
Pagi itu Maxim terbangun dengan suasana hati yang sangat baik , ia tahu bagaimana pertengkaran mereka tadi malam . Tapi sebab pertengkaran itulah Maxim tahu , jika cinta Anna juga sama besarnya seperti miliknya . Setelah berdebat di dalam taksi akhirnya Maxim mengalah dan membiarkan Anna membawanya ke rumah sakit untuk mengobati lukanya . Meskipun sebenarnya luka itu tidaklah terlalu penting bagi Maxim , atau ia bisa menjahitnya sendiri seperti yang selalu ia lakukan saat masih di Washington .
Maxim menghirup nafasnya dalam-dalam , bersyukur ia sudah tidak lagi dalam kubangan hitam di Washington . Ia punya pekerjaan yang menarik dan mumpuni , dan juga pacar yang ada di dekapannya setiap pagi . Seperti pagi ini , sejak tadi malam Anna menyerahkan diri sepenuhnya padanya . Mereka terus menempel bahkan saat dalam tidur .
Jika sebelumnya Maxim sangat mencintai gadisnya , maka sekarang ia akan lebih lebih dan lebih mencintainya . Kehormatan baginya karena Anna memilihnya untuk menjadi yang pertama , mulai pagi ini ia tidak akan pernah membiarkan lepas dari pandangannya sedetik pun . Biarkan saja jika orang menyebutnya manusia gua , Maxim tidak peduli . Anna adalah miliknya mulai hari ini dan seterusnya .
Anna bergerak gelisah dalam tidurnya , posisi Anna sekarang berada tepat di atas tubuh Maxim . Dan posisi itu cukup menyulitkan Maxim , mengingat bahwa tidak sehelai benang pun yang memisahkan mereka . Maxim mengusap punggung telanjang gadisnya saat Anna bergumam dalam tidurnya . Lalu dengan begitu indahnya mata itu terbuka tepat di depan wajahnya , begitu indah meski tanpa polesan make up . Annanya adalah gadis yang sederhana , tidak pernah memakai makeup yang mencolok . Karena kecantikan Anna sendiri sudah mencolok , membuat jantungnya kadang tidak bisa berkompromi .
" Pagi sleepyhead ," Maxim menanamkan ciuman lembut di kening Anna . Dan Anna membalasnya dengan ciuman di bi*bir . Maxim membalasnya dengan penuh gairah , karena memang sejak bangun tadi dia sudah bergairah . Gesekan tubuh mereka terasa sangat nyata dan membuat Maxim tersiksa . Maxim tahu butuh waktu bagi Anna untuk menyesuaikan diri ,dan Maxim tak akan memperparah kondisi badannya dengan memaksakan kehendaknya .
" Sekarang biarkan aku mempunyai waktu ku di kamar mandi , sepertinya pagi ini aku harus mandi air dingin " ujar Maxim sambil mencubit gemas hidung pacarnya .
" Kenapa kamu tidak menginginkan ku ?" Anna cemberut tepat di depan wajahnya .
" Tidak bukan itu , aku hanya tidak ingin menyakitimu lagi . " Sekali lagi Maxim mencium gadisnya , meski sedikit cemberut Anna turun dari tubuhnya . Gadis itu tampak malu-malu menutupi tubuhnya dengan selimut mereka , menggapai underwear nya yang ada di ujung ranjang dan memakai kaos milik Maxim .
Maxim bangun dengan sikunya sebagai sandaran , ia bersiul memuja bagaimana kaos itu tampak sempurna memeluk tubuh pacarnya .
" Aku selalu memimpikan ini , terbangun dan memakai milikmu " ucap Anna , Maxim menaikkan sebelah alisnya . Jujur saja ia juga selalu memimpikan itu , dan mimpi mereka akhirnya terwujud pagi ini .
" Aku akan memasak , kamu bilang mau mandi " ucap Anna sambil memungut baju mereka yang berserakan di lantai , akibat kebrutalan Maxim tadi malam . Dan hati Anna remuk saat melihat kemeja kesayangannya robek dengan kancing yang hilang entah kemana .
" Ini kemeja kesayangan ku " ucap Anna sambil menaruh kemeja itu ditempat sampah , meski ia sedikit tidak ikhlas saat melakukannya .
" Kita akan beli kemeja baru nanti .." kata Maxim sambil mengacak rambut kekasihnya , pria itu berdiri di belakang Anna tanpa malu dengan kepolosan tubuhnya .
Anna menunduk malu , ia tidak mau bertabrakan pandang dengan tubuh Maxim yang sudah mengoyaknya tadi malam . Sakit itu masih nyata dimiliknya bahkan hingga pagi ini , ia sebenarnya sedikit kesusahan bergerak dengan leluasa .
Max menangkap rona malu di pipi Anna dan gerakan gadisnya yang kesusahan akibat ulahnya semalam . " Kamu tidak usah memasak sayang , tidur saja lagi . Dan aku akan membuat sarapan untuk kita "
Anna menatap kedalam mata Maxim , ia ingin fokus pada matanya agar tidak melihat yang lain . Karena tubuh Maxim sangat bugar dan liat , begitu juga bagian reproduksi nya . Membuat Anna meringis malu mengingat kejadian semalam , ia bahkan sempat menangis karena betapa sakitnya itu . Tubuhnya seperti terbelah menjadi dua dan bukti kemerahan di kejant*n*n Maxim adalah dari darah kesuciannya . Belum lagi bercak darah di sprei dan selimut mereka .
