
Pria itu menyetir seperti setan , ia menyalip beberapa mobil . Lampu jalanan tertinggal dengan cepat di belakang , dan ia tidak tahu mereka sedang berada dimana .
Kesadaran yang tadinya hanya setengah sadar , kini telah sadar sesadar sadarnya . Dan jelas Anna sangat marah , karena siapa yang sedang menyetir di sebelahnya . Maxim , kenapa laki laki itu selalu muncul di setiap harinya . Tidak bisakah pria itu mengerti jika Anna tidak menyukai kehadirannya , kehadiran Maxim jujur membuat hatinya seperti sakit jiwa .
" Kenapa aku ada di mobilmu !" Anna melotot ngeri pada Maxim , tapi pria itu hanya meliriknya .
" Karena kau butuh tumpangan ." Jawab Maxim santai , padahal Anna yakin pria itu berusaha mati matian fokus pada jalanan . Kadang kadang Maxim melirik waspada kearah kaca spion .
" Berhenti sekarang juga , aku mau turun !" Maxim mendengus marah , pegangan tangannya dikemudi mengencang dan otot rahangnya mengeras .
" Tidak sekarang Anna , tidak tahukah kamu aku sedang berusaha mengeluarkan kita dari kejaran paparazi gila itu ?!" Maxim menoleh kebelakang , paparazi gila itu masih cukup dekat untuk mengejar mereka .
Praktis Anna ikut menoleh , matanya melotot menyadari keadaan genting mereka . Dua mobil dengan cahaya menyilaukan membuntuti gerakan mereka .
" Jangan terlalu lama , menoleh kebelakang , mereka bisa memotret wajahmu " Maxim memperingatkannya . Anna cepat berbalik dan memegang seat belt nya erat . Tangannya bersentuhan dengan bahan Hoodie yang halus dan hangat , seingatnya ia memakai kaos dan kemeja tadi sore . Anna menyadari Hoodie itu bukanlah miliknya , dan bau Hoodie itu serupa dengan aroma tubuh Maxim.
" Pakaian siapa ini ! " Anna menarik narik Hoodie itu ditubuhnya , saat tangannya hendak menyentak penutup kepalanya . " Bagus , buka Hoodie itu ! Maka besok wajahmu akan terpampang di sampul majalah !"
Anna menutup matanya , jari jarinya erat memegang Hoodie itu . Maka ia lebih memilih melekat bersama jaket harum maskulin itu , dibandingkan wajahnya beredar di media massa . Shit ! Kenapa hal ini selalu terjadi padanya , berdekatan dengan Maxim saja sudah membuatnya sport jantung . Dan sekarang ia harus memakai baju pria itu , yang jelas saja itu kebesaran , badan Maxim menjulang tinggi di banding dirinya .
" Ini salahmu ! Seharusnya aku tidak berada di mobilmu " Anna mendesah , mengusir detakan jantungnya yang tidak menentu . Ia kuatir dengan kondisi jantungnya akhir akhir ini , mereka berdetak terlalu cepat menurutnya . Adrenalin nya terpacu cukup cepat , dan Anna sangat gelisah .
" Aku tidak menyesal " Maxim melirik malas , Anna mendengus dan semakin terpancing emosinya . Tidak pernah ia menemukan pria menjengkelkan dan percaya diri terlalu over .
" Ya sudah kuduga , kau juga pasti tidak menyesal saat orang orang membicarakan dosa yang tidak pernah aku lakukan !"
Maxim tahu maksud gadis ini , dan ia tidak pernah merencanakan akan melontarkan nama Anna ditengah tengah para paparazi dan si iblis betina Julia . " Aku tidak pernah merencanakan itu Anna , aku bersumpah !"
Anna tertawa sinis ," aku tidak akan pernah lagi percaya sumpahmu !" Karena ingat terakhir kali ia mempercayai sumpahnya , yang ia dapatkan hanya kepedihan .
Buku buku jari Maxim mengetat di stir kemudi , dan merasa terintimidasi . " Kenapa kau selalu mengungkit masa lalu , aku sudah memohon maaf padamu ! "
" Lalu aku harus apa ?! Menyambutmu dengan suka cita?! kata maaf itu mudah ! Tapi kau melukaiku cukup dalam , aku tidak bisa melupakan itu ..." Maxim tegang saat gadis disebelahnya mulai tenggelam dalam tangisnya , ia tidak pernah menginginkan ini . Ia sudah bertekad untuk tidak membuat Anna menangis , tapi kenapa ini begitu sulit ?
Mobil paparazi gila itu sudah tidak terlihat lagi , Maxim merasa lega dan menepikan mobilnya . " Anna dengar aku minta maaf atas semuanya , tidak peduli jika kau tidak percaya padaku . " Maxim berusaha menyentuh punggung Anna , tapi gadis itu menyentaknya .
" Anna please , jangan buat ini menjadi sulit . "
" Kau yang mempersulit ini , berhenti berusaha untukku ! Aku tidak menginginkan mu !" Anna menantang mata Maxim dengan mata merah berairnya .
Maxim tidak pernah merasa sekalah ini , hatinya hancur saat itu juga . Tangan dan mulutnya seakan terkunci , saat gadis itu melucuti sabuk pengamannya meluncur keluar dari mobilnya dari perlindungannya . Tidak ada yang bisa dilakukan Maxim ketika gadis itu menyetop taksi dan meluncur meninggalkannya .
