
Kehidupan Anna sekarang berubah , ia sudah tidak lagi menaiki bus untuk ke kampus ataupun ke tempat kerja . Maxim adalah sopir pribadinya saat ini , meski Anna tahu kadang pria itu terlihat lelah dan mengantuk saat mengantarnya . Tapi hebatnya pria tetap tersenyum dan memperhatikan keadaan dirinya , kebutuhannya .
Meski kehadiran Maxim di hidupnya kadang kadang sedikit menyulitkan hidupnya di area kampus . Dulu saat ia hanya bisa naik bus ke kampus , teman temannya mencibirnya karena betapa miskinnya dia . Dan saat sekarang Maxim memanjakannya dengan menjadi sopir pribadi dan mobil mewah berbeda . Cibiran itu kembali menghampirinya , seperti tepat pada hari Selasa saat ia harus bertemu Miss Dods . Sarah dan Natalie sudah menyambutnya bahkan sejak ia Maxim menurunkannya di area depan kampus .
Kedua gadis itu tampak tidak suka melihat dirinya diantar menggunakan tiga mobil mewah yang berbeda setiap harinya . Apalagi sejak kejadian malam itu , mengetahui Anna yang terlihat segar bugar tanpa memedulikan kehadiran mereka . Seolah Anna tidak terpengaruh oleh aksi jahat mereka , Sarah dan Natalie semakin murka . Karena baru kali ini mereka berulah , tapi diabaikan .
" Aku yakin dia pasti menjadi simpanan om om kaya "
" Om om masih terlalu bagus untuknya , Sarah ! Aku yakin dia menid*ri bandot tua !" Sarah dan Natalie saling tertawa , saat Anna berjalan melewatinya . Anna hanya melirik sekilas , meski rasanya sakit dituduh macam macam seperti itu . Tapi ia sadar kejahatan jika dibalas dengan kejahatan lain maka ia tidak ada bedanya dengan mereka .
" Urus masalah kalian sendiri , aku rasa aku masih ingat , kau Sarah pernah berhubungan s*x di toilet mall dengan om om !" Anna menoleh dan tidak percaya jika yang sedang membelanya adalah Bonnie .
" Kau ! Dasar b*tch ! " Sarah hendak mencakar wajah Bonnie , tapi Bonnie buru buru menghindar .
" Dan ingat aku juga punya foto menjijikkan kalian , jadi jangan macam-macam denganku atau Anna . Atau aku akan menyebarkan foto mu ke semua orang !" Meski kesal , tapi Sarah tidak bisa berbuat apa-apa . Ia lebih takut jika fotonya tersebar dan sampai di tangan ayahnya .
" Ayo Anna tinggalkan manusia munafik seperti mereka " Bonnie menggandeng tangan Anna menjauh dari sana , sementara Anna masih tidak percaya jika Bonnie membelanya . Anna pikir Bonnie masih marah padanya karena kejadian di club' waktu itu .
" Terima kasih Bonnie , meski sebenarnya kamu tidak perlu membelaku . Aku tidak peduli dengan ucapan mereka " Anna memeluk tubuh Bonnie seperti bertahun-tahun tidak pernah bertemu .
" Dan aku senang , kamu sudah tidak marah padaku , Bonnie " Bonnie tersenyum dan mengibaskan tangannya seolah ia juga tidak peduli .
" Tidak apa apa Anna , sebenarnya aku juga kesal pada mereka . Mereka perlu diberi sedikit pelajaran " mereka saling tertawa bersama untuk menghibur diri , kemudian saling berpisah diujung lorong .
" Jadi siapa pria beruntung itu ?" Bonnie bertanya pada Anna saat mereka sudah selesai menyelesaikan tugas di kampus . Bonnie yang sedang menunggu busnya , sementara Anna menunggu Maxim menjemputnya . Meski jujur saja Anna masih sedikit kesal pada Maxim karena membayarkan uang kuliahnya tanpa memberi tahunya . Anna lebih suka meminjam daripada menerima sesuatu dengan cuma cuma . Dan Anna berjanji akan mengembalikan uang itu nanti , bahkan jika Maxim menolak sekalipun . Ia akan terus mencari cara untuk mengembalikannya .
