
" Tidak seperti yang kau bayangkan Brad ," Maxim mendesah , merapikan rambutnya yang berantakan karena tertidur di sofa rumah sakit . Anna terlelap di sebelahnya dengan jarum infus menancap di pergelangan tangan kanannya .
" Apa yang terjadi , Max . Aku harap itu bukan sesuatu yang serius ." Ketika Brad mengucap kata serius , Maxim teringat David dan Bill yang ia tinggalkan tergeletak di dekat halte .
" Aku rasa sedikit serius , aku baru saja berkelahi dengan Bill dan David , aku rasa mereka masih ada di halte depan ..."
" Kenapa kau mencari masalah dengan mereka " jujur Brad juga tidak suka dengan dua begundal itu , tapi Brad lebih tidak suka jika adiknya kembali berkelahi . Karena itu mengingatkan pada rasa frustasi adiknya pada ibu mereka .
Maxim menarik rambutnya karena sedikit frustasi , ketika ia mengendarai truck pickupnya dua ******** itu sedang menindih seorang wanita di atas rerumputan basah tepat disamping halte yang gelap . Dan ia tidak menyangka jika wanita itu adalah Anna , gadis yang sudah beberapa Minggu ini ia hindari . Hati Maxim sedikit hancur saat itu , gadis yang disukainya tergeletak tak berdaya dengan baju yang sudah koyak . Seketika emosinya meluap dan ia tidak menyadari jika dua lawannya sudah tumbang dan pingsan . Jika saja ia tidak teringat pada kondisi Anna yang mengenaskan , mungkin ia sudah menghabisi di ******** itu dengan tangannya .
" Mereka hampir saja memperkosa Anna , Brad , kau tidak tahu . Keadaannya sangat mengenaskan saat aku menemukannya ..." Maxim tertunduk lesu , kemarahan dan kesedihan menjadi satu . Ia tidak bisa membayangkan jika ia terlambat datang sedikit saja , entah apa yang terjadi pada gadis itu . Mungkin Maxim tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri .
" Sialan , dua keparat itu ! Bagaimana keadaan Anna ?" Nada cemas juga ada dalam suara Brad .
" Dia baik baik saja , setidaknya fisiknya . Selain trauma , ada obat perangsang dalam darahnya , Anna sangat berantakan Brad , dia hampir saja memintaku menidurinya ." Maxim mengucek matanya , yang masih merasa kantuk .
" Mereka keterlaluan Max , kita tidak bisa membiarkan ini . Mereka mencekokinya obat perangsang lalu mau memperkosanya ?!" Ada nada marah yang meluap-luap dalam suara Brad , dan Maxim bisa menangkap itu . Sebenarnya ia juga tidak yakin jika Bill dan David yang mencekoki Anna obat perangsang . Jika iya untuk apa mereka memperkosanya di pinggir jalan yang bisa ditemukan siapa pun .
" Aku tidak yakin tentang itu Brad , tapi kita akan menyelidikinya . Aku sudah menghubungi pengacaraku , dia akan mengurus semuanya ."
" Ok , kalau begitu . Apa kalian membutuhkan sesuatu , aku bisa kesana jika kamu mau ."
" Tidak perlu , aku bisa menangani disini . Cukup bilang saja pada Dad , kalau Anna baik baik saja ."
" Kau yakin ?"
" Yeah , aku hanya butuh kopi saat ini , " Maxim mengusap wajahnya sekali lagi , turun kebawah untuk mendapatkan kopi sepertinya ide yang bagus . Ia bisa menelpon pengacaranya , setelahnya . Memastikan Bill dan David sudah mendekam dalam penjara .
Maxim berdiri setelah mematikan ponselnya , dipandanginya wajah Anna sekali lagi . Bibir gadis itu sedikit bengkak dan berdarah di sudutnya , ia menyesal Anna harus mengalami hal ini .
" Anna , aku akan kebawah untuk mendapatkan kopi , sementara kau akan tidur nyenyak disini " Maxim berbisik di telinga gadis itu , seolah Anna bisa mendengarnya . Padahal ia tahu jika saat ini pastilah Anna tidak bisa mendengar bisikannya , karena dokter sudah memberinya suntikan obat penenang . Setelah berbisik pada Anna , Maxim mencuri ciuman lembut di kening Anna . Dan saat ia akan berbalik , Anna menangkap pergelangan tangannya .Maxim yang mengira Anna tengah tertidur lelap , sempat merasa akan melompat jantungnya .
