Maximilian's Love

Maximilian's Love
Bab 46



Jumat malam seperti biasa Anna akan mampir ke penampungan , mungkin hanya sekedar menyapa atau membawa sedikit oleh oleh . Dia biasa melakukannya meski Katie selalu melarangnya , tetapi Anna tetap bersikeras . Ia merasa sangat untuk membawa barang kebutuhan mereka atau bahkan mengajak mereka mengobrol . Karena ia pernah merasakan berada di posisi seperti mereka , terpuruk , trauma dan sedih .


Dengan kantong belanja yang penuh ia berusaha melewati pintu depan , dengan sedikit usaha pintu itu terbuka sedikit . Kemudian ada sebuah tangan yang membukakan pintu untuknya dari dalam . Arah pandangnya terhalang penuhnya kantong belanja , saat pria itu merebut miliknya . Anna sedikit kaget tapi tentu saja ia sangat berterima kasih , beban berat itu akhirnya pindah ke atas meja . Dan ketika ia menyadari pria itu adalah Brady lockwood , pria yang sudah seperti kakaknya sendiri .


" Brady ? apa yang..?" mulut Anna menganga , dan Brady menepuk pipinya lembut .


" Hanya bernafas Anna , atau kamu akan pingsan .." Brady tersenyum menggoda , dua lesung pipinya langsung menyambut .


Anna menangis bahagia dan langsung memeluknya , betapa ia merindukannya . Brady sudah seperti kakak laki-laki baginya , pria itu selalu bersikap baik padanya . Meski kebanyakan wanita akan memanggilnya brengs*k , tapi Brady adalah laki laki baik bagi Anna .


" I say just breathe ok .." Laki laki itu mengusap air mata di pipinya .


" Bagaimana kamu ada disini , bagaimana kabar ayahmu , aku sangat merindukan kalian ..." Brady memeluknya lagi , meski laki laki itu tidak secara detail menjelaskan kedatangannya di New Jersey , bahkan jika dia adalah pengacara untuk Marie . Seorang wanita KDRT yang datang beberapa hari lalu .


Meski Brady mengatakan dia secara acak suka membantu orang orang yang membutuhkan , jawaban itu tidak membuatnya tenang justru ia semakin penasaran . Tapi rasa penasarannya berjalan buntu , saat Katie juga mengatakan hal yang sama . mereka menyembunyikan sesuatu , Anna merasakannya .


Ia berangkat bekerja seperti biasa , dan perasaannya sedikit sumringah dibandingkan Minggu lalu . Kejadian menyedihkan saat ia bertemu Maxim , pria itu lagi lagi mengoyak luka lamanya .


Restoran cukup ramai setelah mereka buka , pengunjung selalu datang dan pergi . Bahkan Anna hanya bisa memakan dua suap makan siangnya , ia harus berlari ketika pesanan terus mengalir . Dari jauh dia melihat Danny berjalan kearahnya saat dia sedang istirahat di belakang counter kasir . Pria itu tersenyum ramah seperti biasa .


" Yah , pengunjung datang dan pergi ."


" Nah , apa yang bisa saya bantu , " Danny menepuk-nepuk tangannya , mempersiapkan diri untuk bekerja .


" Anda adalah bosnya , anda tidak perlu melakukan itu Dann" Anna tetap menjaga supaya nada bicaranya terkesan ramah , ia tidak ingin bosnya tersinggung . Bagaimanapun mencari pekerjaan sangat susah di kota besar .


" karena aku bosnya aku bisa melakukan apapun .." Danny tersenyum lagi . Nah apa yang bisa dilakukan Anna , karena bos adalah selalu maha benar . Anna mengisyaratkan piring yang menumpuk di wastafel , kening Danny berkerut ia sudah berdandan rapi hari ini . kemeja dan dasinya mungkin akan kusut . Anna terkikik di dalam hati , susah sekali menjaga agar tawa itu tidak keluar dari mulutnya .


Tapi sebelum Danny benar benar menjatuhkan harga dirinya direstoran miliknya , sebuah tangan menepuk punggung Anna . " Anna seorang pelanggan mencarimu , meja nomer 8 " Anna menoleh , dia bersuka cita tidak harus mencari alasan untuk menghindari Danny .


" saya harus pergi .." Anna melangkah meninggalkan temannya dan bosnya yang sekarang saling pandang .


Dann membersihkan tenggorokannya , mengatur dasinya seolah itu mencekik lehernya . " Nah mungkin anda bisa mencuci piring .." Danny menunjuk wastafel , dan senyum Natalie jatuh .


Anna mengusap tangannya pada celemek yang menggantung di pinggulnya , ia siap melayani pelanggan dengan note kecil dan sebuah pena . Pelanggan nomor delapan sedang duduk membelakanginya , ketika ia sampai didepannya sekilas Anna melihat pria itu . Dia memakai kaos polo warna abu-abu dan sebuah topi bisbol hitam yang menutupi sebagian wajahnya .


" anda membutuhkan hal lainnya pak ? " Anna menatap dua burger yang masih mengepul dan dua buah cola , semuanya belum tersentuh . Anna tidak mengerti kenapa pelanggan ini sengaja mencarinya . Anna mengetuk pulpen diatas notenya kemudian beralih menatap pria itu .