
Perjalanan dari rumah Sarah seperti memakan ribuan tahun , Anna sebisa mungkin mengendalikan tubuhnya yang sudah tidak terkontrol . Debaran jantungnya semakin nyata terdengar , keringat dingin terus mengucur deras dari pori pori kulitnya .
Kadang kadang ketika pandangannya mengabur , Anna menggenggam erat pegangan tangan di dalam bus . Ia tidak tahu sampai berapa lama ia akan bertahan seperti ini , tubuhnya terus menjerit meminta sesuatu . Tidak ada yang bisa ia lakukan selain hanya terus memeluk dirinya sendiri .
Anna tidak menyangka jika Sarah dan Natalie berbuat seperti ini padanya , harusnya ia tidak ke pesta biadap itu .
Anna tidak mengerti kenapa beberapa orang di dalam bus berbisik dan tertawa dibelakangnya , sebuah tangan dingin menyentuh bahunya .
" Kau butuh bantuan ?" Anna membuka matanya susah payah , bibirnya terasa kelu . Saat ia kembali tersadar berada dalam sebuah bus , seorang pria jangkung tersenyum nakal dan melirik kearah celana jeans-nya . Anna tahu senyuman pria itu berkonotasi mesum , jadi berusaha melotot mengusir pria jangkung itu . Tapi pria itu tetap tersenyum dan merangsek maju , sekali lagi mata pria itu mengarah ke celana jeans-nya . Dan ketika Anna mengikuti pandangan mata pria itu , bola mata Anna membulat sempurna . Karena entah sejak kapan tangannya masuk kedalam celana jeans-nya , merogoh milik pribadinya .
Bis itu berhenti di halte yang masih terpaut satu blok dari tempat tinggalnya , Anna segera mendorong pria jangkung dan menerobos keluar begitu pintu depan terbuka . Kehormatannya telah hilang beberapa menit yang lalu , semua orang pasti telah memperhatikan perilaku janggalnya tadi .
Bloody hell ! Minuman sialan itu , Anna yakin ada sesuatu di dalamnya , mungkin sejenis obat perangsang .
Its crazy real !
Anna sangat marah hingga ia harus menangis sendirian dihalte tengah malam sendirian . Seharusnya ia berhenti di halte selanjutnya , tapi bus itu terkutuk . Semua orang didalamnya pasti menganggapnya mesum dan murahan .
God ! Kenapa hal memalukan selalu terjadi padanya , kenapa nasibnya selalu seperti ini .
Air mata Anna terus merembes saat ia berusaha berjalan menyusuri pinggir jalan , hanya ada lampu jalanan dan suara hewan malam . Rangsang*n itu semakin nyata ditubuhnya , Anna tidak tahu apakah ia sanggup berjalan satu blok lagi dengan kondisi badan seperti ini .
Di tengah tengah rangsang*n dan jalannya yang semakin terseok , Anna melihat bayangan dua pria berbadan besar . Awalnya mereka hanya sekilas melihatnya , kemudian mereka terkejut begitu menyadari itu adalah dirinya .
Pandangan mata Anna mungkin mengabur , tapi Anna sangat hapal postur tubuh mereka , itu Bill dan David sialan . Anna berbalik arah berusaha melawan serangan rangsangan yang ada ditubuh bawahnya , dan berlari sekencang mungkin . Tapi ia kalah dengan postur tubuh dan tenaga , sebuah tangan menyambar pinggangnya . Mereka berdua berguling ditanah . Dan Anna berada di bawah himpitan tubuh salah satu dari mereka , Anna tidak bisa melihatnya dengan jelas . Anna berusaha menjerit sekencang mungkin , kakinya berusaha menendang penyerangnya tapi sebuah tangan memblokir kaki lemahnya .
" Lepaskan aku , please..." Anna memohon di sisa tenaganya . Tapi yang ia dapatkan hanya serangkaian tawa besar yang mengejek .
" Melepaskan mu ?? Setelah semua yang kami alami ?"
