
Gambar hanyalah ilustrasi , jangan baper ya....
Maxim baru kali ini melihat jika warna mata mereka hampir saja serupa , dan sialnya warna mata itu terlihat menawan padanya . Kacamata besar itu bertengger pada hidung mancungnya yang mungil , lalu bibirnya yang penuh dan sensual .
Maxim tidak pernah menyangka jika gadis kurus yang dikenalnya lugu telah bertransformasi menjadi bidadari . Dengan rambut pirangnya yang jatuh di depan dadanya , Maxim tidak bisa membayangkan bagaimana bentuk tubuhnya . Gadis itu memakai sweater tebal yang tidak menonjolkan lekuk tubuhnya, dan sebuah jins biru yang sedikit memudar .
Maxim ingin meraih gadis itu , menjalankan jari jarinya diantara rambutnya yang pirang . Tapi sebelum hal itu terjadi , bau harum kopi menyentak hidungnya , membuatnya terbangun dari tidurnya. Maxim meregangkan otot-otot tubuhnya , tubuhnya terasa kaku setelah jatuh tertidur di sofa sebelum ia sempat menjangkau kamarnya .
" Kapan kau datang , aku tidak mendengar suara mobilmu ..." Brady mengernyit di belakang meja dapur , sepertinya ia sedang menyiapkan sarapan .
" Hai , pagi kak..." Maxim berdiri dan bergabung bersama saudaranya di counter , duduk di bangku tinggi berseberangan dengan saudaranya .
" Kau mengalami malam buruk , kuharap itu bukan sesuatu yang penting..." Brady mengarah pada buku tangan adiknya yang lebam dan darah yang mengering .
" Ini bukan apa-apa , aku kesal dan berakhir melukai diriku sendiri ..." Maxim meraih kopi dan menuangkan di cangkirnya . Tapi pandangan Brad masih terarah padanya , alisnya saling menyatu menyimpulkan tanda tanya .
Maxim menghirup nafas dalam-dalam , " aku putus dengan Julia , aku menemukannya bersama pria lain ..."
" Apa aku harus berduka untuk mu atau aku harus senang ..?" Brad memainkan alisnya lagi , menggoda adiknya .
" Yah kau bisa merayakannya , kau bisa mentraktirku untuk merayakannya " Maxim tersenyum kecut , menyuapkan roti Perancis panggang kedalam mulutnya . Brad ikut tertawa bersamanya .
Maxim tahu seluruh keluarganya tidak dekat dengan Julia sebelumnya , atau lebih tepatnya mereka tidak pernah menyukai mantannya itu . Dan sekarang terbukti bahwa dialah yang salah , Julia tidak baik untuknya .
" Apa yang terjadi dengan mobilmu..?" Brad menyesap kopinya , tapi matanya tak pernah lepas dari adiknya .
" Dan jangan lupakan dompet perempuan yang disana , kau tidak merampok wanita kan?" Brad menunjuk dompet Anna yang tergeletak di atas meja ruang tamu .
Maxim tersedak kopinya sendiri , mengumpat dalam hati karena kopi itu masih cukup panas . " Aku tidak pernah melakukan hal hal buruk seperti itu lagi " Maxim teringat bagaimana masa remajanya dulu , selalu pulang dalam keadaan mabuk dan biang masalah .
" Aku percaya padamu , tapi jelas itu bukan punyamu .." Brady tidak pernah seyakin ini kepada adiknya semenjak kejadian berdarah di Seattle .
Maxim menghela nafas panjang , sebelum akhirnya menceritakan mobilnya yang kempes tanpa ada ban cadangan hingga ia harus berjalan kaki untuk menuju rumah .
" Sebelum mencapai rumah , aku melihat seorang gadis di ganggu oleh Bill dan David , kau tahu kan dua ******** tak berguna itu .." Brady mendengar cerita adiknya dengan seksama . Kemudian ia teringat kejadian beberapa hari lalu , mereka juga membuat ulah di depan rumah nyonya Wilson , hingga membuat kaca jendelanya pecah .
" Perbuatan sudah keterlaluan , ingatkan aku untuk menghubungi Sherif nanti ..." Maxim mengangguk setuju .
" Dan siapa gadis itu ...? Tanya Brad penasaran , sambil menyuapkan telur urak arik pembuatannya .
Maxim menyesap kopinya lagi , " Anna , tetangga kita .." jawab Maxim enteng .
" Dan kenapa kau tidak mengembalikan dompetnya , malah mengoleksinya ...?!" Brad melotot pada adiknya , Brad tahu bagaimana sejarah masa remaja adiknya dan tetangga mereka Anna . Maxim tidak akan pernah berhenti membuat sebelum membuat Anna pulang dalam keadaan menangis .
