Maximilian's Love

Maximilian's Love
Bab 17



Lonceng diatas cafe berdenting , saat Anna membukanya . Charlie menoleh padanya , dan tersenyum simpul . Anna sangat bersyukur tidak terlambat pergi bekerja , karena ia merasa tidak enak pada Charlie . Pria berumur empat puluhan itu sudah begitu baik padanya , bahkan Anna sempat minta ijin sakit padahal ia saat itu pergi ke klub dengan Bonnie . Dan Anna sangat merasa bersalah pada Charlie .


" Hai Charlie ." Sapa Anna .


" Hai Ann , tangkapan yang bagus sayang ." Mata Charlie melirik pada jalanan tempat Maxim menurunkannya tadi .


" Oh tidak Charlie , dia bukan siapa siapa , kami bahkan tidak berkencan " Anna memastikan , tapi sepertinya Charlie kurang begitu puas dengan jawabannya .


" Yah dan aku yakin dia juga bukan sopir mu , pertahankan itu sayang , aku sepenuhnya mendukungmu " Charlie sedikit membungkuk di telinganya dan berbisik .


" Tentu ." Anna terpaksa tersenyum , ia tidak ingin membantah bosnya .


Anna melangkah ke ruang ganti , hatinya benar-benar gelisah . Ia harus bicara dengan seseorang . Seseorang yang mengerti dirinya . Anna mengirim pesan WhatsApp untuk Jocey , beruntung sahabatnya itu sedang online .


Kau ada waktu Minggu ini ? Anna mengirim send dan ia berkedip senang saat Jocey sedang mengetik .


Aku dirumah sayang , jika kau membutuhkan ku .


Anna cepat mengirimkan balasan .


Ok aku akan kerumah mu besok .


Anna cepat berganti pakaian kerja sementara menunggu balasan dari Jocey .


Ok . Aku akan mengirim lokasinya padamu .


Anna mengernyit heran .


Aku sudah pernah ke rumahmu ingat ?


Ponselnya berkedip lagi , dan sebuah peta lokasi terkirim . Anna mencermati peta lokasi itu , titik merah di peta menunjukkan daerah pinggiran sungai Daleware River .


Kami sudah tidak tinggal disana , akan aku ceritakan nanti . Tidak sabar menanti mu ..


Anna tersenyum saat Jocey mengirim emoji padanya .


_______


Maxim terbangun dan meraba raba dimana ponselnya berada , matanya menyala merah saat melihat jam sebelas malam di ponselnya . Dan tidak ada panggilan tak terjawab satu pun dari Anna . Gadis itu mengabaikannya .


Maxim berjalan sempoyongan setengah mengantuk , dan memakai asal pakaiannya . Maxim sampai di Charlize lima belas menit kemudian , itu suatu catatan rekor baru . Mengingat ia menyetir dalam keadaan setengah mengantuk , dan bersyukur ia tidak menabrak seseorang atau sesuatu .


Dan sialnya Charlize sudah gelap gulita saat ia sampai disana . Maxim memukul stir mobilnya dengan kesal , memanggil Anna melalui ponselnya . Tapi gadis itu tidak merespon .


Maxim putar balik dan menginjak pedal gas menuju pinggiran kota , dimana Anna tinggal . Rumah Anna tampak senyap dari kejauhan , tapi Maxim tahu gadis itu ada dirumah  dengan melihat setitik cahaya di kamar gadis itu .


Maxim melempar pintu mobilnya dengan keras begitu pun saat ia menggedor pintu Anna . Ia marah , kesal dan khawatir , tidakkah gadis itu tahu kecemasannya . Ia sudah membuat gadis itu berjanji , namun nyatanya Anna mengingkarinya .


Anna terbangun dengan rasa pening dan kantuk menjalari seluruh kepalanya . Ia baru saja tertidur setengah jam yang lalu , ketika suara gedoran menggebu di pintu depannya . Ingin ia mengabaikannya , tapi setiap menit gedoran dan teriakkan semakin nyata terdengar .


Anna terhuyung saat membuka pintu , angin langsung menerpa wajahnya , beruntung malam itu tidak terlalu dingin . Tapi ia tidak menyangka jika Maxim akan marah ketika ia tidak menelponnya . Pria itu sungguh berantakan , celana olahraganya menggantung asal asalan , sementara kemejanya dibiarkan terbuka , menandakan pria itu terburu buru saat pergi .


" Kau mau membangunkan seluruh kota ?!" Anna melotot pada matanya yang setengah mengantuk .


Maxim menghembuskan nafas kasarnya , tidak tahukah gadis ini jika ia terbangun seperti orang gila saat melihat jam sebelas malam di ponselnya , tanpa pesan atau panggilan telepon . " Bagian mana yang tidak kau mengerti tentang meneleponku setelah kau selesai ?!"


" Aku sudah dewasa , aku bisa mengurus diriku sendiri " semburan kata kata Anna membuat Maxim bergetar . Ia menyadari karena bentakannya tadi , ia melihat ketakutan diwajah Anna . Mungkinkah Anna takut padanya , ia tidak ingin hal itu terjadi , ia ingin menyayangi gadis . Bukan membuatnya ketakutan .


" Harusnya kau meneleponku Anna , aku sangat khawatir .." Maxim melembutkan nada suaranya . Tapi Anna tidak peduli , gadis itu berpaling menghindari tatap mata dengan Maxim .