" Kau pel*cur kecil , gara gara kau keparat itu hampir saja melubangi leher ku ! Pergelangan tangan ku patah !" Marah pria itu , ia yakin pria berbau busuk alkohol itu adalah David , ia ingat Maxim hampir saja menusuk lehernya saat itu .
" Ya ! Dia juga mematahkan hidungku ! Kau tahu rasanya tersadar dengan hidung patah !" Bill ikut berteriak di bawah kakinya .
Seluruh tubuh Anna gemetar , karena pengaruh obat dan juga karena ketakutannya . Oh lord .. Anna tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya sekarang ini , mungkin ia akan mati disini.
Ya Tuhan , dia masih sangat muda dan belum bahagia . Anna semakin tersedu , dan berusaha memohon , memohon belas kasihan untuk nyawanya . Tapi dua orang itu malah menertawakan dirinya .
" Bagaimana jika kita perkosa dia ? " Suara Bill membuat Anna semakin ketakutan dan berteriak dan memberontak . No tuhan , dia tidak ingin kehilangan keperawanan karena diperkosa .
" Itu ide yang bagus Bill , lihat badannya semerah tomat , sangat menggiurkan ..." David menjulurkan lidahnya , menjilati sepanjang rahangnya . Anna ingin mati saat itu juga , lord jangan biarkan itu terjadi .
" Dan lihat payud*r*nya " Anna menjerit saat David merobek kemejanya , payud*r*nya terekspos dalam balutan bra hitam .
" Anna!" Anna terlentang lagi , ia kenal suara itu .
" Anna ! Oh my God baby !" Anna membuka matanya , tapi wajah itu mengabur . Tapi ia mengenali bau cologne nya .
" Max ..." Tangan Anna menggapainya , ia merintih kesakitan .
" Kau aman , Anna . Kau aman , aku akan membawamu .." tangan pria itu meraih tubuhnya dalam gendongan , dan Anna meringkuk di lekukan lehernya . Bau pria ini sangat membuatnya nyaman .
" Max ,aku sakit..." Anna meringis , menggaruk leher Maxim .
" Aku akan membawamu kerumah sakit , tenang ok !" Suara Max penuh kekhawatiran , pria itu meraih pintu mobilnya . Menempatkannya di bangku penumpang , tapi Anna melawannya dan memeluknya kembali .
" No , Max ... Bukan itu ...aku... tidak tahan ...bir... sesuatu ..."
" Anna apa maksudmu ," jujur tubuh Maxim bergetar hebat saat ini , pakaian gadis itu berantakan , seluruh isinya dapat terlihat jelas . Pasti perbuatan biadab dua baj*Ngan itu , untung dia lewat tepat pada waktunya . Entah apa yang akan terjadi pada gadis ini .
" Max...tolong...f*ck...me...." Anna menangis dan memeluknya erat-erat . Tubuh Maxim kaku .
______&&
Smartphone Maxim bergetar di sebelahnya , dengan setengah mengantuk ia menyambarnya . Tanpa melihat siapa yang menelponnya , ia merapatkan ponsel itu di telinganya .
" Hm...?"
" Max ..!" Itu suara Brady kakaknya , meski setengah tertidur , Max bisa menangkap kekhawatiran dalam suara Brad.
" Brad , are you okay ?"
" Sorry brother , aku tahu kau lelah . Tapi ini penting ." Maxim membuka mata dan terduduk .
" Apa yang terjadi ? Dad tidak apa-apa kan ?"
" Tidak ini bukan soal Dad , Anna belum pulang Max . Dan ayah sangat cemas ,ia mendesak ku untuk mencarinya .." Max menggosok matanya , melirik gadis di sebelahnya yang tertidur pulas .
" Brad , bisa kau bilang pada dad ,Anna baik baik saja . Dia bersama ku " Maxim membersihkan tenggorokannya , Brady sempat hening disana .
" Oh God syukurlah , tunggu ! Apa artinya itu , kenapa dia bersama mu ? "
To be continued .....