
Anna tidak pernah merasakan cintasebesar ini pada seorang pria , terakhir kali ia jatuh cinta adalah bencana . Pria itu bersikap seperti keledai terhadapnya , sejak itulah Anna belum berpacaran lagi . Hingga bertemu Max lagi dan mulai menjungkirbalikkan dunianya . Ia sangat saat pertama kali mereka bertemu lagi , hingga pria itu menyelamatkan nya beberapa kali . Ia bukan siapa siapa tanpa Maxim di sisinya .
" Apa aku menyakitimu ?" Sela Maxim ditengah lamunan Anna , pria masih terus mengendus lehernya dan tangannya ada di atas dadanya yang telanjang .
" Tidak pernah sebaik ini .." Anna menggerakkan kepalanya , berbalik menatap Max , hingga pipi dan bibirnya menyerempet bulu bulu halus di janggutnya .
Saat mata mereka saling terkunci , Maxim kembali meraih wajahnya mulutnya diatas mulut Anna . Menikmati sisa percintaan mereka beberapa menit yang lalu . Dan Anna juga sadar jika Max tadi tidak memakai pengaman saat melakukannya . Anna tahu pria itu tidak sedang lupa , karena dari tatapan matanya saat benihnya tertanam di rahimnya mereka mempunyai ikatan yang sangat kuat . Entah kenapa seuntai berlian di jarinya memantrai semua itu .
Maxim kembali akan menindih Anna , dan mungkin akan menidurinya lagi jika tidak ada suara gaduh di luar . Suara Miguel terdengar jelas hingga ke kamar Anna , lalu suara seorang wanita yang sangat Anna kenal .
" Max ! " Anna langsung bangun dan menghiraukan buah dadanya berdiri gagah tanpa penutup .
" Brengs*k ! " Max juga menyadarinya , suara wanita itu . Yang selalu meneriakinya ******** kecil saat ia masih sekolah . Max langsung melemparkan kaos dan celana dalam Anna begitu ia bangkit .
" Berpakaian , sayang ! " Hati Anna berdebar , lalu ia melirik Maxim yang juga berjuang memakai pakaiannya . Suara wanita itu semakin melengking terdengar , dia memanggil nama Anna berulang-ulang .
Maxim merutuk keadaannya saat ini , ia seperti anak sekolah yang kepergok having s*x .
Anna langsung keluar begitu ia berpakaian lengkap , wanita itu berdiri disana nafasnya turun naik karena marah . Sementara Miguel terus memegangi tangannya .
" Kau gadis busuk ! Menyimpan pria dirumah ku ! " Sarah menatap Anna dengan tatapan tajamnya kemudian melirik Miguel .
" Ibu ?! " ucap Anna tidak percaya .
Maxim keluar beberapa menit kemudian , dan Sarah yang tidak pernah mengiranya matanya membulat sempurna .
" Kau ?! " Sarah menunjuk Maxim , bocah tengil yang selalu menjahilinya di masa lalu .
" Aku hanya meninggalkanmu sebentar , dan kau sudah jadi pelac*r ?!" Tuding Sarah , Anna merasakan rembesan air di wajahnya . Tuduhan Sarah terasa sangat menyakitkan di hatinya , Sarah telah berubah sejak ayahnya meninggal .
" Jaga bicaramu Sarah ! Anna adalah tunangan ku !" Suara Maxim bergemuruh karena marah , ditariknya Anna kedalam pelukannya . Wanita tua keparat ini pergi menghilang seperti badai kemudian datang seperti badai lagi .
" Kalian bertunangan ?! Aku yakin kau melamarnya saat sedang menyetubuhinya .." Anna menutup mulutnya , sementara Maxim menggeram .
" Ibu , kenapa kau keterlaluan ?!" Anna menutupi tangisnya dengan kedua tangannya .
" Kau yang keterlaluan , aku sudah merawatmu , menganggapmu seperti anakku sendiri , sekarang ini balasanmu padaku . Aku tidak percaya ini , aku pikir kepergian ku membuat merubah pikiran mu Anna ! " Sarah memicingkan matanya .
" Diam kau , kau tidak diijinkan menyakiti tunangan ku lagi . " Maxim hendak menarik Anna . " Ayo sayang , tinggalkan tempat terkutuk ini .! "
Tapi Sarah menghadangnya , " memangnya kau pikir siapa ?! Aku sudah menjodohkan Anna dengan orang lain sebelum ayahnya meninggal ! Dan mereka akan segera menikah setelah Anna lulus ! "
Ucapan Sarah seperti Hujaman belati di seluruh tubuhnya , menyayatnya , merobeknya .
" Omong kosong apa itu ?! " Maxim menusuk Sarah dengan tatapan tajamnya kemudian beralih ke Anna . Gadis itu hanya menangis .
" Ayo , " tapi Max tidak peduli , ia rengkuh Anna dalam pelukannya . Saat mereka melewati Sarah dan kemarahannya , seseorang muncul di ambang pintu .
" Sarah , Anna ? " Pria itu tidak lebih tinggi dari Maxim , rambutnya tersisir rapi dengan kacamata membingkai wajahnya .
" Jamie " ucap Anna lirih .
Maxim ingat pria itu , pria kutubuku yang selalu membayangi Anna saat masih high school .