
Sherif dan deputinya kini mulai menatap Anna , bahkan Edward Snowden pengacara Max yang kini menjadi pengacaranya juga ikut tegang menanti jawabannya .
" Miss Hunt , kami butuh keterangan anda . Apa Bill Gibson dan David Peterson yang memberimu obat perangsang itu ..?" Anna gemetar saat Sherif dengan kumis tebal itu menginterogasinya .
" Sherif , tolong jangan mengintimidasi klien kami , Miss Hunt jika memang anda belum siap dengan semua ini kami bisa mengerti .." Edward menoleh padanya , ia senang punya pengacara pengertian seperti Edward . Pria itu menatap lembut padanya , sementara Max masih setia meremas tangannya .
" Baby , jika kau merasa keberatan dengan semua ini , kita bisa melanjutkannya lain waktu ..." Anna menoleh pada Max yang juga cemas melihat keringat dingin mengucur dari atas dahinya . Lain waktu , atau sekarang bagi Anna sama saja , ia justru akan terus tersiksa jika menundanya lagi . Maka ia akan terus mengingat setiap kejadian di malam itu .
" Tidak , ..." Semua orang kini lebih menatapnya .
" Maksudku , tidak , bukan mereka ..." Anna menghirup nafas lega ketika akhirnya kata kata itu keluar dari mulutnya .
" Siapa yang melakukannya ..?!" Pertanyaan Max mewakili rasa penasaran semua orang yang ada di ruangan itu . Dan Anna bisa merasakan kilatan bara amarah di mata Maxim .
" Katakan Anna , siapa yang melakukannya . Aku bersumpah akan menghancurkannya ..." Pegangan tangan Maxim pada tangannya semakin mengeras . Dan itu membuat Anna semakin berdebar dan takut .
" Aku tidak tahu ..." Anna menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya , aliran air mata bercucuran dipipinya .
" Anna , sayang ..." Bujukan Maxim yang terus mengalir di telinganya bahkan tidak mampu menguatkan hati Anna . Bayangan tubuh pria itu menindih tubuhnya , menciumi wajahnya dengan kasar . Anna tidak sanggup mengingatnya , apalagi jika harus berpikir lagi membayangkan si penabur obat perangsang itu .
" Biarkan aku berbicara berdua dengannya , " Maxim memberikan isyarat pada semua orang di ruangan itu , sementara ia bergegas menarik Anna kedalam sebuah ruangan .
" Anna , aku bingung harus melakukan apa , jika kau terus seperti ini sayang ..." Anna mendongak dengan sisa sisa air matanya , mereka sekarang terasing di dalam kamarnya , sementara Maxim terus mendekapnya . Ia ingat saat terakhir sebelum ia pingsan , Anna sempat memohon pada pria ini untuk menidurinya . Dan entah kenapa pria ini justru membawanya ke rumah sakit , apakah tubuhnya terlalu menjijikkan untuk disentuh .
" Kenapa kau tidak meniduri ku malam itu ...? "
" Apa?!" Maxim menengadah mencari pasokan oksigen kedalam paru parunya .
" Kau jijik pada tubuhku ?" Anna menggenggam erat kemeja Maxim , dan Maxim tak kalah terkejut dengan serangkaian pertanyaan Anna.
" Anna berhenti berpikir seperti itu !"
" Lalu apa ? Kau bilang kau menyukaiku , tapi kau bahkan tidak mau menyentuh ku ?"
" Aku sangat ingin Anna , sangat ! Sampai otakku tidak bisa berpikir ! " Maxim mengguncang bahu gadisnya sementara Anna semakin tidak mengerti .
" Anna kamu tidak tahu apa yang aku pikirkan saat itu , jika aku melakukannya mungkin kau akan semakin membenciku , kau mabuk Anna . Dan aku tidak mau mengambil kesempatan itu , saat kau sedang tidak berdaya " Anna tertegun dengan semua penjelasan panjang lebar Maxim , sedalam itukah perasaan pria ini padanya . Tidak ada pria yang memperlakukannya seperti ini sebelum Maxim , dan Anna bingung dengan perasaan yang sedang berkecamuk dalam dadanya .
" Max aku rasa aku jatuh cinta padamu , tapi aku takut _ aku takut __" Anna menunduk tidak sanggup melihat kedalam iris mata Maxim , karena pegangan tangan Maxim diwajahnya kini menegang .
" Katakan sekali lagi ..." Pinta Maxim , pria itu memaksanya menatap kedalam matanya .
" Aku jatuh cinta pada____" Maxim tidak ingin kata kata lain lagi karena ia juga jatuh cinta pada gadis ini , tidak ada yang ingin dia lakukan selain ******* bibirnya . Merasakan gadis itu dalam setiap hembusan nafasnya .
Mereka baru terpisah saat sama sama kehabisan oksigen , dan bibir Anna membengkak karenanya , tapi Maxim tidak peduli . " Sekarang katakan padaku , siapa ******** itu ?" Anna tersentak kaget , kenapa pertanyaan itu lagi . Yang jelas-jelas Anna sangat ingin melupakannya .
" Aku tidak yakin __" Anna menunduk lalu kembali menatap wajah Maxim .
" Kita akan mencari tahu , "
" Tidak !"
" Apa?!" Maxim jelas tidak mengerti dengan jalan pikiran gadis ini , bukannya dia ingin semua ini terungkap .
" Max , aku tidak mau semua ini diperpanjang , ok . Aku setuju soal dua laki laki itu .." Anna menelan ludah saat mengingat Bill dan David .
" Sayang ,.." Maxim hendak memprotes tapi Anna buru buru memblokir bibirnya dengan jari tangannya .
" Biarkan aku yang memutuskan ini Max , aku mohon .. "
" Jangan tunjukkan wajah seperti itu ?" Maxim menyugar rambutnya frustasi , ia benci harus melakukan ini .
" Aku mohon , aku akan melakukan apapun .." bujuk Anna , tanpa peduli konsekuensi dari ucapannya . Dan Maxim menangkap kesempatan menggiurkan dalam bujukan manis Anna .
" Pindah ketempat ku malam ini , dan aku tidak akan mengungkit ******** itu lagi .." Anna terpojok dalam bujukannya sendiri , ia tidak menyangka jika pria ini akan menggunakan kesempatan itu untuk mengikatnya .
" O_oke " Anna mengangguk setuju meski berat . Dan ia tidak tahu masa depan apa yang akan menantinya malam ini .
To be continued
Happy Eid Mubarak