
Sudah dua minggu sejak kejadian memalukan di hotel Maxim , kehidupan Anna kembali seperti biasa . Tidak ada lagi kunjungan Maxim di tempat kerjanya , tidak ada bunga atau makanan diteras rumah. Semuanya berjalan dengan hampa , dan sekarang dia harus bekerja dengan restoran yang selalu ramai . Belum lagi pikiran harus terbagi antara rumah dan restoran , ia terus memikirkan Katie dirumahnya . Beruntung wanita itu bisa membantunya hari ini , Barbara wanita tua yang biasanya membantunya sedang sakit .
" ah astaga ! " Anna menatap nanar pada piring yang tidak sengaja terlepas dari tangannya . Rasanya dia sangat ingin menangis , menatap pecahan piring di lantai . Entah kenapa tapi bukan karena piring itu ia sedih , ada sesuatu yang lain . Ada sesuatu yang sangat mengganjal di dadanya .
" Anna kamu tidak apa apa? " Anna menoleh dan mendapati Danny sudah berjongkok di sebelahnya . Anna mendengus dalam hati , kenapa pria itu selalu muncul .
" maaf , saya tidak punya maksud mengganggumu .." Danny menatap mata Anna seolah pria itu bisa membaca pikirannya .
" tidak apa-apa saya bisa membereskannya Danny .." Anna terus bekerja tanpa memperdulikan pria itu .
Danny menghela nafas panjang , ia sadar kelakuannya belakangan ini sudah membuat Anna tidak nyaman . " Anna dengar , maaf jika saya membuat anda tidak nyaman .."
Anna membuang pecahan piring kedalam tempat sampah lalu mencuci tangannya . " tidak apa-apa saya mengerti .."
Danny tersenyum , bagaimanapun dia menyadari bahwa cinta tidak bisa dipaksakan . Ada sesuatu di dalam diri Anna yang tidak Danny mengerti . " Hei bukankah ini , akhir shift mu ? "
" yeah .." jawab Anna asal .
" kenapa anda tidak berkemas .."
" tidak masalah saya bisa menggantikan anda , aku melihatmu seharian ini terus melamun , apa anda ada masalah ? " Danny menggulung lengan bajunya , meski dia adalah bos disini tapi dia tidak akan ragu untuk turun membantu karyawannya .
Anna memejamkan matanya , " sebenarnya Barbara sedang sakit dan aku sangat tidak enak pada Katie , dia sangat sibuk kamu tahu .."
Danny mengangguk , " yah kalau begitu pulanglah , semuanya sedang ditangani .."
" Danny , saya sangat berterima kasih .." wajah Anna begitu berseri tidak tahu mengapa ia begitu semangat untuk pulang . Danny mengangguk saat Anna melepas celemeknya dan berlalu meninggalkannya .
___________
Ini adalah kesekian kalinya ia memandang berkas berkas yang menumpuk di mejanya . Pikirannya melayang entah kemana . Sudah dua minggu sejak Anna mencampakkannya dan sudah dua minggu dia menyetujui saran gila kakaknya . Memberi jarak pada mereka berdua , yang nyatanya malah membuat ia semakin gila . Yang ada dipikirannya hanya wanita itu , dia tahu wanita itu berbohong . Bibirnya bergetar saat tidak mengakuinya .
Maxim membanting pulpen ditangannya , cukup sudah . Dia tidak peduli jika Anna akan menolaknya lagi , dia harus menemuinya . Dan dia bersumpah , jika Anna menolaknya lagi , ini adalah yang terakhir . Mata Maxim berair memikirkan jika akhirnya mereka tidak bisa bersama . Anna adalah impian terbesarnya , dia tidak pernah jatuh cinta sampai sesakit ini . Dia adalah satu-satunya wanita yang sial*n membuatnya menangis .
Langkah kakinya begitu ringan dan mantap Maxim bahkan tidak peduli saat Angela memanggilnya . Mengenakan setelan jas terbaiknya , Maxim masuk kedalam mobilnya . Jika dia memang harus hancur untuk hari ini , tapi dia selalu berdoa , ada sebuah keajaiban .
Nantikan kejutan besarnya ...