
" Pamanmu bahkan datang dan membawa senapannya , kerumahku .." Anna melirik sahabatnya .
" Serius ?!" Mata Jocey melotot dia bahkan sampai meremas tangan Anna .
" Ya dia pikir rumahku kedatangan perampok .." Anna menoleh dan tersenyum pada Jocey , kemudian mereka tenggelam dalam tawa bersamaan . Membayangkan ekspresi Maxim yang ditodong senjata oleh ayahnya sendiri .
" Bisa kau bayangkan , ekspresi wajah sepupumu itu ..." Anna tidak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya karena ia sudah tersedak tawanya sendiri .
" Ya dia pasti seperti kepiting rebus ..." Jocey bergabung dengan tawa geli Anna .
Mereka telah pindah ke lantai atas menikmati matahari pagi dan indahnya sungai Daleware River diatas dek kayu yang luas .
" Aku selalu membayangkan seperti ini " Jocey menutup matanya dibalik kacamata hitamnya , sedang Anna mengamatinya sambil meneguk jus jeruk yang mereka buat tadi . " Menikmati indahnya pagi , disini , denganmu .." Jocey menoleh dan sekarang matanya sudah berkaca-kaca , hormon yang kacau .
Anna terharu lalu memeluk sahabatnya dalam kehangatan , " aku juga merindukanmu Joce ..." Mereka tenggelam dalam keharuan sejenak .
Tapi buru buru melepaskannya dan mengusap air mata di matanya , " ok cukup , tidak ada menangis untuk hari ini . "
Anna mengangguk dan tersenyum dalam tangisnya , ia setuju tentang itu .
Mereka kembali menikmati kursi santai , menikmati setiap cahaya matahari yang menerpa wajah mereka . " Kenapa kau tidak coba memberinya kesempatan .." gumam Jocey sambil menutup matanya .
" Kesempatan apa ?"
" Kesempatan Maxim untuk menjadi pacarmu .."
Anna mendengus , jelas tidak setuju dengan pendapat Jocey . " Apa kau gila ? Maxim adalah ketakutan terburukku , dia itu ******** , kau tahu dia seperti apa , tidak ada kesempatan baginya !" Jocey meringis melihat amarah Anna pada sepupunya , sebenarnya itu bukan salah Anna jika Maxim adalah kenangan terburuknya .
" Maaf aku sudah mengatakan hal buruk tentang sepupumu .." Anna menyesal dan mengunyah bagian dalam pipinya karena gugup .
" Aku tahu , Anna . Tidak apa-apa , tapi dia sudah menciummu , Maxim tidak pernah sembarangan mencium wanita "
" Yah aku rasa dia juga tidak sembarang mencium setiap gadis di SMA .." Anna melemparkan nada sarkasme .
" Itu dulu Anna . Maksudku lihatlah aku . Dulu dia bahkan sangat jijik melihatku , sekarang dia bahkan sangat menyayangiku .."
" Ya aku penasaran bagaimana itu bisa terjadi , dulu kalian seperti air dan minyak .."
" Aku menyelamatkannya , dia hampir saja mati di Seattle . Ayah tirinya menusukkan belati di pinggangnya , lalu membuangnya begitu saja di jalanan . Tom berharap Maxim mati dijalanan saat itu ..". Tenggorokan Anna seperti tersendat , ia tidak pernah membayangkan kejadian buruk itu pernah dialami Maxim . " Dan ibunya tahu soal itu , tapi Donna bahkan tidak menyelamatkannya "
Anna hampir saja menitikkan air mata , ia cepat membuang mukanya kesamping . Ia tidak ingin Jocey memergokinya sedang meratapi kisah hidup Maxim . " Kenapa kau menyelamatkannya Jocey , dia bahkan sudah berlaku buruk padamu sepanjang waktu ..?"
Jocey terdiam sejenak ." Aku berdamai Anna , aku tidak mau kebencian terus menguasai ku , lagi pula , bagaimanapun juga dia adalah saudara ku ..."
" Yah dia mungkin punya alasan untuk tidak menyakitimu lagi , tapi bagaimana dengan aku ? Aku tidak melakukan apa-apa untuknya , bisa saja dia hanya sedang bermain-main dengan ku .." ada nada bimbang dan sedikit ketakutan dalam suara Anna . Jocey bangkit dari sandarannya dan menggenggam erat tangan Anna .
" Anna , ini bukan karena aku sepupunya . Tapi aku yakin jika Maxim sudah sangat berubah .." Anna terdiam dengan mendengar kata-kata Jocey , meskipun sebenarnya omongan Jocey sedikit mempengaruhinya .
" Tapi semua itu terserah padamu Anna , kau berhak menentukan pilihan .."
_________
Begitu matahari sedikit meninggi , mereka menghabiskan waktu di dapur , membuat beberapa cemilan manis dan lasagna keju untuk makan siang . TV besar yang bertengger di dinding ruang keluarga menemani canda tawa mereka . Tapi ada yang menarik di dalam tayangan tv , Jocey buru buru meraih remote tv dan mengencangkan volumenya . Wajah Maxim berkelebat di layar televisi , " Anna lihat ini Maxim " Anna pura pura tidak menoleh dan lebih fokus pada adonan cupcake ditangannya .
" Oh my God , itu Julia !" Nama Julia membuat Anna otomatis mendongak karena penasaran . Ia ingin tahu seberapa cantik wajah gadis itu , bagaimana bisa Maxim bisa pacaran dengan Julia.
Anna menahan nafasnya , Julia adalah wanita yang cantik menurut Anna . Gadis itu seksi dan berkelas , dan sedikit angkuh sepertinya . Julia datang dengan wajah merah karena marah . Wanita itu mengungkapkan sumpah serapah di depan wajah Maxim , bahkan hampir saja Julia menampar wajah Maxim . Tapi Maxim sigap menangkisnya.
" Kau keparat ! Karirku hancur karena mu ! " Sembur Julia di depan wajah Maxim , Maxim hanya diam , sementara para paparazi sibuk mengerubungi mereka .
" Apa karena gadis itu kau melupakanku !" Sembur Julia lagi , dan kali ini Jocey menoleh padanya . Anna rasa Jocey punya firasat kalau gadis yang dibicarakan Julia adalah dirinya , tapi Anna menampiknya . Ia tidak lah sepenting seperti selebriti Julia .
" Dengar Julia ! Anna tidak ada hubungannya dengan semua ini ! Kau yang tidur dengan laki laki lain , jangan melemparkan kesalahan mu padanya ! "
Bukan hanya orang-orang di televisi itu yang melotot , Jocey bahkan berteriak sangat nyaring . Dan Anna ingin pingsan saat itu juga . Paparazi mulai menggila , menyerbu siapa Anna ! Dan Julia berteriak histeris mengutuk Maxim dan nama Anna . Maxim mengabaikannya , pria itu menghilang di balik mobil hitamnya . Sejumlah bodyguard menghalangi paparazi yang menggila , agar mobil Maxim bisa segera pergi dari sana .
Tayangan televisi berubah menjadi iklan dan Jocey menoleh padanya , gadis itu seperti sudah memenangkan sebuah taruhan , wajahnya berseri senang .
" Anna ..!"
Anna berpaling , " aku butuh ke kamar mandi " Anna berlari sempoyongan menghilang di balik pintu yang ditutup keras .