
Keduanya kini sudah berada di dapur. Terpaksa Davin membatalkan janjinya mengantar klien ke bandara. Abel terus merengek dan menangis seperti anak kecil ketika Davin batal ingin memasak. Bahkan Abel mengancam tidak akan makan kalau bukan masakan suaminya.
Disini kesabaran Davin di uji. Belum lagi Bu Mitha yang terus memberi peringatan mitos pada Davin, bayi ileran kalau ngidam istri tidak di penuhi suaminya. Tentu saja Davin tidak mau bayinya nanti ileran.
Abel bersama mertuanya duduk di sofa memperhatikan Davin yang heboh sendiri ketika di dapur. Bu Mitha bercerita pada Abel, Davin dan Nolan dua kepribadian yang berbeda. Davin selalu terbiasa di layani sejak kecil, ia memakai asisten sejak kecil untuk kebutuhannya.
"Ngidam kamu hebat bel. Jangankan untuk masuk dapur untuk makan kacang saja, Davin tidak mau mengupas kulitnya. Seseorang harus melayaninya," ucap Mama Mitha.
"Masa sih Ma, pantes aja apa-apa panggil Abel," ucap Abel kaget.
"Kamu harus maklum ya Bel sama suamimu. Dari kecil dia sudah di didik jadi calon pewaris keluarga. Makanya dia jadi pekerja keras dan setelah di rumah dia ingin dilayani."
Abel merasa pantas saja selama suaminya selalu minta dilayani dari A sampai Z. Dia berpikir suaminya hanya manja padanya. Beberapa hari terakhir selamat bedrest suaminya melakukan apa-apa sendiri. Abel jadi kasihan dengan suaminya.
"Beda kalau Nolan, dia selalu melakukan apa-apa sendiri dan gampang membangkang. Waktu kecil sama-sama di kasih asisten seperti Davin tapi dia malah marah. Bahkan sampai sekarang saja kalau ada pelayan yang mencuci underware nya dia marah."
"Jadi Nolan nyuci underware sendiri ma?" tanya Abel heran.
"Iya, dia pemalu?" Mama mitha tertawa. Abel pun ikut tertawa mendengar cerita Mama Mitha. Ternyata mereka saudara yang punya sifat yang sangat berbeda. Abel jadi teringat Nolan, apa dia sudah menemukan wanita idamannya ya.
"Yuk kita lihat Davin," ucap Mama Mitha kepo.
Kembali ke dapur. Sumpah demi apapun, Davin sebenarnya rela mengeluarkan jutaan bahkan berapapun kalau ada yang bisa menggantikan dirinya untuk memasak. Tapi demi istri, ia terpaksa harus terjun ke dapur. Davin mencari bahan di kulkas berdasarkan pedoman video dari layar ponsel yang ia putar. Ia memandang bawang dan lagi-lagi binggung cara mengupasnya. Davin memotong saja asal, yang penting kulitnya sudah terlepas.
Kedua Asisten rumah tangganya hanya bisa menonton dengan cemas dan lucu. Cemas karena takut majikannya bisa membakar dapur. Lucu karena melihat majikannya yang begitu susah payah membuka telur.
Mereka hanya bisa jadi penonton sebab nyonya rumah Abelia, melarang siapapun membantu.
"Daddy sudah belum, debaynya mulai lapar!" Abel berjalan pelan mendekati suaminya dan memandanginya dari pantry dengan tumpuan tangan di dagunya.
"Masih sebantar lagi nyonya, silakan tunggu di meja makan. Kalau di lihat begitu chefnya jadi grogi," ucap Davin berbicara seperti gaya pelayanan dirumahnya. Abel hanya tertawa.
Ia membalik dengan cepat telur yang di frying pan, ia takut tumpahan minyak mengenai tangannya. Lalu dengan cepat menutup frying pan dengan tutup kaca.
Abel jadi tertawa gemas melihat suaminya. "Boleh cium chefnya," Abel langsung mendekat ke arah Davin dan mencium pipinya.
Davin menunjuk pipi sebelahnya. Abel mengerti maksud suaminya dan mencium pipi yang tertinggal.
Kedua ART hanya senyum-senyum melihat keromantisan kedua majikannya. Tapi juga sedih pekerjaan semakim berat, karena hanya membuat omelette alias telur dadar. Majikannya memporak-porandakan dapurnya.
Abel pun menurut kembali duduk di meja makan. Tak lupa ia mengabadikannya moments ketika suaminya memasak yang terlihat lucu dan menggemaskan.
Davin menghidangkan omelette acak-acakan yang dibuatnya untuk istrinya. Wajah Abel langsung berubah aneh melihat tampilan omelette ala suaminya.
"Lumayan kok Vin," ujar Mama Mitha. Ia membolak-balik piring yang berisi omelette itu.
"Harus dicoba dong, selamat makan." Abel malah begitu semangat ingin memakan masakan suaminya. Meskipun tampilan sangat mengenaskan.
Abel menyuap satu suapan. Rasanya memang aneh. Tapi karena ia begitu ingin makan masakan buatan suaminya. Rasanya terasa begitu nikmat seperti ada sesuatu yang akhirnya bisa tersampaikan.
Davin hanya bisa menelan saliva melihat istrinya makan tanpa mual seperti biasanya. Disisi lain di senang istrinya bisa makan tanpa mual. Di lain sisi dia panik kalo istrinya akan menyuruh masak setiap hari selama masa awal kehamilan.
"Memang enak sayang?" tanya Davin heran.
"Kalau menurut Abel enak." Abel menyendok sisa-sisa terakhir makanannya.
Karena penasaran ia mengambil omelettenya yang masih tersisa di piring. Davin langsung refleks memuntahkan dengan tangan omelettenya.
"Ya Allah Sayang, ini namanya racun. Udah jangan di makan lagi." Davin menghalangi Abel yang akan menyuap makanannya.
"Abang! ini udah mau habis," Abel kembali merebut piringnya.
Bu Mitha hanya tertawa melihat keduanya. "Vin kamu sabar-sabar ya, orang hamil memang suka bertingkah aneh. Kamu jadi suami harus siaga."
"Ya Ma, harus siaga satu kayaknya Ma," balas Davin. Abel hanya tersenyum-senyum senang bisa mengerjai suaminya.
Bi Ningsih salah satu ART mendatangi keluarga ini. "Maaf menganggu, ada tamu yang cari bapak."
"Siapa Bi," tanya Davin.
"Saya lupa tanya pak, perempuan." Kata Bi Ningsih.
"Sebentar ...." Davin meminta izin pada Abel dan Mama Mitha. Abel mengangguk mengiyakan.
Ia bangkit dari kursi makan ke ruangan tamu di depan.
.
.
.
.
Next......
Siapa sih nganggu orang lagi happy ajaπ€π€π€
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote dearπππ
Mampir juga ke cerita Einaz "DEAR NOLAN"