
Mobil Maxim berhenti di tempat parkir khusus , pria itu segera keluar dan membuka pintu untuknya . Tidak ada satupun barang yang bisa Anna bawa dan putranya , satu satunya pakaian milik mereka hanya yang melekat di badan. Maxim merangkul bahu Anna dan menuntunnya menuju sebuah lift khusus , tidak sembarang orang yang bisa masuk kesana , jika ingin membukanya harus menggunakan sidik jari . Hati Anna semakin bergemuruh saat hanya ada mereka bertiga di dalam lift , putranya sedang tertidur nyenyak , tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut keduanya . Aura canggung masih menguasai mereka , meski Maxim terus memeluknya tapi hati Anna masih bekerja keras untuk mencerna semua ini .
Dia tidak bisa selamanya bergantung pada orang lain , setelah dia mampu dia akan mencari tempat tinggalnya sendiri . Meski dalam hati kecilnya dia tidak ingin melakukannya . Anna akui dia masih berharap pada pria ini , tapi keraguan merayap dalam hatinya , akankah Maxim memandangnya seperti dulu lagi . Dia bukan lagi wanita yang sama, dia adalah seorang ibu sekarang .
Pintu lift terbuka tangan Maxim masih ada di punggungnya memancarkan panas keseluruh tubuhnya . penthouse itu sangat besar bahkan lebih besar dari milik Jocelyn saat dia berkunjung . Maxim membuka pintu hitam elegan di depannya , mereka berjalan melewati lorong pendek sebelum disambut living room yang sangat mewah . Nuansa ruangan itu identik dengan warna abu dan hitam , sebuah sofa hitam memanjang berbentuk huruf l terlihat mewah dan elegan . tak jauh di sebelahnya meja makan yang memanjang dan tertata rapi .
Anna menghirup nafas dalam-dalam , Anna tahu Maxim bukanlah orang sembarangan . Pria itu telah bekerja keras untuk mengumpulkan semua yang dia punya saat ini .
Maxim melirik Anna , " ayo aku akan menunjukkan kamar kalian ..." Maxim tidak main-main , kamar ini bahkan lebih mewah dan lebih luas dari miliknya sebelumnya . Ranjang berukuran queen terbentang di depannya , kamar ini lebih bernuansa krem dan emas .
" terima kasih..." ucap Anna lembut dia menidurkan Kevin perlahan , meletakkan bantal di setiap sisinya .
" ayo aku ingin menunjukkan sesuatu untukmu .." dahi Anna berkerut , tapi Maxim sudah terlanjur menarik tangannya . membuka salah satu pintu di kamar itu . Pemandangan yang tidak pernah Anna sangka ada sebuah ruangan yang penuh dengan baju , sepatu , tas dan aksesoris lainnya .
" ini adalah milikmu.."Maxim menunjuk semua barisan barang mewah itu .
" Max apa ini .., bagaimana kamu melakukannya ..."
Tapi Maxim tidak menjawab , pria itu menariknya semakin kepojok . ada sebuah lemari sedang berwarna krem , Maxim membukanya dan isinya adalah semua keperluan yang cocok untuk Kevin . Anna hampir menangis melihatnya .
" saya tidak pantas menerima ini , " Anna buru buru mengusap air matanya .
" Sudah lama aku ingin membawamu kesini , aku mempersiapkan semuanya , sebelum aku mengetahui ada Kevin . sebelum kita kesini aku meminta Angela dan Nate berbelanja untuk Kevin , aku harap itu cukup . Jika tidak kita bisa berbelanja lagi nanti ..."
" Max aku tidak sanggup membayar semua ini ..." Anna menatap seluruh ruangan .
" Anna aku tidak menyuruh mu membayarnya , aku ingin kalian tinggal bersama ku , semua ini ini milik kalian , cuma cuma ..." kata Maxim kesal .
" Tapi apa kata orang , aku merepotkan , aku...,"
" Max , menikah itu bukan permainan , saya tidak punya waktu untuk itu ..." Anna memikirkan putranya yang sedang tertidur di kamar sebelah .