________
Dua gadis itu tampak kesal berdiri di depan pintunya , seperti datang kerumahnya adalah kutukan . Yah ana harus ekstra menutupi kantung mata hitam menggunakan consealer , setelah semalaman ia menangis tak menentu . Anna merasa sakit setelah meninggalkan Maxim malam itu , tapi itulah yang terbaik . Mereka tidak akan pernah berhasil jika bersama , selain karena masa lalu mereka yang tidak baik , ia merasa tidak bisa mengimbangi status sosial Maxim . Anna hanya gadis biasa sementara Max model papan atas yang dipuja banyak wanita .
" Kau menyebalkan Anna , berapa lama kami harus menunggumu ?" Sarah menghentakkan kakinya kesal , sementara Natalie menyikut lengannya .
" Sorry aku kesiangan pagi ini ," Anna membuka pintunya lebar lebar , membiarkan dua gadis itu melewatinya . Kepala mereka menatap kesegala arah , Anna yakin rumahnya terlalu sederhana dibandingkan milik mereka berdua .
Tapi Anna tidak peduli , jika mereka tidak nyaman berada di rumahnya , mereka bisa keluar saat itu juga . Toh mereka lah yang membutuhkan bantuannya .
Sarah dan Natalie langsung merosot kemeja ruang tamu Anna begitu proyek itu selesai ditanganinya . Anna hanya tersenyum lalu berlalu kedapur mengambil beberapa cupcake yang telah selesai ia panggang , bagaimanapun juga mereka adalah tamunya .
" Oh my God !!" Itu suara Sarah , Anna sangat mengenalnya . Suara gadis itu melengking seperti melihat sesuatu yang ganjil atau hantu , Anna berlari ke ruang depan . Dan pintunya sudah terbuka lebar , Natalie dan Sarah berdiri menganga didepan tubuh seorang pria . Selanjutnya lengkingan kedua tamunya itu mungkin menggema ke seluruh komplek .
Hati Anna berdebar pria itu datang lagi , bahkan setelah penolakan kasarnya .
" Oh my God oh my God , Anna ! Maxim Lockwood mendatangi rumah mu , oh Maxim bisakah aku foto dengan mu ..?" Sarah berteriak histeris ia sibuk mondar-mandir mencari letak ponselnya , dan gadis itu seperti gadis gila yang kehilangan permen kesukaannya . Natalie pun tak kalah kagetnya , gadis itu langsung memeluk Maxim dan mengambil potret mereka berdua .
Pria itu terlihat gugup , tapi ia berusaha tersenyum kepada dua gadis yang tidak dikenalnya . " Ok , satu gadis satu foto ok ! " Sarah cemberut kecewa , tapi gadis itu tidak kehabisan akal.
" Bisakah kau memberiku tanda tangan mu , " tanya Sarah .
" Aku juga ," Natalie ikut maju .
" Tentu , berbalik lah aku akan menandatangani punggung kalian ."
Anna cukup diam memandangi mereka bertiga , dan Anna tidak bisa berpikir lagi saat Sarah menaikkan blouse nya dan menampilkan payudara dibalik bra nya . Anna ingin muntah saat itu juga , ia berbalik tidak mau menjadi saksi kejadian itu , ia muak .
" Berikan itu di bra ku .." mulut Maxim membentuk huruf o kecil , Jika ia menolak ,bisa jadi dua gadis ini akan jadi Boomerang untuknya . Mungkin saja gadis ini akan memakinya di media sosial atau massa . Tanpa berpikir ia membubuhkan tandatangan nya di kedua bra gadis itu , mereka tampak senang , tapi jujur Maxim bahkan tidak memperhatikannya . Matanya sibuk mengawasi Anna , ia bersyukur gadis itu selamat sampai rumah . Semalam ia sengaja membuntuti taksi gadis itu dari jauh . Dan ketika pagi tadi ia ingin kembali ke penthouse nya , ponsel Anna tergeletak di atas jok mobilnya .
" Um Anna , ini ponselmu " tangan Maxim terulur antara dua teman Anna , Anna menerimanya ragu ragu . Pria sialan ini , pasti besok kampusnya atau bahkan media sialan akan ramai karena hal ini . Matilah ia , Sarah dan Natalie adalah ratu gosip . Dan kejadian ini tepat berada di depan mata mereka .
" Tunggu , kenapa ponsel Anna ada padamu , sialan apa kalian berkencan ?!" Sarah menjerit histeris .
" No!" Anna tak kalah kuatnya menjerit , ia tak mau terjadi kesalahpahaman disini .
" Jangan jangan , Anna yang kau sebut itu Annabelle Hunt ?" Natalie melotot dan menunjuk Anna , seolah Anna adalah seorang tersangka .
Anna menggeleng , sekuat tenaga ia mencegah air matanya turun . Ia melirik Maxim dan memohon melalui matanya , pria itu tertegun melihatnya .
" Iyakan ?!" Sarah menunggu jawaban Maxim , dan pria itu tersentak .
" Tidak ," Maxim tersenyum seramah mungkin pada dua gadis didepannya ." Anna yang ku maksudkan bukan dia , lagi pula aku tidak akan berkencan dengan sepupu ku sendiri , ya kan Anna ?" Maxim mengangguk padanya , Anna ikut mengangguk dengan gugup . Sepupu ? Kenapa kebohongan itu begitu pahit untuk mereka berdua .