Maximilian's Love

Maximilian's Love
Bab 28



Anna menepati janjinya malam itu , ia berdiri menatap ranjang king size yang tertutup bed cover katun warna abu-abu . Temboknya pun berwarna senada , tak ada hiasan apa pun disana kecuali sebuah lukisan abstrak yang tidak Anna mengerti .


" Ini kamarku ?" Tanya Anna saat Maxim membawa koper besarnya , sementara Anna memegang satu buah kotak dus sedang di tangannya .


Maxim mendekat dan mengendus rambut dilehernya , membuat Anna merinding karenanya . " Kamar kita lebih tepatnya ." Setelah mengucapkan itu Maxim membuka sebuah lemari besar sebagian sudah ia kosongkan untuk seseorang kelak , dan itu ternyata Anna .


" Apa ?! Kau tidak bercanda kan ?! Kita tidak mungkin sekamar ?! Aku mau kamar lain ?!" Anna merebut kopernya dari tangan Max dengan paksa dan kesal . Maxim hanya menanggapinya dengan tersenyum .


" Kau mau tidur di gym ku atau ruang kerjaku ?" Anna menoleh ketika Max berseloroh santai , pria itu terlihat tampan segar dalam balutan kemejaΒ  berwarna biru tua .


" Apa?!" Pria ini bercanda kan ?


" Tidak ada kamar lain , sayang . Hanya ini satu satunya kesempatan mu ." Maxim menunjuk ranjangnya dengan gerakan kepala . Sementara Anna mendesah frustasi .


" Aku masih ingat ada yang merengek minta ditiduri tadi ..." Anna mengakui kebodohannya , untuk apa tadi ia berucap hal menjijikkan seperti itu . Anna mengacak rambutnya frustasi sementara ia tidak menyadari Maxim sudah berdiri tepat di hadapannya . Pria itu menatapnya sendu , lalu perlahan-lahan mendekatkan wajahnya .


Oh my God , apa laki laki ini akan menidurinya saat ini juga ? ? Lari Anna !! Anna berusaha memerintah dirinya sendiri tapi sepertinya tubuhnya kaku seperti tertanam di ruangan itu . Wajah Maxim semakin mendekat dan Anna bisa merasakan dengan jelas deru nafasnya diwajahnya . Anna memejamkan matanya , bersiap untuk hal yang akan terjadi selanjutnya . Ini semuanya adalah keinginannya , bukan salah Maxim jika pria itu akhirnya tergoda .


Satu detik dua detik , Anna menunggu bahkan hingga satu menit berlalu , bibir Maxim tidak juga menyentuhnya . Tidak ada lagi deru nafas Maxim yang ia rasakan , lalu ia mendengar suara koper besarnya diseret menjauh .


" Sayang , sebaiknya kau mandi wajahmu sudah seperti kepiting rebus .." Anna membuka matanya dan demi apapun Anna sangat malu . Maxim berdiri di depan lemari besarnya sambil tersenyum cekikikan . Sialan pria itu mengerjainya , Anna memegang wajahnya dan segera berlari ke kamar mandi .


Setelah membanting pintu dan mendekap jantungnya yang berdegup kencang , Anna bisa mendengar suara tawa Maxim . Awas saja , Anna pasti akan membalasnya nanti . Anna mengatur nafasnya lalu matanya berkeliling melihat interior kamar mandi yang terlihat modern dan besar . Kamar mandi ini bahkan seukuran kamar tidurnya .


Sebuah bath up berukuran besar membentang diujung ruangan , Anna menahan nafasnya . Ia selalu bermimpi bisa berendam air hangat di dalam bath up yang penuh busa . Tangan Anna bergerak perlahan meneliti bath up mewah nan mengkilat itu , ada banyak shampo dan sabun berjejer diatasnya . Tapi sayangnya semuanya beraroma laki laki , ok baiklah untuk saat ini saja ia memakai shampo dan sabun milik Maxim . Anna mencoba berdamai dengan dirinya sendiri , sementara tangannya sibuk mengisi air hangat dan mencampurnya dengan cairan sabun yang berbau maskulin . Baunya tidaklah buruk , Anna bisa memakluminya .


Dengan tidak sabar Anna menanggalkan pakaiannya , lalu bergabung dalam air penuh busa . Rasanya sungguh menyejukkan , ia bisa melupakan sejenak kehidupan di luar sana . Air hangat itu seperti memijat seluruh tubuhnya yang terasa lelah , sementara bau sabunnnya menyegarkan penciumannya . Anna begitu terbuai hingga ia tidak menyadari seseorang masuk kedalam kamar mandi dan mendekatinya .


