
" Anna kau yakin tidak mau ikut bersama ku ?" Charlie sudah membersihkan counter nya dan bersiap pulang . Sementara hanya tinggal Anna karyawan yang tersisa .
" Tidak Char , arah kita berlawanan , Maxim pasti sebentar lagi sampai " Anna meringis menetralkan suasana hatinya , Anna tahu Charlie harus segera pulang karena istrinya sedang hamil tua dirumah . Waktu sudah hampir saja tengah malam , biasanya Maxim selalu tepat ketika menjemputnya . Malam ini entah apa yang terjadi , berkali kali ia menghubungi Maxim tapi selalu sibuk .
" Ann , ini kunci cadangan , tolong kunci saat pacarmu datang " Anna meraih kunci pemberian Charlie , jika Charlie tidak memberinya kunci cadangan mungkin Anna harus menunggu Maxim di pinggir jalan .
" Thanks , char "
" Malam Anna , kabari aku jika kau sampai rumah "
" Malam , hati hati di jalan char , salam untuk istri mu " Anna melambai Charlie menghilang di balik pintu . Sekarang hanya ada dirinya di cafe yang telah tutup itu .
Anna bergerak gelisah ditengah kesunyian , irama denting jam seperti menyoraki langkahnya . Masih tidak ada tanda-tanda dari Maxim , semua panggilan Anna masuk ke voice mail .
Rasanya jika mengejar bis disaat seperti ini pun tidak mungkin , apalagi ia kuatir kalau kalau Maxim tiba tiba muncul dan tidak menemukannya disini . Ketika Anna menoleh pada jam dinding di atasnya , ia akan menunggu beberapa menit lagi . Jika Maxim tidak juga muncul mungkin Anna akan bermalam disini atau menghubungi seseorang .
_______
" Sir , kau tidak apa-apa ?" Maxim terbangun dengan kepala pening yang menggerogoti seluruh kepalanya . Seorang pria asing menggedor pintu mobilnya dan mencoba membukanya .
Seluruh isi otak Max seperti menghilang sekejap , lalu ia teringat . Beberapa menit yang lalu ia sedang berkendara di tengah hujan lebat , kondisi badannya saat itu benar benar lelah . Ia baru saja melakukan syuting promosi sebuah film seharian , dan begitu pulang ia harus pergi untuk menjemput Anna . Max akui saat itu ia sedikit mengantuk , lalu tanpa ia sadari mobil lain berada tepat didepannya karena ia keluar jalur . Satu satunya pilihan max saat itu adalah membanting stir ke kiri dan body depan mobilnya langsung menghantam sebuah pohon .
" Kau terluka , aku akan menelpon paramedis . " Pria asing itu mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya .
" Jangan ! " Pria itu menoleh kaget , Max memegangi kepalanya yang sedikit perih . Mungkin sedikit luka sobek , tak masalah Max bisa menahannya .
" Tapi kau terluka sir , duduklah aku ..."
Sebenarnya saat Maxim memegang ponsel pinjaman itu yang ada dipikirannya adalah menelpon Anna , tapi sialnya Max belum menghapal nomor kekasihnya . Saat memencet tombol hijau Max berdoa orang yang ditelpon nya masih terjaga , karena hanya ini satu satunya nomor yang dia ingat .
" Angela ___ dengarkan aku , aku mengalami kecelakaan .."
" Apa kau baik-baik saja ?"
" Aku tidak apa-apa , tolong hubungi Anna untukku , bilang padanya untuk menunggu ku . Hanya nomor mu yang ada di kepala ku , oh ya panggilkan truk derek untukku , aku rasa mobilku sekarat "
" Ok aku akan menelpon Anna terlebih dahulu , kau yakin tidak apa-apa "
" Angela , Anna mungkin sekarang sedang gelisah menunggu ku , aku akan naik taksi online dari sini . Kau urus sisanya . Satu lagi jangan bilang Anna aku kecelakaan . " Max mematikannya sebelum Angela , lalu ia mengirimkan lokasinya saat ini pada Angela . Agar managernya itu bisa mengirimkan truk derek untuk mobilnya nanti .
" Maaf , sir . Jika Anda tidak keberatan saya bisa mengantarmu , kebetulan aku menuju ke Franklin Square ..." Hati Maxim sedikit berbunga mendengarnya , Franklin Square ? Cafe tempat Anna bekerja berada di kawasan Chinatown , ia bisa menumpang pria ini tanpa harus menunggu taksi online yang tidak pasti .
" Aku ikut , sungguh aku sangat berterima kasih . " Maxim menyalami pria yang baru saja dikenalnya , beruntung ia bertemu orang baik malam ini .
" Aku Steve Graham , tuan..."
" Maxim panggil aku Maxim " Maxim meraih tangan Steve , betapa senangnya dia .
______
Anna sedikit lega , saat Angela menelpon dan mengatakan Maxim dalam perjalanan menjemputnya . Ketika Anna menanyakan , kenapa bukan Maxim sendiri yang menelponnya . Angela beralasan , ponsel Max kehabisan daya baterei .
Saat Anna bergerak gelisah sambil melirik jam dinding , pintu depan terbuka membuat Anna terlonjak kaget . Tapi kekhawatiran Anna menguap begitu wajah Maxim muncul dari balik pintu . Wajah Max terlihat lusuh dibalik topi hitam yang dipakainya . Rencananya tadi saat sedang gelisah menunggu , Anna sudah berencana akan melancarkan amukan pada Maxim . Tapi melihat wajahnya yang terlihat lelah dan kuyu , Anna lebih memilih diam . Karena lelaki itu juga tidak banyak bicara , senyumnya seperti tertahan ketika melihatnya . Maxim hanya memeluknya sebentar lalu menariknya keluar .