Bibir Maxim berkedut , ia sedikit tersinggung ," bagaimana aku bisa mengembalikannya , begitu melihatku , dia langsung lari tanpa mengucapkan kata 'terima kasih' sialan , bahkan dia membanting pintu di depan wajahku .." Maxim menunjuk wajahnya sendiri .
Alis Brad saling bertaut , " tidak mungkin dia lari karena takut melihat mu, kau pasti mengucapkan kata-kata yang menyakitinya ..."
" Kecuali apa? Sudah kuduga kau pasti mengolok-olok nya lagi "
" Aku bersumpah tidak sengaja melakukannya , kata kata itu meluncur begitu saja dari mulutku "
" Yah , aku yakin dia tidak berpikiran begitu ..." Brad menyandarkan punggungnya di kursi , menatap adiknya yang sedang kalut .
" Apa yang harus kulakukan ..?"
" Apa lagi ? Datang padanya dan minta maaf ..., Aku tidak suka melihat Anna sedih , dia sudah seperti keluarga bagi kita .."
Maxim mengangguk , berniat bangkit menyudahi sarapan . Tapi ayahnya berdiri diujung jalannya , melotot padanya .
" Apa yang kau lakukan pada Annie , Maxim " Satu lagi polisi dalam hidupnya , selain kakaknya . Maxim memutar matanya , kesal . Ia seperti seorang terdakwa yang diinterogasi .
Maxim menggeleng , sebelum akhirnya menjawab kekhawatiran ayahnya . " Ini hanya kesalahpahaman ayah , tidak seperti yang kau pikirkan , tapi jangan khawatir , aku akan segera memperbaikinya "
Jo menatap putra tertuanya , begitu Maxim menghilang di balik kamarnya .
___________
Anna baru saja mengunci pintu rumahnya , hingga kemudian ia berbalik dan hampir menabrak tubuh keras seorang pria . Anna hampir saja menjerit karenanya , tapi buru buru ia menutup mulutnya . Tidak ingin terjadi kekacauan di pagi hari karena teriakannya .
Maxim tersenyum padanya , wajahnya terlihat lebih segar daripada semalam ia melihatnya . Rambutnya yang terlihat rapi tampak masih sedikit basah . Ingin sekali Anna menjalankan jari-jari nya di rambut seksinya , menelusuri bentuk rahangnya yang sialan tampan dan arogan . Pria itu memakai kemeja hitam yang memeluk erat setiap otot ditubuhnya , jangan lupa kaki jenjangnya yang dibalut jeans hitam .
" Anna..." Suara dan wangi pria itu memabukkan , tapi Anna segera sadar dan menguasai dirinya .
" Maaf aku harus segera pergi ke kampus.." Anna menunduk dan menegakkan kacamatanya yang bahkan tidak miring .
Berusaha melewati pria itu tapi Maxim mencekal lengannya , " kau akan pergi tanpa dompetmu ...? "
Anna mengibaskan tangannya , membuat Maxim terlepas dari lengannya . Tapi pria itu tidak memprotes , menggerakkan tangannya kebelakang , meraih sesuatu dan itu adalah dompetnya .
Anna buru buru menangkapnya , sebelum pria itu mempermainkannya lagi . " Terima kasih , tapi maaf aku harus pergi ..." Tanpa perlu menatap pria itu , Anna melangkah pergi .
" Hei , Anna ..!" Teriak Maxim dari belakang tubuhnya , Anna memberanikan diri meliriknya dari bahu .
" Anna maafkan aku , untuk semalam , aku menyesal mengucapkannya ..." Anna tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar , gadis itu sedikit berbalik menatap Maxim dari jarak dua meter .
" Dan maafkan aku , karena telah menjadi brengsek di masa remaja ..." Anna terdiam , Maxim terlihat sangat menyesal saat mengucapkannya tadi .
Tapi ia kembali teringat ketika ia kelas dua SMP , Maxim yang sedikit lebih tua darinya , sudah menginjak awal SMA . Pria itu meminta maaf didepan semua teman Maxim , Anna mempercayainya , tapi kemudian Maxim menertawainya lagi , kali ini lebih keras , dan temannya pun ikut tertawa .
" Aku tidak akan pernah pernah meminta maaf padamu , seumur hidupku .. " dan sekali lagi Anna dipermalukan , Anna menelan kepahitan itu .
Dan sekarang pria itu meminta maaf ? Anna bersumpah sejak saat itu tidak akan pernah mempercayai bualan Maxim lagi . Anna meninggalkannya tanpa sepatah katapun , tapi kegelisahan di dalam hatinya semakin berkecamuk . Bayangan Maxim dewasa yang sedang tersenyum sekarang menari nari dikepalanya , ia rasa ia sudah tidak waras .