Tapi Maxim tidak peduli dengan kata kata Anna , pria justru merogoh sakunya , ada sebuah benda yang selalu ada di kantongnya , dan itulah tujuan dia sore ini menemui Anna . Pria itu berlutut , membuat sebuah kotak beludru berwarna hitam , didalamnya ada sebuah cincin indah berwarna rose gold .
" Max apa ini..." Anna menutup mulutnya , air matanya langsung meluncur , tatapannya bolak balik antara Maxim dan cincin ditangannya .
" ini bukti keseriusan ku , sayang . kamu bisa memilih menikah bulan depan , minggu depan atau bahkan lusa aku bisa mewujudkan untuk kita . Aku sangat mencintaimu Anna , saya mohon jadilah istriku..." Kaki Anna lemas dia ikut berlutut didepan Maxim .
" saya punya Kevin , Max . saya tidak mau kamu menyesal di kemudian hari ..." jauh di dalam lubuk hatinya , dia berharap Kevin adalah milik Maxim .
" Aku tidak peduli aku juga mencintainya , aku mencintai kalian berdua ..." Max mengambil cincin itu dan memasukkan kedalam jari manis Anna . Anna tidak bisa membendung rasa bahagianya , ia bahkan hanyut saat Maxim memagut bibirnya . Tapi kesenangan itu tidak berlangsung lama karena Kevin terbangun dan menangis dengan keras . Mereka berdua saling tertawa dalam pelukan .
________
Malam itu Anna bersikeras bahwa mereka harus tidur terpisah dulu , Maxim menyetujuinya dengan terpaksa . Pria itu berbalik dan tidur sendiri di kamar terpisah . Tapi kenyataannya tidak seperti itu saat Anna bangun pagi pagi sekali , dia merasa bahwa ranjang mereka terasa menyempit . Sebuah tangan besar melingkari perutnya , dan hembusan nafas hangat ada di belakang lehernya .
Kevin masih tertidur di depannya , dan Maxim juga masih tertidur , entah jam berapa pria itu menyusul mereka . Anna akui bahwa tidur bersama dua pria yang paling dia cintai adalah pagi terindah dalam hidupnya . Dia turun pelan pelan dari ranjang , dia tidak mau Kevin maupun Maxim terbangun karena ulahnya .
Sebelum keluar dari dari kamar Anna , menyambar kimono tidurnya . Entah bagaimana Maxim mempunyai selera yang sangat bagus , dalam memilih pakaian untuknya . Apartemen itu sangat besar , Anna bertelanjang kaki dan berjalan menuju dapur . Dia membuka kulkas besar dengan dua pintu ganda . Semua bahan makanan telah tersedia disana , dia bisa membuat apa saja yang dia inginkan untuk sarapan mereka nanti . Hati Anna berbunga , pagi ini dia merasa sudah seperti seorang istri yang menyelinap bangun pagi untuk memasak .
Dia memanggang roti gandum , membuat scramble egg dan memanggang beberapa ham . Dia juga menyiapkan makanan untuk Kevin puree labu dengan keju dan susu . Anna menatap senang meja makan yang telah siap dengan makanan , dia juga telah bersiap membuat kopi untuk Maxim , dan sekarang wanginya telah memenuhi ruangan .
Sebelum Anna berbalik untuk kembali ke kamarnya , sebuah tangan memeluknnya . Dan satu kecupan mendarat di pelipisnya . Dan saat dia menoleh kesamping , Maxim telah berdiri disampingnya sambil menggendong Kevin . Pria kecilnya itu tampak sangat nyaman berada dalam dekapan Maxim , bahkan dia asyik mengunyah jarinya .
" Morning beautiful ..." ujar Maxim dan menciumnya lagi . Dan sekarang Kevin telah meraih rambutnya , menariknya hingga dia sedikit meringis . Tapi hal itu justru membuat mereka tertawa bahagia , mereka seperti keluarga kecil yang bahagia .