" Max , jangan tinggalkan aku lagi , aku mohon _____aku kesepian Max ____" gadis itu merintih dan menangis dalam tidurnya , dengan mata yang masih tertutup rapat .
" Anna .." Maxim bersimpuh di dekat gadis itu , menggenggam tangannya erat-erat dan menciumnya bertubi tubi . Gadis itu masih tetap terpejam dan merintih , hingga Maxim harus mendekapnya erat erat , barulah gadis itu terdiam dan kembali tidur tenang .
_______
Anna mengira mungkin ia akan terbangun dalam keadaan telanjang dan nyeri pada bagian kewanitaannya . Ia memang tertidur dalam pelukan Maxim , mencium aroma maskulin pria itu , dengan seragam rumah sakit melekat di badannya . Kepalanya beralaskan lengan kokohnya , dan mereka berdesakan diatas ranjang yang sempit . Belum lagi lengan kanannya yang tertancap jarum infus terasa nyeri ketika ia menariknya .
Dan ketika ia ingin bergerak sedikit menjauh dari pria itu , bunyi dering ponsel yang nyaring mengagetkannya . Apalagi tidak lama setelahnya Maxim terbangun dan menggapai ponselnya , jantung Anna sekarang berpacu sangat kencang , apakah ia harus kembali pura pura tertidur .
" Hm , Angela ?" Anna bisa merasakan hembusan nafas pria itu , dari sini . Dari bawah dagu pria itu , dagu yang sedikit kasar karena belum bercukur .
" Ya aku tahu , jangan lupa bawakan sesuatu untuk Anna pakai ." Suara Maxim lagi , kemudian pria itu melempar ponselnya ke sofa disebelah ranjang mereka . Dan yang tidak pernah Anna duga , Maxim berbalik padanya dan menanamkan ciuman lembut di keningnya . Hati Anna meleleh seketika , dan ia memejamkan matanya rapat rapat , berharap ini bukanlah mimpi belaka .
" Anna ? Kau sudah bangun ?" Tidak cuma Anna , Maxim pun terlihat kaget saat Anna membuka mata . Mungkin pria itu pikir , Anna masih tidur .
" Matamu berkedut saat aku menciummu .." mata Anna berkedip sekali lagi , apa ia melakukan itu ? Oh itu sangat memalukan . Anna susah payah bangun dari tidurnya , menyembunyikan semburat merah di pipinya .
" Aku harus ke kamar mandi , " Anna meringis saat akan turun dari ranjang , ia lupa jarum infus itu telah membatasi pergerakannya .
" Biar aku membantumu .." Maxim memutari ranjang dan mulai membuka jarum infus itu , apa itu tidak apa . Cairan infus memang sudah kosong sejak tadi , tapi Anna tidak tahu apakah itu boleh dilepas .
" Jangan khawatir , suster bilang kau sudah tidak membutuhkannya lagi " meski tangan Maxim sangat terampil , tapi rasa menyengat itu masih ada ketika perlahan tusukan jarumnya ditarik .
" Maaf , Anna . Aku bukan dengan sengaja menciummu , tapi kau yang memintanya .." Anna sejenak termenung , saat pandangan mereka menyatu , Anna kembali merona . Karena betapa tampannya Maxim pagi itu , dan jujur ia juga menikmati ciuman lembut tadi .
" Aku ?" Anna tidak yakin jika ia yang memintanya .
" Lupakan saja , kamu pasti lupa " ada nada kecewa dari suara Maxim , dan Anna sedikit menyesal karenanya .
" Um , aku akan ke kamar mandi " Anna menunjuk kamar mandi dengan kikuk . Maxim mengangguk .
" Apa kau mau aku membantumu ," Anna menoleh tidak percaya . Oh my God , pria itu ingin membantunya dikamar mandi ??
" Panggil aku jika butuh bantuan " karena Anna hanya melongo akhirnya Maxim menyerah dan duduk di sofa .
________
Ketika Anna kembali dari kamar mandi , Angela ada dalam ruangan nya . Wanita itu duduk di salah satu sofa menghadap Maxim , Anna sungguh kagum padanya , Angela sangat cantik dalam setelan baju kerjanya . Apa mereka hanya sebatas rekan kerja , Jocey bilang jika Angela bahkan sudah bertunangan . Tapi siapa pun yang melihat pasti akan salah sangka , karena begitu dekatnya mereka .
" Hai Anna , " sapa Angela saat wanita itu menoleh padanya , keadaan Anna saat ini pastilah sungguh jauh dibandingkan Angela , wanita sangat perfect sementara dia pucat seperti hantu .