" Aku bukan siapa siapa mu Maxim ! Kau tidak berhak memperlakukan aku seperti itu ! "


" Aku tetanggamu , aku berhak memperlakukan mu seperti itu "


" Oh ya ?! Apa kau mengantar jemput semua tetangga mu ?!" Anna tertawa dalam hening .


" Kalau begitu jadilah kekasihku .." yang dilakukan Maxim hanyalah berdiri kaku didepan wanita itu , bukan hanya Anna ,Maxim pun kaget dengan ucapannya sendiri .


" Aku akan menjagamu , kau tidak perlu lagi naik bis di tengah malam .."


Anna tidak tahu apa yang harus dikatakannya saat ini , bibirnya kelu . Ini permintaan kedua Maxim , agar ia menjadi kekasihnya .


" Anna..." Panggilan Maxim membuat Anna tersentak , pria itu masih berdiri di situ , menanti jawabannya .


" Apa apaan kau Maxim !! " Anna dan Maxim saling menoleh , Johannes Lockwood , ayah Maxim berdiri tak jauh dari mereka , dan pria tua itu menenteng senapan berburunya .


" Dad ,?! Kau mau menembakku dengan senapan itu ?" Tidak hanya Maxim ,  Anna pun sampai terengah melihat kedatangan ayahnya . Pria ini benar benar menepati janjinya .


" Kau membuat keributan Maxim ! Aku pikir Anna sedang dirampok ditengah malam !" Jo melirik Anna , bersyukur tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan gadis itu , ia baru saja terlelap setelah memastikan Anna pulang dari kerja . Rutinitas itu Anna tidak pernah mengetahuinya , ia tidak akan tidur sebelum gadis itu pulang . Bahkan ia tahu saat Anna tidak pulang semalaman beberapa hari yang lalu , Jo tetap menjaga mulutnya rapat-rapat meski pria itu penasaran setengah mati . Apalagi ketika keesokan harinya , Anna pulang bersama Maxim , putranya .


" Jo , tidak apa-apa , hanya ada kesalahpahaman disini " Anna masih merinding , Jo bahkan tidak menurunkan moncong senapannya sedikitpun , dan moncong itu mengarah pada Max .


Mata Jo beralih pada Anna , " inilah yang aku takutkan sweetheart  , ketika kau tidur sendirian di rumah ini , pengacau atau bahkan perampok bisa saja datang kesini "


Mata Maxim melotot saat kata kata ' pengacau dan perampok ' mengarah padanya . " Dad ! Aku bukan pengacau ataupun perampok !"


" Kau tidak ! Tapi ya kau mirip dengan itu , apalagi jika bukan pengacau , berteriak dan mendobrak pintu orang ditengah malam , apa kau mau Sherif datang kesini dan menangkapmu ?!"


Maxim melotot , tapi ya . Ayahnya memang benar , dia memang mirip dengan itu , bahkan Anna ketakutan melihat wajahnya tadi .


" Well , aku tahu aku salah , maaf . " Jo tidak bergeming . " Dad , kenapa senapan itu terus mengarah padaku ?!" Maxim membentak marah .


" Senapan ini akan terus mengarah padamu sampai kau pulang ke mansion mu !"


" What!! Dad , aku mau tidur disini !" Maxim menunjuk rumah ayahnya , tidakkah ayahnya mengerti . Saat ini jujur ia sedang ngantuk berat dan ia ingin segera merangkak ke tempat tidurnya , bukan kembali berkendara ke mansionnya .


Anna menyembunyikan senyuman gelinya , Anna tidak menyangka jika Maxim yang sekarang adalah anak yang takut pada ayahnya .


" Tidak , Anna yang akan tidur dirumahku , kau kembali ke tempatmu . Tidak baik jika Anna tidur satu rumah dengamu setelah kejadian ini . "


Anna sempat ingin menginterupsi tapi Jo menahannya , " tidak ada bantahan Anna , aku sudah berjanji pada ayahmu . Tidak baik bagimu tidur sendirian setelah kejadian ini " mata tegas Jo membuat Anna tidak bisa berkutik . Ketika pria itu sudah menyebut janjinya kepada ayahnya sebelum ayahnya meninggal .


" Mari sweetheart , aku dan Brady akan menjagamu , kau bisa tidur dikamar Jocey ." Anna menatap cemas saat melihat sorot mata Maxim , ia tahu pria itu masih mengantuk saat mengemudi kesini . Tapi tidak ada yang dapat dilakukannya , sudah berbulan-bulan ia meyakinkan Jo bahwa ia baik baik saja tidur di rumahnya sendiri . Dan ketika hal ini terjadi , Jo tidak memberikannya pilihan lagi .


Anna bergerak kearah Jo , setelah mengunci rumahnya . Ia sempat melirik sekilas Maxim tadi ketika ia melewatinya , kenapa ia jadi merasa bersalah sekarang . Maxim tidak bisa tidur lagi dirumah ayahnya karena dia .


" Dad tidakkah kau pilih kasih ?! Aku ini anakmu ! Aku tidak akan menyakiti Anna !" Maxim berteriak setelah Anna dan ayahnya mulai menjauh . Sebenarnya ia tidak masalah ataupun sakit hati saat ayahnya melarangnya tidur dirumah . Ia hanya ingin punya kesempatan untuk dekat dengan Anna .


" Cepat kembali ke mansion mu atau aku akan mulai menembak kakimu .." Jo berlalu sambil mengacungkan ujung senapannya kebelakang .