
Anna menggendong putranya dalam dekapan , matanya terus menatap bekas apartemennya yang sudah menghitam . Api telah berhasil dipadamkan , dugaan sementara adalah arus pendek listrik ditambah lagi tidak adanya alarm kebakaran . Katie yang saat itu sedang tertidur menemani Kevin tidak mengetahui adanya kebakaran sampai bau asap memenuhi ruangan . Anna tak berhenti bersyukur bahwa dua orang yang paling dia sayangi keluar dengan selamat , paramedis telah memeriksa tidak ada asap berlebih yang terhirup keduanya . Begitu juga Maxim setelah melontarkan ucapan yang menurut Anna konyol dan hanya lelucon , pria itu bersedia diperiksa . Tidak ada hal apapun yang perlu di khawatirkan dari Maxim , pria itu sehat seperti yang diharapkan Anna .
Anna melirik lagi pada Maxim pria itu masih sibuk menelepon entah dengan siapa . Beberapa tetangganya mengungsi ke rumah saudara atau bahkan di rumah penampungan Katie . Anna pun hendak pulang bersama Katie jika Maxim tidak bersikeras memborong mereka berdua .
Anna menatap wajah lugu putranya , pria kecil itu tertidur di dalam lengannya . Memikirkan sekali lagi , Kevin memang membutuhkan sosok seorang ayah . Hati Anna jatuh membayangkan darah siapa yang mengalir dalam diri putranya . Ia sangat berharap Kevin mewarisi darah Maxim , tapi dia akan sangat kecewa jika itu adalah Jamie . Hati Anna sakit memikirkannya .
Maxim menaruh kembali ponsel di saku celananya , pandangannya kembali tertuju pada Anna . Wanita itu sedang memeluk putranya yang tertidur sambil terus menatap gedung hitam bekas apartemennya .
" apa yang sedang anda pikirkan ..." Maxim mendekati Anna , melabuhkan tangannya di belakang punggung Anna .
Anna sedikit merasakan getaran dari sentuhan itu . " mungkin ada beberapa barang yang masih bisa diselamatkan .. " Anna menatap jauh dimana flatnya berada .
Maxim semakin mengeratkan pelukannya , diciumnya puncak kepala Anna dan Kevin anak itu berbau luar biasa dan menggemaskan . Sementara Anna memandang takjub padanya , tidak terasa dia meneteskan air mata bahagia . Pemandangan yang selalu ia bayangkan sejak dulu . Anna buru buru menutup air matanya dari Maxim tidak mau pria itu memergokinya lagi .
" jangan berpikir untuk kembali lagi kesana , hati saya sakit membayangkan anda ada di sana , ditambah kejutan Kevin ..." Maxim menyentuh kepala Kevin , balita itu masih tertidur dalam pelukan ibunya .
" kami akan berbelanja untuk kalian .." Anna menoleh padanya .
" saya tidak ingin merepotkan Anda , saya bisa tinggal bersama Katie .." Pandangan Maxim mengeras , sentuhan tangannya terasa memanas di punggung Anna .
" Max , aku...aku tidak tahu harus berkata apa " Anna berbalik dan menyembunyikan tangisnya di dada bidang Maxim .
" anda tidak sendiri Anna , saya akan terus ada disisi anda ..." Anna mendongak keatas menatap birunya mata Maxim .
" tidakkah anda membenci saya , saya tidak lagi sendiri Max , mungkin saja Kevin ..."
" sstt..." Maxim menaruh telunjuknya diatas bibir gemuk Anna , bibir yang selalu dia rindukan . Wanita itu telah bertransformasi menjadi wanita kuat yang mandiri , belum lagi lekuk tubuhnya yang terlihat lebih berisi pasca melahirkan Kevin .
" buang pikiran itu jauh jauh Anna , saya mencintai anda dan juga Kevin , saya tidak peduli darah siapa itu , kalian adalah milik saya. " Anna kembali terenyuh , kata kata Maxim telah membuat hatinya meleleh . Jika saja pria itu tidak memegangnya mungkin dia sudah jatuh saat ini juga .
" maafkan saya bersikap kasar pada anda sebelumnya , saya telah mengacaukan meeting anda .." Anna mengusap dengan kasar air di hidungnya . Sikapnya beberapa waktu lalu terlihat konyol jika dipikir-pikir .
Maxim memberikan senyum terbaiknya , diambilnya seuntai rambut yang menghalangi wajah Anna , " saya sudah memaafkan , lagipula itu salahku juga , saya telah menguntit anda sebelumnya .." Maxim juga tersenyum membayangkan sikap konyolnya , betapa dia tidak sabar untuk memiliki Anna lagi dalam hidupnya .
" ayo saya akan membawa kalian berdua pulang . " Maxim menuntunnya menuju mobil sport putih , pria itu membukakan pintu untuknya . ketika dia kesusahan untuk memasang sabuk pengaman , Maxim yang juga ikut bergabung disisi kemudi memasangkan sabuk untuknya .
Anna memejamkan matanya , menghirup aroma Maxim dari dekat sangat membuatnya gila . " kita akan segera membeli carseat untuk Kevin ..." ujar Maxim sambil memasukkan perseneling dan meluncur keluar ke jalan raya .
Anna sudah akan memprotesnya sebelum Maxim lebih dulu memotongnya , " jangan mencegah saya memanjakan Kevin , dia adalah hidup saya juga sekarang " Dan Anna kembali menahan nafasnya , apakah ini nyata .