Laki laki itu terlihat takjub , ia tidak memungkiri jika kini nafsu birahinya sedang bergejolak . Gadis itu terlihat sempurna , rambutnya dicepol asal keatas hingga beberapa anak rambut yang nakal menjulur indah di sepanjang leher jenjangnya . Maxim tidak pernah melihat leher seindah porselen seperti milik Anna , keindahannya di sangga oleh tulang selangka menyebar disekitar pundaknya , dan kedepan sedikit pay*d*r*nya membusung sempurna tapi sayang setengahnya tertutup air dan busa .


Maxim berdehem untuk membersihkan tenggorokannya dan kegugupannya , Anna membuka matanya dan gadis itu kaget bukan kepalang . Anna membawa seluruh tubuhnya merosot kedalam hangatnya air , hingga hanya hidung dan matanya saja yang terlihat .


Maxim tersenyum lalu menaruh sebuah bathrobe berwarna putih disamping bath up . Pria itu berusaha terlihat biasa sementara jantungnya memacu adrenalin dan miliknya menggeliat dari tidurnya .


Hampir satu jam menghabiskan waktu di kamar mandi dan mengganti bajunya . Sebenarnya ia bukanlah tipe wanita yang suka berlama-lama di kamar mandi . Tapi keadaan lah yang memaksanya , ia sibuk menerka nerka dan menata dirinya yang dilanda minimnya kepercayaan diri .


Aroma harum bawang menerpa hidung Anna begitu ia keluar kamar , Maxim dengan begitu seksinya sedang menguasai dapur . Laki laki itu terlihat menawan dengan kemeja yang lengannya tergulung hingga kesiku , Maxim yang sedang membelakanginya akhirnya menoleh . Aroma sabun Maxim yang bercampur dengan tubuh Anna adalah perpaduan yang sempurna , wanginya sangat seksi .


Anna maju perlahan , meremas ujung kaosnya yang jatuh diatas lutut dan dibarengi dengan celana boxer tidurnya . Maxim tersenyum dan mempersilahkannya bergabung dengannya , Anna mengambil kursi disebrang Maxim . Aroma harum spaghetti dan ayam goreng mentega tersaji dan mengepulkan asap panas di depannya . Anna menelan ludahnya tanpa sadar , sepertinya ia sudah kelaparan , berendam terlalu lama membuat perutnya keroncongan .


" Buka mulutmu , aku tahu kau sangat kelaparan .." Anna cemberut saat Maxim menyendokkan spaghetti dan ayam di depan mulutnya .


" Aku bukan orang cacat , aku bisa makan sendiri Max ..."


" Siapa yang bilang kau cacat , mulai sekarang aku yang akan mengurusmu , untuk malam ini kita mulai dari perutmu ." Anna terpaksa menerimanya dengan tatapan mata jengkel ,lalu ia mengambil sendok dan menyodorkan makanan seperti yang dilakukan Max .


" Jangan ikut ikutan babe , kau dulu yang harus makan .." Maxim berusaha menolak suapan dari Anna .


" Buka mulutmu atau aku juga tidak akan mau makan !" Anna mengancam .


Tapi Max justru tertawa sebelum akhirnya membuka mulutnya dan mengunyah makanannya . " Kau terlihat sangat cantik jika sedang memerintah .." goda Maxim dan hal itu praktis membuat Anna merona .


" Dasar gombal !" Tuduh Anna sambil mengunyah makanan pemberian kekasihnya . Kekasih ? Oh my God , Maxim adalah kekasihnya saat ini , dan Anna bahkan baru menyadarinya sekarang . Lamunan dan keterkejutan itu membuat Anna tersedak dan hampir saja memuntahkan makanannya . Sebelum Maxim sigap menepuk punggungnya dan menyodorkan segelas air putih .


" Itulah karma , makanya jangan suka mengatai pacarmu saat sedang makan .." Maxim memarahinya tapi ekspresi wajahnya sungguh sangat lucu dan romantis . Membuat Anna tidak tahan untuk tertawa bahagia , dan oh my God Anna sangat menyayangi pria ini . Tuhan tolong jangan bangunkan , jika ini hanya mimpi .



Ini Anna ya guys



**Dan kira kira Maxim seperti ini , maaf ya kalau gambar Maxim nya berubah ubah . karena saya orang yang sangat labil , mudah kepincut πŸ˜‚πŸ˜


Gambar hanya ilustrasi ya , jangan baper 😘😘**