
"Ayo Arzen jalan Sayang, ayo ...." Abel berjalan mundur menunggu respon dari makhluk mungil yang ada di hadapannya untuk mengayuh sepeda roda tiga.
"Arzen, ayo sayang maju. Anak pintar ....." Betapa bahagianya Abel melihat Arzen yang kini mulai mengayuh sepeda dengan kakinya setapak demi setapak.
Hingga beberapa langkah Arzen turun dari sepedanya dan mulai bosan.
"Tapek ..," ocehnya.
"Ya kok capek sih, udahan dong," seru Abel.
Balita itupun berhambur mencari mainan yang lain yang tergeletak di lantai. Menginjak tahun kedua, Arzen menjadi anak yang aktif bermain di dalam ataupun diluar rumah. Kadang Abel sampai panik jika ia lengah sedikit saja.
Abel memang tidak memakai jasa babysister seperti kebanyakan tetangga di kompleks perumahannya. Abel memilih merawat dan menjaga sendiri anaknya. Kadang ia sampai lupa diri merawat dirinya karena terlalu sibuk menjaga Arzen. Seperti saat ini.
"Astagfirullah," seru Abel. Ia melihat jam dinding di ruang bermain Arzen, waktu sudah menunjukkan pukul lima lewat, itu artinya suaminya akan segera pulang. Jangankan untuk make up, untuk mandi saja Abel belum sempat. Buru-buru Abel ke bawah mengendong Arzen untuk di titipkan pada Asisten rumah tangganya.
"Assalamu'alaikum," belum sempat melakukan keinginannya untuk mandi, suaminya sudah masuk ke dalam rumah.
"Deddy ... Puyang," Arzen meronta ingin turun dari gendongan Maminya.
Arzen si mungil langsung berlari memeluk sambutan Daddy tercintanya.
"Jagoan Daddy, tadi ngapain sama mami," tanya Davin pada anak kecil yang sekarang berada dalam gendongannya.
"Main, cepeda, obil," ocehnya memperagakan ketika bermain sepeda dan mobil mininya.
"Wih seru dong, Daddy nanti ajak main ya," sahut Davin .
"Iya, Daddy, Mami main cama-cama," oceh Arzen yang sudah mengerti ucapan orang dewasa di usianya dua tahun lebih.
"Arzen, sama Mbak dulu ya Sayang main di luar, Daddy mau bersih-bersih dulu, daddy bau kayak Mami belum mandi," canda Abel menutup hidungnya.
"Bau, Main cama Falis, mau mau."
Bayi mungil itu pun mau di gendong asisten rumah tangganya untuk bermain dengan anak tetangga di luar rumah.
Abel membawakan Tas kerja Davin seperti biasanya. Menuju kamar mereka di lantai atas.
Setelah tiba di kamar, Davin langsung menarik tubuh Abel memeluknya dari belakang.
"Abang Abel belum sempat mandi, lepasin dulu."
"Kalau begitu kita mandi berdua Sayang, lama sekali kita tidak mandi berdua."
Davin merasa ini waktu yang tepat. Semenjak Abel memutuskan merawat Arzen sendiri tanpa babysister, waktu untuk berdua bersamanya memang sangat berkurang. Terlebih lagi setiap malam setelah Arzen tidur, Abel di sibukkan lagi dengan urusan bertukar email dengan Miranda mengenai perusahaannya. Berkat arahan dari Davin, Abel mengambil keputusan - keputusan yang menguntungkan perusahaannya di bandingkan waktu di tangani Miranda. Alhasil perusahaan Willson Palm miliknya mengalami lonjakan pesat satu tahun terakhir, dan di perkirakan menguntungkan jutaan dollar berkali lipat.
"Tapi Arzen?" Abel sadar akhir-akhir ini jarang menghabiskan waktu bersama suaminya. Ia selalu sibuk mengurus Arzen bertepatan dengan suaminya datang. Paling Abel ada waktu setiap malam, itu juga ia habiskan dengan bertanya rencana ke depan mengenai perusahaannya.
"Sebentar saja Sayang, Abang sungguh mau berendam berdua bersama kamu," seru Davin mencium lengkuk leher istrinya yang mungkin tak semerbak wanginya seperti dulu ketika menyambutnya pulang kerja.
Awalnya ia menyadari, mungkin istrinya lelah dan sibuk, tapi lama-lama, ia juga rindu suasana hangat ketika bersama Abel.
Ia sudah menahan banyak godaan ketika keluar dari rumah untuk ke kantor, di kantor ia bisa saja menghabiskan waktu dengan wanita-wanita bening dengan tubuh indah bak gitar spanyol yang sering di sodorkan rekan bisnisnya sesama petinggi perusahaan.
