kembali menikmati kopinya , Jocey terdiam mencoba mencerna setiap kata kata Maxim .
" Jadi apa yang membawamu kesini ..?" Maxim mencoba mengalihkan perhatian Jocey , karena gadis itu terus asyik dalam diamnya .
Jocey sedikit tersentak dan Maxim sudah bisa menduganya , begitulah Jocey , selalu terhanyut dengan urusan orang lain . Apalagi jika itu menyangkut keluarganya , bahkan sahabat seperti Anna .
" Hanya ingin mengingatkan mu , jadwal meeting mu dengan Luke hari ini ..."
" Oh jadi kau merangkap menjadi asisten ku sekarang ...?" Maxim menyelipkan sedikit tawa pada ujung kata katanya , membuat Jocey tersipu malu . Mereka tertawa bersama tidak menyadari Anna melangkah ragu dari kamar Maxim .
Anna tidak pernah ingin menganggu kedekatan kedua saudara itu , ia heran bagaimana Jocey bisa begitu cair berada di dekat Maxim . Ia masih ingat betapa bencinya Maxim pada Jocey saat itu , dan Anna lah tempat Jocey selama ini berkeluh kesah . Hingga akhirnya puncak pertengkaran itu membuat Maxim terusir dari rumahnya sendiri . Jocey sangat terpukul karenanya , meskipun Maxim tidak pernah berlaku baik padanya .
Dan sekarang pemandangan dengan Jocey dan Maxim yang terlihat sangat akrab , membuat Anna bertanya tanya .
Langkah Anna terhenti ketika Maxim menoleh dan mengunci tatapannya pada sekujur tubuhnya , kemudian Jocey Juga ikut memindai seluruh tubuhnya , seolah ada hal aneh tubuhnya .
Maxim tidak bisa , tidak memperhatikan gadis itu , penampilan gadis itu sungguh membuat jantung Maxim berdegup kencang . Sepertinya Anna telah selesai mandi , terlihat dari riasan wajahnya yang menghilang , rambut pirangnya setengah basah dan jatuh di punggung dan kedua sisi dadanya . Maxim menelan ludah , kemejanya masih menggantung di tubuh Anna , panjangnya hampir sejajar dengan gaun hitam berkilau nya .
Anna menelan ludah ketika Maxim memandangnya tanpa berkedip , lalu Jocey yang tersenyum padanya . " Aku akan pulang , terima kasih untuk tadi malam , dan... kemejanya aku akan mengembalikannya setelah mencucinya nanti ..." Anna meremas tangannya sendiri , tidak tahu bagaimana ia harus pulang , tas , dompet dan kunci rumahnya tertinggal di klub .