" Bukan siapa siapa , dia hanya teman lama ku , lalu kita berpacaran " Anna mengangkat bahunya acuh , seolah itu bukan masalah besar . Anna tidak ingin Bonnie tahu dulu jika ia berpacaran dengan Maxim Lockwood , model sekaligus artis yang sedang naik daun saat ini . Sebenarnya Anna belum ingin hubungan mereka terekspos media , meski Anna yakin Bonnie bukan orang yang suka mengumbar rahasia teman . Tapi Anna lebih memilih untuk menunggu , ia ingin agar Maxim sendiri yang mengakui pada dunia bahwa mereka bersama .
" Hebat , aku bahkan belum pernah berpacaran " seloroh Bonnie . Bonnie memang tidak pernah punya waktu untuk hal seperti itu , hidupnya sudah cukup sibuk dengan bekerja dan menghidupi adik dan ibunya yang sakit .
" Tidak masalah Bon , aku yakin suatu hari nanti kamu pasti menemukan seseorang " Anna memeluk temannya yang disambut hangat oleh Bonnie .
Saat sedang asyik mengobrol suara klakson membuyarkan obrolan mereka . Mobil Maxim sudah parkir tak jauh dari mereka , seperti biasa Maxim akan menunggunya di mobil . Atau pria itu akan keluar dengan topi , kacamata dan masker .
" Maaf Bon aku harus pergi , terima kasih sudah membelaku tadi "
" Tidak masalah " Bonnie balas memeluk Bonnie sebelum matanya bertemu sosok yang sangat familiar .
" Max ??" Apakah tidak masalah jika Maxim menampakkan jati dirinya di depan kampusnya . Suasana kampus saat masih terlalu ramai sore itu .
" Mr Lockwood ? Ya ampun Anna jadi kau pacaran dengan Maxim Lockwood ??" Mata Bonnie membulat sempurna , menatap takjub pada Maxim . Sementara Anna meringis malu , kehebohan apalagi setelah ini .
" Aku pernah melihat mu beberapa kali bersama Mr Donovan .." Bonnie kembali berujar penuh semangat , senyum lebar mengembang di wajahnya .
" Ah , ya kau pasti salah satu gadis Rocco " tebak Maxim , ia berusaha seramah mungkin pada teman pacarnya .
" Um Bonnie maaf tapi aku harus buru buru ketempat kerja .." Anna mendorong tubuh Maxim menuju mobil sementara Bonnie masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya .
" Aku akan menelpon mu nanti .." Anna melambai setelah berhasil membuat tubuh Maxim masuk kedalam mobilnya .
" Apa apaan itu tadi , seharusnya aku yang membuka pintu mobil untukmu , bukannya sebaliknya " Maxim melayangkan protesnya saat sudah masuk bergabung bersamanya di dalam mobil .
" Seharusnya aku yang berkata seperti itu , kau mau membuat gosip seisi kampus ?" Anna melotot tidak suka .
" Memangnya apa peduliku sayang , toh kita pasangan kekasih bukan pasangan selingkuh "
" Bukan itu yang aku maksud Max , maksudku apa kamu siap digosipkan berpacaran dengan ku , wanita biasa yang tidak punya ..."
" Sstt... sudah hentikan , aku tidak suka kau terus merendahkan dirimu " Maxim menaruh jari telunjuknya di bibirnya , sementara dahi mereka saling menempel . Anna memejamkan mata merasakan kecupan kecupan ringan di mata , dahi , hidung dan bibirnya . Perbuatan Maxim benar benar membuatnya merinding , apalagi saat ini mereka masih ada di area sekitar kampus .
" Kamu itu anugerah untukku sayang , bukannya aib yang harus aku sembunyikan . Jadi tolong berhenti memikirkan yang macam macam , ok ." Anna mengangguk dan kembali ke posisi duduknya dan memasang seat belt .
" Ok baiklah , sekarang aku harus pergi bekerja . Charlie akan marah padaku jika aku terlambat "
" Jika Charlie marah padamu , bilang saja padanya ' pecat saja aku ' "Anna tertawa saat Maxim membuat gerakan memotong lehernya dengan jari .
" Hentikan lelucon itu , aku harus pergi bekerja untuk membayar semua hutangku "
" Anna , sudah berapa kali kubilang , berhenti memikirkan uang itu "
" Tidak akan , karena aku sudah bersumpah akan lulus kuliah dengan usahaku sendiri "