
Sudah berhari-hari sejak sepupunya Jocelyn menampakkan kenyataan di wajahnya , Maxim tidak pernah bisa tidur nyenyak . Ia terus menyibukkan diri dengan bekerja , atau jika ia tertidur itu karena alkohol . Bahkan pemandangan indah dari jendela gedungnya tidak membuatnya menemukan kenyamanan . Beberapa bulan lalu ketika ia memutuskan membeli hotel di New Jersey , ia berharap bisa melupakan kenangan masa lalunya di Philadelphia .
Siapa sangka jika justru inilah jalannya menemukan kembali Annabelle Hunt , wanita yang coba ia kubur jauh jauh .
Seorang detektif swasta yang ia sewa telah memberikan informasi yang tidak jauh berbeda dari ucapan sepupunya kemarin . Rasa bersalah yang menggebu membentuk bongkahan batu dijiwanya . Ia tidak tahu kemana harus memulai , tidak akan mudah bagi Anna untuk memaafkannya . Tindakan bodohnya , semua itu benar . Jika saja ia bisa bertahan sedikit saja .
Maxim memegang kemudi mobilnya erat erat , sudah berhari-hari ia terus melewati jalan ini . Entah itu hanya melintas atau sekedar mengawasi dari jauh . Seperti pagi ini , ia telah berhenti satu jam lalu . Dan ia hanya diam dibalik kemudi , kakinya terasa kaku untuk melangkah . Hingga sebuah ketukan keras dikaca mobilnya .
Maxim menoleh ke sisi kiri , seorang wanita paruh baya berdiri di sisi mobilnya . Wanita itu tersenyum dan mengisyaratkan agar dia turun bergabung dengan wanita itu . Tidak lagi jalan bagi max untuk berlari kebelakang . Ia membuka pintu mobilnya dengan tekad yang kuat , meski ketakutannya saat ini lebih besar .
" Hai , saya Katie , " Wanita itu mengulurkan tangannya , dan Maxim membalasnya mengguncang tangan mereka .
" Saya Maxim .."
" Saya tahu siapa anda , wajah anda tidak pernah asing di televisi kami ..." Katie tersenyum .
" Maaf , saya hanya lewat ..." Maxim berkata dengan canggung , tapi Katie tersenyum lagi . Membuat hatinya merasa nyaman .
" Sudah seminggu ini saya terus melihat mobil anda disini .. , Apa anda mau bergabung dengan kami ? kebetulan hari ini kami akan membagikan makan siang gratis untuk tunawisma .." Katie menoleh pada bangunan sederhana berlantai tiga , tempat ia menampung para wanita terlantar atau bermasalah .
Maxim menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal . Dia tidak menyangka jika wanita ini justru mengundangnya masuk .
" Ayo , anda juga bisa mendapatkan makan siang gratis ..." Katie tersenyum ringan menghibur , Maxim ingat ketika ia masih menjadi anak nakal dulu ia sering sekali makan di penampungan jika malas untuk pulang .
" Tentu .." Maxim berkata mantap . Katie memimpin jalannya , memperkenalkannya pada setiap orang yang sedang sibuk di dalam sana . Dia tidak menyangka jika dirinya akan disambut dengan hangat . Katie bercerita bahwa penampungan saat ini menampung sekitar sembilan wanita dan dua remaja . Kebanyakan diantara mereka bermasalah karena KDRT atau pelecehan seksual . Tidak hanya menyediakan tempat tidur dan makan , Katie dan beberapa temannya juga ikut memperjuangkan kasus mereka di pengadilan . Dan bahkan membantu mereka mendapatkan pekerjaan jika kasus mereka telah selesai dan konseling mereka telah dinyatakan siap .
Hati Maxim terenyuh mendengarnya , ia membayangkan Anna datang ke tempat ini dalam keadaan hancur . Seperti wanita diujung ruangan , tatapan matanya kosong meski suasana cukup riuh disana .
Maxim segera menoleh , mungkinkah yang dimaksud adalah Anna . " maksud saya Anna , dia sering membantu kami jika jadwalnya tidak penuh ..." Katie berujar sambil tanpa menoleh padanya , wanita itu sibuk memandang ke arah lain.
" Bagaimana anda tahu .." ujar Maxim , dan kali ini Katie menoleh memancarkan senyum terbaiknya .
" Saya tahu jika anda ingin mencari Anna disini ," mulut Max diam , tapi hatinya mengangguk setuju . Dia ingin merasakan perjalanan pahit yang dilalui Anna di kota ini .
" maaf , saya orang yang sangat buruk , Anna pasti menceritakannya .."
" Dia kecewa , tapi saya melihat masih ada sedikit harapan dihatinya .." Hati Maxim sedikit mengembang mendengarnya , dirinya tergoda untuk terus mencari tahu . Apakah Anna masih memikirkannya , apa wanita itu masih mencintainya .
" Bagaimana anda tahu .., jika itu adalah harapan saya .." jantungnya berdetak tak menentu , ia bahkan tidak peduli berbohong padanya . Ia hanya ingin Anna kembali menatapnya .
" Dia tidak pernah berhenti membicarakan anda , bahkan jika itu keburukan anda . Jarak antara kebencian dan cinta itu sangat tipis Max , jika dia ingin melupakan anda , mungkin nama anda tidak akan selalu jadi topik pembicaraan " Senyum Maxim mengembang , sekarang ia yakin jika harapannya masih ada . Hatinya terus mengembang karena karena harapan kecil itu . Andai saja Anna tidak pernah bertemu wanita ini , akan jadi apa mereka saat ini . Mungkin mereka tidak akan pernah bertemu hingga . Dan keputusannya membeli hotel di New Jersey juga turut andil , menuntut langkahnya .
" Saya sangat senang Anna bertemu dengan orang seperti anda , terima kasih telah menjaganya ..." mata Max berair dan dia tidak peduli jika kini ia terlihat cengeng .
" Sudah menjadi tugas kami , menolong saudara kami yang kesusahan "
" Katie katakan jika anda membutuhkan bantuan , saya bisa menjadi donatur tetap anda atau bahkan bantuan hukum jika anda menginginkannya , kakak laki-laki saya adalah seorang pengacara .." Max terengah-engah betapa semangatnya ia saat ini , karena penampungan ini Anna tidak perlu hidup dijalanan meski ia tahu gadis itu telah mengalami malam yang buruk sebelum bertemu Katie Graham .
" wow Max , apakah anda serius ..." Katie mengguncang tubuhnya .
" Yeah saya tidak pernah seyakin ini " Max meraih dompet di belakang celana jeans , menyerahkan kartu namanya .
" Anda bisa menghubungi saya di nomor itu , asisten saya akan segera mengurus semua kebutuhan anda .." Katie memeluk kartu namanya dan berucap syukur , mereka berpelukan karena bahagia . Max segera berpamitan meski Katie mengingatkannya akan makan siang gratis . Maxim tersenyum sumringah , dia menolak dengan halus . Ada banyak rencana di dalam kepalanya dan ia tidak sabar untuk segera melakukannya .