
" Kalian tidur bersama ?!" Anna menghentikan garpunya diatas sarapan paginya . Brad dan Jo hampir saja bertanya bersamaan , dua pria itu kini duduk di depan dia dan Maxim . Mata mereka penuh penghakiman , dan Anna menelan ludahnya kasar .
" Tidak !" Tentu saja Anna akan menjawab tidak , tapi jawaban Maxim selanjutnya membuat lehernya seperti tercekik .
" Iya ." Pria itu berujar dengan santai dan Anna melotot tajam padanya .
Maxim mengangkat bahunya acuh , lalu ia buru buru meralat ucapannya tadi . " Secara teknis kita tidur bersama , sayang ." Panggilan itu , Anna langsung memerah karenanya , apalagi di hadapan Jo dan Brady .
" Sayang ? Wow ?" Brady mengunyah makanannya sambil tersenyum sinis . " Sepertinya baru kemarin aku melihat kalian seperti kucing dan tikus " imbuh Brady , lalu ia melirik ayahnya yang sudah merah padam seperti kebakaran jenggot .
" Jo , percayalah kami hanya tidur . Tidak melakukan apa-apa " Anna berusaha meyakinkan Jo , karena sebenarnya ia khawatir pria tua itu terdiam sejak tadi .
" Anna , untuk apa kau menjelaskan hal ini pada ayahku . Kita sudah dewasa sayang ." Anna meliriknya sekilas , meski Anna baru saja menyukai pria ini tapi tetap saja ia tidak bisa sependapat dengannya kali ini .
" Hentikan kegilaan ini Maxim ! Berhenti bermain main !" Jo membanting garpunya kasar dan melotot pada putra bungsunya . Anna yang merinding melihatnya , justru berbanding terbalik dengan brady . Pria Flamboyan itu justru tertawa menanggapi kemarahan ayahnya . " Dad sebaiknya kau mengambil senapan mu " Brady tersenyum lagi lalu melirik pada saudaranya .
" Dasar Kep*r*t!" Maxim membalas saudaranya dengan tatapan mata tajam .
" Berhenti mengumpat di meja makan ! Jika kau masih ingat kata kata tadi Max , pikirkan baik baik . Karena aku adalah wali Anna sekarang , dan ya aku tidak akan segan menodongkan senapan ku , jika kau berani menyakitinya "
" Jo ,Maxim tidak bermaksud seperti itu ..." Anna berusaha menenangkan pria tua itu , tapi pria itu tetap berkeras hati .
Maxim bahkan tidak percaya kata kata tadi keluar dari mulut ayahnya . Ia ingat terakhir kali ayahnya berucap seperti itu adalah saat ia meninggalkan Jocey di sebuah pesta bujangan dan ayahnya mengusirnya malam itu . Hati Maxim seperti tercabik lagi , sudah bertahun tahun ia berubah dan menata hidupnya . Membuat ayahnya terkesan dan meyakinkan pria itu bahwa sekarang ia adalah orang yang berbeda , orang yang lebih baik . Tangan Maxim lemas saat itu juga , pisau dan garpunya menggelinding nyaring diatas piring .
" Aku tidak percaya kau mengatakan itu padaku ?!" Maxim dan ayahnya saling beradu pandang sementara Anna jantungnya berdebar cemas , ia menyesal jika keluarga ini harus bertengkar karena dirinya . Semua ini karena sifat provokatif Brady dan pria itu hanya tersenyum santai saat Anna melotot padanya .
" Justru karena kau putraku , aku tahu seperti apa kau " Jo menuding putranya dengan jarinya yang membuat darah Maxim semakin mendidih .
" Aku seperti apa!" Maxim berdiri dan menggebrak meja didepannya , Anna saat itu duduk disampingnya menoleh kaget . Dan ia takut pada bara amarah yang berkobar di mata Maxim .
" Max , tenanglah ..." Anna menyentuh lengan pria itu , tapi Maxim mengabaikannya .
" Aku bekerja keras bertahun-tahun , berusaha membuatmu bangga . Dan ini yang kau katakan padaku ?! Kau bahkan tidak percaya padaku ?" Hati Anna sedikit hancur ketika melihat Maxim menendang kursi di belakangnya dan meninggalkan meja makan begitu saja . Dan yang tidak Anna percaya , saat Maxim menghilang dari pandangan mereka , Jo dan Brady justru tertawa puas .