Tapi Anna berusaha tersenyum ," oh hai "
" Kemari Anna aku membawakan mu teh chamomile ..." Angela menyerahkan sebuah termos mini berwarna merah dan masih sangat hangat .
" Terima kasih " Anna melirik, Maxim dan Angela juga memegang minuman mereka sendiri , dua buah kopi Starbucks .
" Bagaimana perasaan mu ?" Anna melirik dari cangkirnya ketika Angela bertanya padanya .
" Aku _ baik " Anna menatap cangkir teh diatas pangkuannya , kembali teringat kejadian tadi malam membuat Anna gemetar . Seketika air matanya menetes dan Anna tidak menginginkan itu .
" Sstt , its ok Anna . Kamu tidak perlu membicarakannya .." Angela beralih duduk disebelahnya diatas ranjang , wanita itu menepuk punggungnya saat Anna terisak di bahunya . Angela melihat raut wajah Maxim yang terlihat mengeras , ia tahu pria itu marah , entah pada siapa .
" Anna , jika kamu butuh bicara dengan seseorang , kami bisa mencarikan terapis terbaik untukmu " Anna mengangkat wajahnya , ia cepat cepat menggeleng dan mengusap anak sungai di wajahnya .
" Tidak , tidak . Aku tidak apa-apa , aku hanya butuh istirahat . "
" Anna , kamu tidak terlihat baik baik saja . " Maxim mengetatkan rahangnya , gelas Starbucks tampak mengerut di genggamannya .
" Sudah kubilang tidak !" Anna menjerit dan menutup matanya ketika ia menangis lagi. Bayangan ******** itu menciumnya , merobek kemejanya membuat Anna mual dan ingin muntah .
" Aku akan membiarkan kalian bicara berdua ok , " Angela yang merasa canggung berada diantara dua orang itu akhirnya mengambil tas tangannya dan menghilang di balik pintu . Maxim berdiri dan menyentuh pundaknya .
" Tenang ok , kami hanya ingin membantumu Anna "
" Aku tidak gila Max , jangan paksa aku menemui siapa pun !" Anna masih berusaha menguasai dirinya dan kembali mengenyahkan banjir air mata di wajahnya .
" Siapa yang bilang kau gila ?!" Terlihat ada marah dari nada suara Maxim , dan Anna ngeri mendengarnya .
" Dengar Anna , aku tahu aku bukan siapa siapa , aku kau juga tahu , kau tidak menginginkan ku , tapi aku peduli padamu Anna , aku ingin ..."
" Berhenti ! Berhenti mengingatkanku itu ! Aku tahu _ aku bilang ingin kau pergi ! Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku _lalu aku kesepian dan pergi ke pesta terkutuk itu !" Padahal Anna sudah berjanji untuk tidak menangis lagi , tapi kini ia kembali menangis karena teringat hari harinya yang menyedihkan setelah konferensi pers .
" Apa maksudmu Anna ?" Maxim tidak tahu apa maksud kemarahan gadis didepannya ini , ia pikir selama ini hanya dialah yang kesepian dan tersiksa sejak teriakkan Anna malam itu , dan ingin ia pergi dari kehidupan gadis itu .
" Aku_aku tidak ingin_tolong jangan menjauh dari ku " Anna menunduk dan menatap telapak tangannya yang gemetar .
" Katakan sekali lagi Anna , aku bersumpah jika kau mengatakannya sekali lagi , aku akan menciummu saat ini juga " Anna mendongak dan menatap kedalam mata biru Maxim , sungguh gila karena bibir Anna bergetar dan mendamba ciuman itu .
" Jangan menjauh dari ku " tidak butuh waktu lama untuk Maxim , menangkap wajah Anna yang basah dan menghancurkan bibirnya .
Anna menengadahkan kepalanya untuk memberikan akses lebih kepada Maxim saat mengeksplorasi bibirnya . Dan Anna sangat menikmati ciuman itu , rasanya seperti kembali pulang setelah perjalanan panjang . Maxim mengerang saat Anna membuka bibirnya , memberinya akses untuk menjelajahi kedalam mulut gadis itu . Dan secepat itu juga gairahnya muncul , Maxim semakin merapat dan membawa tubuh Anna merapat padanya. Dia bisa merasakan bagaimana payudara lembut Anna menubruk dada bidangnya , dan jika ia tidak berhenti mungkin ia akan meniduri Anna saat ini juga .