Tapi ia cukup sadar, ia sudah berada di jalan yang lurus ketika bersama Abel. Apakah ia akan kembali berbelok lagi? Tentu saja jangan sampai terjadi!
Kucing saja lama-lama akan tergiur di sodorkan ikan asin, apalagi ikan salmon.
Makanya, Ia selalu berusaha mewujudkan kehangatan dan mencari kepuasan batinnya di dalam rumah, bersama Abel istrinya.
"Abel buka kan baju Abang, setelah itu Abel siapkan air." Seru Abel berbalik dan mulai melepaskan kancing kemeja suaminya. Abel merasa saat - saat seperti ini langkah bulan - bulan terakhir.
Setelah melakukan tugasnya, Abel masuk ke kamar mandi menyiapkan air hangat dan aroma lavender di dalam bathtub untuk berendam.
Davin membantu Abel untuk mengosok punggungnya yang putih bersih dengan lembut. Meskipun bentuk tubuh istrinya sekarang lebih lebar setelah melahirkan anak pertama. Hal itu tak membuatnya keberatan karena tubuh istrinya itu masih sangat enak untuk di pandang.
Abel memejamkan mata menikmati setiap sentuhan suaminya yang selalu membuatnya terbang melayang - layang.
Abel berbalik meminta bergantian mengosok punggung suaminya.
"Abang, maaf, seandainya Abel bisa jadi ibu rumah tangga yang mengurus suami dan anak saja, pasti waktu kita akan banyak bisa seperti ini," ucap Abel yang sebenarnya tak ingin terlalu banyak terlihat masalah perusahaan.
"Seandainya Abel ti..."
"Sttt Sayang," Davin memotong ucapan Abel yang pasti akan bilang kenapa ia harus mendapat warisan besar seperti Wilson Palm. Terlebih sekarang segala sesuatu tentang Wilson Palm harus melibatkan dirinya.
"Wilson Palm adalah warisan Mama kamu, itu adalah amanah dan menjadi tanggung jawab kamu sekarang, Kita biarkan saja semuanya mengalir. Ada ribuan pekerja yang bergantung hidup disana untuk keluarga mereka Sayang." Kadang Davin juga menyadari kesibukan Abel membuatnya kesal, tapi itu sudah menjadi tugasnya menerima kegiatan istrinya selama tidak melampaui batasan. Karena arahannya juga Abel jadi sibuk.
"Abel hanya takut tak bisa mengurusi Abang dan Arzen dengan baik, seperti sekarang. Abang sadar nggak sih, frekuensi bercinta kita tuh berkurang, Abel kadang sering tertidur ketika Abang mau ...."
Davin tertawa, tentu saja dia sangat ingat. Dan hal itu sangat membuatnya kesal. Tapi ia bisa apa? Ia harus menerima apa adanya dan membicarakan hal ini jika yang di lakukan istrinya melewati batas.
"Sudahlah Sayang, makanya sekarang kita nikmati waktu yang ada sebelum nanti ada Arzen - Arzen yang lain."
"Abang!" Abel memukul lengan suaminya.
"Sayang, kamu pikirkan lagi untuk pakai jasa babysister. Setidaknya untuk menjaga Arzen sebentar kalau kamu lagi sibuk dan nemanin Abang," tawar Davin.
"Sepertinya Abel belum butuh Bang, lebih baik Abel kurangi saja kegiatan yang lain seperti tidak terlalu sering terlibat masalah perusahaan," balas Abel.
Davin mengambil handuk setelah membasuh tubuh Abel dah tubuhnya dengan guyuran air shower. Ia menyudutkan Abel di tembok dekat wastafel, mengunci tubuh istrinya dengan kedua tangannya.
"Terserah kamu Sayang, asalkan selalu ada waktu untuk Abang," seru Davin menenggelamkan kepalanya di bahu Abel.
"Pasti, tapi enggak sekarang. Waktunya Arzen makan sore Bang," Abel meronta ketika suaminya mulai meraba-raba tubuh bagian depannya. Abel tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, lebih baik menghindari sementara dulu, sebelum keduluan Arzen yang mendatanginya.
Davin hanya menghela nafas. Fine! Davin mengalah lagi kali ini. Ia melepaskan tangannya dan membiarkan Abel keluar dulu dari kamar mandi.
.
.
.
.
.
.
.
TBC....
Ei cameback beib,
biasanya extra part kisah bahagia setelah ending ya.....,
tapi sori ya Extra part kali ini lebih ke kisah mereka setelah perubahan Abel setelah melahirkan, pasti ada yang berubah ya Bun hubungan suami istri selain rasa bahagia karena hadirkan seorang buah hati ....
Cus ikutin ya, hanya beberapa part aja kok, Ei maksa nih😁
Zen : Ei Awas aja kalau bang Davin di bikin kumat!
Thor : Ehm .... anu ...,🏃🏿♀️