" Apa yang kalian lakukan ?" Anna menatap dua pria didepannya bergantian .
" Kalian menyakitinya dan sekarang kalian malah tertawa ?" Jujur saja Anna kesal . Jo dan Brad saling bertukar pandang .
" Anna kau tidak perlu takut , jika Maxim menggodamu , katakan saja pada kami . Kami akan dengan senang hati memukulnya untuk mu " sebenarnya Anna sangat marah dan ia ingin sekali melemparkan garpu ke wajah Brady , tapi ia masih berusaha bersikap sopan .
" Asal kalian tahu , bukan Max yang menggodaku . Tapi aku yang menggodanya ..." Anna cepat berbalik dan meninggalkan Jo dan Brad di meja makan , ia bahkan tidak ingin tahu bagaimana reaksi wajah mereka saat ini . Dan kata kata tadi sepertinya sungguh memalukan .
" Kau akan meninggalkan aku begitu saja ? Kau sudah berjanji padaku Max !" Anna sedikit mendongak ketika mereka berhadapan .
" Anna sebaiknya kau kembali kedalam , aku tidak baik untukmu "
" Jadi kau tidak baik untukku ? Itukah kenyataan nya ? Kau memang baj*Ngan ! " Anna memukul dada Maxim sekuat tenaga , tapi entah kenapa justru tangannya yang sakit . Dan juga hatinya .
" Apa yang harus kulakukan Anna , aku mencintaimu , tapi bahkan ayahku tidak percaya padaku !"
" Aku tidak peduli ! Kau baj*Ngan , disini kau membuat aku jatuh cinta lalu kau mau pergi begitu saja ? Aku bersumpah akan membencimu se__" Maxim tidak ingin gadis itu melanjutkan ucapannya , dan ia membungkamnya dengan ciuman panas paling menggairahkan . Maxim bersandar pada body mobilnya sementara Anna merapat pada tubuhnya dan gadis membalas ciumannya , seperti pencium ulung .
" Aku juga mencintaimu.." balas Maxim akhirnya ketika ciuman itu telah reda .
" Jangan tinggalkan aku..." Anna tidak peduli jika sekarang menjadi murahan karena memohon pada seorang pria .
" Tidak akan pernah ..." Jawab Maxim kemudian meletakkan beberapa helai rambut Anna kebelakang telinga gadis itu . Ini sungguh luar biasa gila , karena ia begitu menyayangi gadis . Dan memeluknya mencari kehangatan di tengah udara dingin pagi hari .
" Sedang apa kalian diluar ?" Suara seorang wanita muncul dari arah belakang mereka , dan Angela yang sudah tampak rapi berjalan beriringan dengan seorang pria separuh baya yang kelihatan rapi dengan setelan jas mahalnya .
" Pagi .." Anna menyapa mereka dengan malu malu karena Maxim masih saja memeluk pinggulnya posesif .
" Pagi Anna , sebaiknya kalian bersiap . Karena Sherif akan datang sebentar lagi ." Lalu Angela berjalan melewati mereka .
" Sherif ??" Anna bertanya kepada Maxim tapi pria itu tidak menjawab .
" Pagi Mr. Lockwood , and Miss Hunt aku kira ?" Pria yang masih terlihat tampan itu Anna yakin umurnya mungkin 50 an . Sama seperti Angela , pria itu juga tidak banyak bicara setelah menyapa mereka .
" Kenapa Sherif kesini ?" Anna bertanya lagi .
Maxim mengusap rambut gadisnya yang terlihat bercahaya dibawah matahari pagi . Dan Anna masih setia menunggu jawaban dari pria didepannya .
" Max..."
" Kami memutuskan , melakukan penyelidikan di rumah . Dan mengundang Sherif kesini , agar membuatmu nyaman . Aku tidak mau membuatmu tidak nyaman di kantor polisi , apalagi dua ******** itu masih disana ."
" Oke ?" Anna menarik nafas dalam-dalam , jika boleh mungkin Anna ingin melupakan kejadian malam itu . Namun jelas pagi ini semua orang ingin menguak cerita itu .
_______
To be continued