
Konyol sekali , bagaimana mungkin Anna masih bisa merasakan bekas bibir Maxim di bibirnya . Ini gila , Anna menyukainya dan ingin merasakannya lagi . Yah mungkin ia memang sudah gila ! Mencintai Maxim itu larangan , pria sombong dan arogan itu pernah menyakitinya bertahun-tahun lalu . Dan ia takkan percaya , ketika tiba tiba pria itu menyatakan cintanya .
Its crazy !
" Anna ! Kau keterlaluan ...!" Nat dan Sarah berdiri angkuh di depan Anna , membuat bayangan Maxim menciumnya buyar .
Anna menatap proyek yang dibuatnya kemudian beralih ke Nat dan Sarah . Anna menghela nafas panjang , sepertinya ia harus ekstra sabar menghadapi dua selebriti kampus ini .
" Kau membuat kami malu di depan profesor Shane ..!" Kali ini Nat berbicara dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada , memamerkan belahan dadanya yang hampir tumpah . Anna tidak percaya baju seperti itu dipakai di kampus .
" Kalian mempermalukan diri kalian sendiri ..!" Anna melotot , seharusnya yang marah disini adalah dia . Ia mengerjakan sendiri proyek mereka sedang Nat dan Sarah hanya sibuk dengan ponsel mereka . Atau kadang mereka bahkan tidak datang sama sekali , dengan berbagai alasan . Anna sudah muak dengan alasan mereka , dan memutuskan meneruskan proyek mereka sendiri . Dan ketiga tiba waktunya presentase mereka , Nat dan Sarah bahkan tidak tahu bagaimana jalannya proyek itu , hingga profesor marah . Nat dan Sarah terancam tidak akan pernah mendapatkan nilai dikelas sang profesor jika Nat dan Sarah tidak segera mengejar ketertinggalan mereka .
Anna tidak peduli jika mereka marah , ia memungut semua berkas dan bersiap pulang . Hari ini ia dapat jadwal shift 2 dan waktunya hanya tinggal 30 menit lagi .
" Kalian tahu aku bahkan tidak peduli jika kalian , tidak lulus , kalian tidak pernah berpartisipasi dalam proyek ini , dan maaf aku sudah terlambat untuk melayani kalian .. !" Anna mau berbalik dan bergegas pergi . Tapi Sarah menahan lengannya , ketika mata mereka bertemu , Anna bisa melihat setitik air mata di mata Sarah .
" Anna aku mohon , .." Sarah menyenggol lengan Nat , gadis itu sedikit tidak mengerti .
" Nat , ayah ku akan marah jika aku tidak lulus di kelas ini ..!"
Nat melotot , " kau pikir , ayahku tidak akan murka ? Kelas sejarah ku juga berantakan , kalau di kelas ini aku tidak lulus . Ayahku mungkin akan menggantung ku ..!" Nat memejamkan matanya , membayangkan kemarahan ayahnya . Ia akan terancam semua fasilitas hidupnya jika kuliahnya berantakan .
" Aku tidak punya waktu untuk kalian ..!" Anna menggeram .
" Anna kami mohon beri kami kesempatan , proyek itu belum sepenuhnya selesai . Biarkan kami menyelesaikannya ....," Sarah menggigit bibirnya , pilihan gila . Ia bahkan tidak mengerti dengan proyek yang digarap Anna , meski ia akui proyek itu menakjubkan .
" Sar , kau gila ??" Nat berbisik di telinga Sarah .
" Aku akan lebih gila jika tidak lulus ..!" Sarah melotot , dan Nat setuju dengan Sarah , ia juga akan gila .
Anna tersenyum mengejek , " kau tidak akan .." ia tahu itu hanya bualan .
" Kami akan ..!" Kali ini Nat yang meyakinkan .
" Ya kami akan melanjutkannya , kau hanya perlu menjelaskan awalnya pada kami ..." Sarah memohon , ia akhirnya tersenyum ketika Anna mengangguk .
" Oh Anna terima kasih , kau meman teman baik kami .." dua wanita itu mendesaknya dengan pelukan , Anna ingin muntah , jika tidak terdesak dua wanita ini tidak mungkin berteman dengannya . Apalagi menyebutnya temannya . Bullshit !
" Ok , sekarang biarkan aku pergi kalian membuatku sesak , temui aku di rumahku besok .."
" Kau bercan...."
Sarah menyikut Nat dan memotong omongan temannya , " ok , di rumahmu ..."
" Halo.." Anna akhirnya mengangkatnya .
" Anna ..." Suara laki laki . Anna melihat ponselnya sekali lagi , memastikan nomor itu sekali lagi . Barang kali ia mengenal nomor itu . Tapi nihil , ia tidak menemukan bayangan suatu apapun .
" Ya .." Anna menjawab ragu ragu .
" Arah jam dua sayang , Porche putih ..." Anna kesal , siapa laki laki ini , beraninya memanggil dia sayang ?!
Anna menoleh dengan kesal , ada Porche silver terparkir di bawah pohon . Dan Anna tidak mengenali mobil itu milik siapa . " Siapa kau , beraninya kau memanggilku seperti itu ..!" Mata Anna melotot , ia yakin pria itu bisa melihat mata marahnya .
Pria misterius itu tertawa , sangat arogan , sedikit serak tapi begitu lunak . Dan Anna mengenal suara tawa itu . Tawa paling arogan yang pernah ia kenal .
" Max ....?" Bagaimana pria ini bisa tahu nomor teleponnya .
" Ya sayang , akhirnya kau mengenaliku ..." Panggilan itu lagi , memangnya Max pikir dia siapa ?
" Jangan coba coba memanggilku seperti itu ..! " Maxim tertawa lagi . Dan Anna sangat membencinya , permainan apa lagi ini . Untuk apa Maxim muncul di depan kampusnya .
" Kau akan menyukainya nanti .." Maxim selalu percaya diri, dan Anna tidak menyukainya . Baginya itu terkesan sombong .
" Tidak akan ..!" Anna melotot seolah ia bisa melihat mata Maxim di balik kaca mobilnya .
" Tidak ada perdebatan Anna , sekarang cepat masuk kedalam mobil ..! "
" Maaf ?" Kemana sebenarnya ini akan mengarah.
" Sangat jelas Anna , masuk . Kedalam mobil . sekarang . "
" Tidak akan!"
" Masuk kedalam mobil sekarang , atau aku akan datang kesana dan menaruh pantatmu disini "
Anna menahan nafas , kenapa pria ini . Anna seperti sedang menghadapi pacar posesif , tidak . Maxim bukan pacarnya . Anna tidak akan takut padanya , tidak akan lagi . Masa masa suram itu sudah tidak lagi , ia berjanji akan terus berjuang .
" Kau tidak akan berani " dan klik . Anna memutuskan panggilan Maxim , melempar jauh ponselnya kedalam tasnya . Ia tidak akan peduli jika pria itu menelponnya lagi .
Anna berbalik , tidak mau lagi melihat Porche sialan dan pemiliknya . Tapi ketika suara hempasan pintu mobil tertutup , Anna penasaran dan menoleh .
Anna tidak percaya , Maxim keluar dari mobilnya . Pria itu bak dewa Yunani berjalan , dengan kaos abu abu dan celana jeans yang memeluk setiap otot ditubuhnya . Sebuah topi topi dan kacamata hitam menutupi penyamarannya . Mungkin beberapa orang tidak akan tahu siapa pria tinggi dan kokoh dibalik topi dan kacamatanya itu , tapi Anna selalu tahu , ia selalu bisa mengenali Maxim. Meski pria itu menutupi seluruh wajahnya .