
Anna berbalik saat Maxim menutup pintu mobilnya kasar , tapi jantungnya semakin berdebar saat langkah kaki Maxim semakin nyata terdengar .
Anna berbalik lagi dan pria itu sudah ada dihadapannya , memberikan senyum paling menawannya .
" Apa yang kau lakukan ?"
" Masuk kedalam atau aku akan memaksamu ..?"
Anna menghembuskan nafasnya dalam-dalam , " Max , dengar . Aku hampir saja terlambat kerja , aku tidak punya waktu untuk permainan gilamu "
" Ini bukan permainan gila Anna , jujur aku tersinggung dengan kata kata mu itu . Aku meninggalkan pekerjaan ku dan memilih berdiri di sini untuk menjemputmu dan yang kau lakukan hanyalah melukai perasaan ku ..?"
Jujur Anna kaget dengan jawaban Maxim , ia yakin pria itu punya setumpuk pekerjaan yang lebih penting dibandingkan menjemputnya . Tapi apakah Anna memintanya , tentu saja tidak .
" Aku tidak memintanya Maxim , kau bisa pergi lakukan pekerjaanmu dan tinggalkan aku "
" Ya kau memang tidak memintanya , tapi aku yang memilih ini . Aku yang memilih untuk dekat dengan mu , jadi tolong segera masuk ke mobil atau aku akan menggendongmu masuk kesana .." Maxim menunjuk mobil dibelakangnya , mata Anna bolak balik antara Maxim dan mobil Porche silver di belakang sana .
" Waktu terus berjalan Anna , kau akan benar-benar terlambat jika tidak bergegas "
Anna melirik jam tangannya sekali lagi , dan Maxim benar . Menunggu bus datang adalah pilihan salah , ia hanya punya satu pilihan .
Maxim akhirnya tersenyum ketika Anna duduk di bangku penumpang , dan ia pun menyelinap di kursi kemudi . Maxim mengulurkan tangannya untuk memasang sabuk pengaman Anna .
" Apa yang mau kau lakukan ?" Alis Anna saling menyatu dan tangannya memblokir pergerakan Maxim . Berdekatan dengan pria ini saja membuat jantungnya hampir copot .
" Memasang seat belt untuk mu "
" Hentikan itu , hentikan seolah aku tidak bisa melakukan apa-apa !" Mata Anna membara karena marah .
" Kau pasti tidak pernah membuat kopi untuk ayahmu kan ?" Maxim tertawa .
" Apa maksudnya itu , aku selalu membuat kopi untuknya setiap pagi !" Anna menjawab dengan marah .
" Nah itu , kau membuat kopi untuk ayahmu meski dia bisa saja melakukannya sendiri .."
" Aku tidak pernah menganggap mu seperti itu sayang , aku melakukannya karena aku senang bisa melakukan sesuatu untuk mu " tambah Maxim lagi.
Anna bingung , ia harus senang atau apa . Jujur ia tersentuh dengan perhatian kecil yang pria itu berikan padanya , seperti halnya perhatian Anna untuk ayahnya . Anna senang melakukan sesuatu untuk ayahnya meski Anna tahu bisa saja ayahnya melakukan sendiri . Dan hati Anna berdebar ketika memanggilnya sayang , meski ia senang tapi panggilan itu tidak pantas karena Maxim bukan kekasih nya .
" Ok terserah kau saja , tapi aku tidak akan berhenti memanggilmu sayang .." Maxim menginjak pedal gasnya setelah mengedipkan sebelah matanya .
Anna melirik pria di sebelahnya sekali lagi , pria itu adalah gambaran kesempurnaan , Anna akui itu . Ia suka bagaimana tangan kokoh Maxim memegang stir kemudi , tapi kemudian ia sadar . Bahwa tindakannya ini salah . Suasana menjadi canggung , mengingat hanya ada mereka berdua di mobil itu , dan aroma tubuh Maxim menguasai hidungnya .
" Jadi , ini bagian rencana mu ? Mendekati aku , lalu setelah itu kau akan menyakitiku ?" Anna sempat takut saat mata Maxim menyipit dan meliriknya . Sementara tangannya tetap fokus mengemudi .
" Anna , aku tahu dulu aku sangat kacau , aku tidak akan menyalahkanmu jika sekarang kau membenciku "
" Oh ya , aku sangat terkesan ." Maxim hanya melirik , ia bahkan tidak tersinggung dengan nada sarkasme Anna .
" Aku dulu sangat tertekan Anna , saat ibuku pergi meninggalkan ku , aku pikir Jocey lah penyebab semua itu . Aku harus mendengar pertengkaran orang tuaku setiap malam , ibuku memberi ayahku pilihan antara Jocey atau dia yang pergi . Dan kau tahu apa yang dipilih ayahku , dia lebih memilih Jocey ketimbang ibuku. Aku sangat terpukul , dan kemudian aku mulai membenci Jocey dan orang yang mirip dengan nya ..." Maxim melirik Anna , gadis itu hanya diam .
" Apa maksudmu mirip dengan nya , aku sama sekali tidak mirip dengannya "
" Kalian sangat mirip , pendiam , polos , dan juga cantik " Anna sangat terkejut dengan kata terakhir Maxim . Ia terkejut ketika Maxim menyebutnya cantik . Maksudnya ia tidak juga jelek , kulit cukup bersih , dan ia punya mata besar dengan warna kebiruan . Hanya saja ibunya bahkan tidak pernah menyebutnya cantik seingatnya .
" Rayuanmu itu tidak akan mempan padaku ." Anna membuang mukanya ke jendela .
" Itu bukan rayuan sayang , aku selalu suka matamu yang biru itu , dan hidung mungilmu " Anna menoleh untuk melotot pada pria itu , ia pikir Maxim akan tertawa keras seperti yang selalu dilakukannya . Tapi pandangan pria itu sangat teduh , bahkan tersenyum tulus padanya .
Ia rasa yang bersamanya saat ini bukan Max , mungkin hantu gentayangan yang menyamar . Karena Max yang ia kenal tidak akan tersenyum seperti malaikat .
Mobil Maxim berhenti tepat di depan Charlize cafe tempatnya bekerja , Anna keluar dan Maxim mengikutinya .
" Terima kasih " ucap Anna lirih , Anna melirik senyuman maut Maxim lagi .
" Telepon aku ketika kau selesai nanti " pesan Maxim , Anna menoleh .
Tidak akan pernah . Ucap Anna dalam hati .
" Um Anna , berjanjilah kau akan menelpon ku , atau aku akan menunggumu sepanjang malam disini " Maxim menampilkan seringai jahatnya , dan Anna benci itu .
" Aku akan menelpon mu , kau puas ?!" Maxim tersenyum puas .
Saat Anna berjalan kembali ke Charlize , bosnya Charlie tersenyum padanya di belakang meja bar .