
Anna berdiri dengan cemas didalam bis , rasanya dia ingin segera loncat dari sana . Tapi halte masih beberapa ratus meter lagi . Raungan mobil pemadam kebakaran dan dan ambulans menyalip vis yang dia tumpangi . Hati Anna semakin bergetar keringat dingin mulai mengucur dari pelipisnya . Rasanya dia ingin menangis saat bis berhenti di tujuannya dan saat itu juga dia melihat asap hitam di langit .
Anna meloncat dari bis tidak peduli jika orang orang meneriakinya agar berhati-hati . Karena Anna yakin sekali asap hitam itu berasal dari apartemennya . Anna tahu sekali apartemennya bukanlah apartemen mewah , tidak ada alarm kebakaran disana . Pikirannya melayang jauh pada rumahnya , kakinya terus berlari .
Kaki Anna langsung lemas apartemen itu benar-benar terbakar , segumpal air mata langsung memenuhi wajahnya . Dia melihat segerombolan orang yang keluar menyelamatkan diri , para pemadam kebakaran yang hilir mudik membawa orang keluar . Tapi dia tidak melihat Katie .
" Tidak !... please..." Anna berlari berusaha mendekati kerumunan , tapi sebuah tangan besar menangkap tubuhnya .
" Anna , jangan konyol . aku disini ok !" Anna menoleh , Maxim memeluk tubuhnya dengan kencang . Tapi air mata Anna semakin mengalir dengan deras , karena dia tidak menemukan apa yang dia cari .
" Tidak , Katie ...." mulut Anna bergetar .
" apa?!" Maxim memandang heran wajah Anna , jika wanita itu mencemaskan apartemennya dia akan membelikannya apartemen baru agar wanita itu tidak berlari kedalam gedung yang terbakar .
" Maxim , tapi Katie... Katie dan Kevin tidak ada disini ....aku.. tidak bisa menghubunginya..." bibir Anna bergetar , air mata sudah membanjiri wajahnya .
" apa ?! Katie ? siapa Kevin ?!" tapi Anna tidak menjawab , wanita itu terus meronta dan memanggil Katie dan Kevin . Hati Maxim mengeras , siapapun Kevin Maxim tidak akan membiarkan Anna berlari kesana . Dia memperhatikan sekeliling pemadam kebakaran sedang sibuk dan mereka sama sekali tidak melihat sosok Katie dan ... whatever .
" Tunggu disini .." Maxim melepaskan pelukannya pada Anna , dia berlari menerobos kerumunan massa . Membuat Anna semakin menjerit .
" Tidak Max!! Max !!" tidak mungkin apa yang dilakukan pria itu , bagaimana jika terjadi sesuatu padanya .
__________
Maxim menutup sebagian wajahnya dengan selembar sapu tangan , dia masih ingat kamar Anna berada di lantai tiga . Dia berjuang melewati orang orang yang berusaha lari keluar , tidak ada Katie sedikitpun . Ia tidak peduli jika banyak orang meneriakinya untuk kembali . Ada sesuatu yang dikhawatirkan Anna , entah itu apa dia tidak tahu . Yang jelas dia harus menemukan Katie terlebih dahulu .
Maxim berhasil mencapai lantai tiga , asap menghalangi pandangannya . Dari ujung lorong Maxim melihat sosok Katie , ada sesuatu dalam dekapannya .
" Katie! " Maxim berteriak diantara panasnya udara , mereka harus segera keluar dari sini , atau terpanggang hidup hidup .
Katie berlari wajahnya ditutupi kain agar asap tidak masuk ke paru-paru , Maxim memandang handuk dalam dekapan Katie . " kita harus segera keluar .." Maxim menarik Maxim sekuat tenaga , memimpin jalan mereka . Sebesar apapun rasa penasarannya , yang terpenting sekarang adalah mereka harus segera keluar . Maxim tahu dalam gendongan Katie bukanlah kucing atau anjing peliharaannya . Matanya sekilas melihat sepasang kaki kecil menyembul dari selimut dan handuk setengah basah yang digendong Katie .
Seorang pemadam kebakaran menemukan mereka di lantai dua , langsung memimpin mereka keluar . Meski pemadam itu terus menyumpahi Maxim yang berlari kedalam .
Anna berlari dan berteriak histeris saat melihat Maxim , Katie dan Kevin keluar dipimpin seorang pemadam .
" my baby..my baby..." Anna memeluk Katie dan Kevin , mereka berdua tenggelam dalam tangisan bahagia . Anna tidak bisa membayangkan jika dia tidak bisa bertemu lagi dengan mereka berdua .
Maxim berdiri di sampingnya , seluruh otaknya berpikir keras . Jika ini adalah sesuatu yang dia pikirkan selama perjalanan tadi . Dan jantungnya semakin memacu badannya menggigil hebat saat Anna membuka selimut dalam gendongan Katie . Seorang balita mungil yang gemuk , wajah merahnya langsung menangis ketika Anna mencium dan mendekapnya .