
" Telepon dia Anna ," Anna menggeleng ketika Jocey menyuruhnya . Sahabatnya itu hanya mendesah .
" Kenapa ? Aku yakin Maxim juga sama marahnya saat melihat berita itu .."
" Aku merasa buruk Joce , seolah semua yang mereka tulis itu benar .." Anna menyembunyikan letupan air matanya yang sudah tidak tertahankan . Jocey lalu memeluk sahabatnya itu .
" Sayang itu tidak benar ..." Hibur Jocey .
" Itu benar Joce , aku ini seperti gundik baginya , dia membiayai hidupku , lalu aku tidur dengannya ..." Anna meratapi nasibnya , menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya .
" Apa ?! Kau sudah tidur dengannya ?! Ya ampun Anna , bagaimana rasanya , dia pasti sangat kuat ??"
" Jocey ..! " Anna mendelik , harusnya ia tidak menceritakan hal intim itu pada sahabatnya .
Jocey tertawa terbahak bahak sambil menyenggol lengan sahabatnya .
" Aku tidak tahu cara menghadapinya nanti ..." Anna melamun jauh kedepan saat ponsel Jocey berdering . Gadis itu mengangkat alisnya , sementara Anna tidak mengerti maksudnya .
" Max ?? " Anna langsung menegakkan tubuhnya begitu nama Max keluar dari mulut Jocey .
" Berikan ponselmu pada Anna .." perintah Max diujung sana . Jocey menatap sebentar layar ponselnya , untuk memastikan bahwa sepupu bajing*nnya Max yang menelpon .
" Hei sial*n , seharusnya kau menyapaku dulu , sebelum menyuruhku seperti pelayan . " Ucap Jocey kesal .
Maxim tertawa senang diujung sana , entah kenapa ia akan merasa senang ketika berhasil membuat sepupunya itu kesal .
Tapi Jocey tetap bersikeras memaksanya dan meninggalkan Anna sendirian berdalih ia harus memeriksa kue yang baru saja mereka buat . Kebiasaan mereka ketika bertemu adalah selalu memanggang kue , entah itu resep lama atau hasil inovasi mereka . Anna merasa menjadi dirinya sendiri ketika sedang memasak bersama Jocey . Tidak ada sahabat lain seperti Jocey , Jocey adalah pelengkap dari kekurangannya .
" Babe , aku tahu kamu disana ." Anna tidak menjawab tapi hembusan nafas Anna cukup membuat Max tahu bahwa Anna mendengarnya saat ini .
" Dengarkan aku sayang , abaikan gosip murahan itu . Tim ku sedang menanganinya , yang perlu kamu lakukan adalah , pulang kerumah lalu tunggu aku pulang " Anna tetap diam tapi diam diam juga air matanya mengalir deras , suara Max yang jauh disana membuat Anna merasa rindu .
" Babe aku tidak bisa terlalu lama bicara , aku harus pergi . Tunggu aku dirumah sayang ..." Saat Anna menyudahi sambungan telepon , Jocey menatapnya haru .
" Gosip ini benar benar membuat aku terpukul , aku tidak tahu harus bicara apa padanya . " Anna menggeleng berusaha menghapus air matanya , tapi alirannya malah semakin deras . Dan Jocey bergabung bersamanya , memberinya pelukan hangat .
" Aku harus pulang , .." ucap Anna ketika pelukan mereka terlepas . Anna merasa malu karena pundak Jocey basah karena ulahnya .
" Tidak Anna , kamu harus menginap disini . Kamu sedang kacau dan aku tidak bisa membiarkan mu sendirian .."
" Tidak, aku tidak mau merepotkan kalian . Lagipula ada Miguel yang menemaniku . " Anna dan Jocey sama sama melirik Miguel yang sedang berbincang dengan Michael .
" Kau percaya pria besar itu ? Aku bahkan takut melihatnya .." ucap Jocey , sembari melirik wajah sangar Miguel . Pria itu berdarah Meksiko , dengan kulit kecoklatan dan bertubuh besar . Membuat setiap orang yang melihatnya akan berpikir dua kali untuk mendekatinya .
" Aku percaya padanya .." Anna berucap acuh . Mungkin itu hanya strategi Jocey agar ia mau menginap dirumahnya .
Anna dan Miguel pergi meninggalkan rumah Jocey dan Luke . Sahabatnya itu terus melambai saat mobil mereka semakin menjauh dan menghilang .
Selama dalam perjalanan Anna hanya duduk termenung , memikirkan semua hal yang terjadi padanya . Ia pikir , ia akan menyingkir sebentar dari segala hal berbau Maxim .