" Aku akan mandi ok , sementara kamu tidur lagi . " Anna hanya cemberut saat Maxim berlalu pergi dari hadapannya .
Tapi Anna tidak mengindahkan permintaan Maxim , ia justru membawa baju ganti dan mandi di kamar tamu . Kamar tamu yang ia maksud adalah kamar sebelah yang seharusnya untuk tamu tapi Maxim malah mengisinya dengan buku koleksi dan deretan sepatu koleksinya .
Maxim keluar dari kamarnya setelah Anna baru saja membuat telur orak-arik untuk mereka , pria itu berdecak kesal dan melampiaskan kekesalannya dengan membawa Anna dalam pelukannya dan menyesap lehernya menandai wilayahnya .
" Bagian mana yang tidak kamu mengerti , hmm..."
Anna menaruh sendok tepat di bibir kekasihnya , " jangan bicara , sekarang biarkan aku memasak untukmu . Aku tidak cacat , hanya sedikit cedera " Maxim tersenyum mendengarnya .
" Bagian mana yang cedera , biarkan aku merawatmu ." Goda Maxim . Anna merona mendengarnya , ia melepaskan pelukan Maxim dan mengambil bahan lain untuk sarapan mereka . Bahkan bukan hanya pipinya yang memerah pagi ini , saat ia melihat tubuhnya di kamar mandi bercak merah terlukis di area dada dan lehernya . Anna tidak mengerti bagaimana pria itu menahan diri selama ini .
" Untuk apa ?" Tanya Anna heran .
" Untuk menjadikan aku yang pertama ," lagi lagi Anna merona dan Maxim menghadiahinya ciuman di seluruh garis rona pipinya .
Mereka mencuci piring bersama setelah sarapan sederhana yang penuh cinta pagi itu , sejak malam itu mereka saling menempel satu sama lain . Dan jangan lupakan , bumbu ciuman yang selalu keduanya lakukan . Itulah kenapa sarapan kali ini terasa lebih panjang .
" Kamu ada kuliah pagi ini ?" Tanya Maxim . Anna menggeleng sambil terus mengelap perlengkapan dapur mereka .
" Apa kamu akan bekerja hari ini ? " Lirik Anna .
" Aku juga sudah mengosongkan jadwalku pagi ini " Itu artinya seharian ini mereka punya waktu bersama , dan bayangan itu lagi lagi membuat Anna berdebar .
Begitu pekerjaan mencuci piring selesai , Maxim langsung menarik Anna ke sofa di ruang tamu dan mendudukkan tubuhnya diatas pangkuan Maxim .
" Bisakah aku duduk sendiri protes Anna , " ia takut jika kejadian semalam akan terulang lagi , mengingat area vitalnya yang masih tidak nyaman .
Dan Maxim menangkap pergerakan itu , ia menarik Anna agar lebih nyaman duduk dalam dekapannya . " Tenang saja , aku tidak berniat untuk menyakitimu lagi , setidaknya untuk hari ini " Anna menatap mata Maxim yang begitu dekat dengan wajahnya . Ia bisa bernafas lega hari ini , setidaknya ia bisa memulihkan kondisi badannya yang sedikit trauma .
" Ada yang harus aku bicarakan denganmu sayang ?" Ucap Maxim sambil terus mengusap lengan Anna hingga membuat gadis itu nyaman duduk di pangkuannya .
" Apa itu penting ?" Anna berucap sambil memejamkan matanya , posisi ini membuatnya nyaman dan mengantuk .
" Sedikit , " tampak Maxim menghirup nafas dalam-dalam .
" Aku harus ke LA pagi ini sayang " Anna langsung membuka matanya , dan melihat kecemasan dalam wajah Maxim .
" Apa ada masalah penting ? Kenapa kamu terlihat cemas ?"
" Aku cemas , siapa yang akan menjemputmu malam ini " Sekarang Anna mengerti , jadi itulah yang membuat Maxim cemas selama ini . Sebenarnya ia lupa bercerita bahwa Anna sudah memutuskan untuk resign dari pekerjaannya . Kejadian semalam benar benar membuat Anna berpikir keras . Dan akhirnya ia menelpon Charlie pagi tadi .
" Kenapa diam saja ? Bisakah kamu menelpon bosmu , minta padanya cuti tiga hari lalu ikutlah denganku ke LA .
"
" Aku tidak bisa , aku ada ujian besok pagi .dan untuk masalah pekerjaanku , aku sudah menelpon Charlie pagi ini .." Anna melirik Maxim yang dengan setia menunggunya bicara .
" Aku memutuskan untuk resign .." raut muka Maxim berubah dengan cepat , pria itu terlihat berbinar .
" Sayang , kamu serius ?" Anna mengangguk dan diikuti dekapan hangat dari kekasihnya .