Lovely Wife

Lovely Wife
Bumil Manja



Davin dan Abel menikmati makan malam dengan tenang setelah meluruskan kejadian tadi siang. Keduanya kembali hangat setelah ke salahpahaman yang terjadi.


"Abang, kenapa sekarang sibuk banget, untuk telepon siang hari aja nggak bisa," tanya Abel dengan wajah manja lagi


Davin diam, ia tidak mungkin menceritakan sedang mengurus proses pembatalan pengajuan Wilson Palm di bawah naungan Adiguna Gruop. Hal itu akan mengguncang lagi jiwa Abel. Ia pasti akan tertekan lagi memikirkan masalah perusahaannya. Bagaimana tidak, ia harus memilih keluarga besar Wijaya yang melambungkan nama perusahaan sawitnya atau keluarga mertuanya yang mungkin akan memberikan banyak keuntungan lebih besar dari WPH.


"Abang kenapa ngelamun, bukannya jawab?" tanya Abel menyenggol lengan suaminya.


"Nggak sayang, memang ada banyak perkejaan sekarang kita perlahan membenahi kinerja perusahaan yang berpusat disini." Davin mencoba meyakinkan istrinya. Abel hanya mengangguk.


Davin meraih sendok Abel. "Sini Sayang, abang mau suapin kamu, biar anak kita kuat kalau mommynya banyak makan."


Abel terpaksa membuka mulutnya karena di sodori sendok oleh suaminya. Hal kecil seperti ini sudah membuat Abel senang. Mendapatkan perhatian lebih dari suaminya karena selama hamil suaminya tahu hanya dengan tangannya, Abel bisa makan banyak tanpa muntah.


Entah setiap makanan yang berasal dari suaminya membuat Abel nafsu makan tanpa merasa mual. Justru terasa nikmat meskipun suaminya kadang hanya bisa memasak telur gosong. Bawaan kehamilan setiap ibu hamil berbeda-beda. Abel menikmati saat trisemester pertama kehamilannya.


"Abang, kapan kita ke kota B, Abel kangen sama keluarga Abel disana," tanya Abel sambil menyelesaikan suapan terakhirnya.


"Nanti, kalau memang dokter ijinkan kamu untuk pergi Sayang." Davin mengelus pipi Abel mencoba menyemangati istrinya. Abel mengangguk mengerti.


"Besok jadi ikut ke kantor?" tanya Davin.


"Jadi dong!" jawab Abel penuh semangat.


"Kamu mau ngapain sih disana Sayang, mau jadi bodyguard Abang. Kalau ada yang yang macem-macem ganggu Abang kamu yang maju duluan." Canda Davin sambil terkekeh.


"Abang geer," jawab Abel ketus sambil mencubit paha suaminya kesal.


"Auwwwh sakit sayang," balas Davin mengelus paha bekas cubitan istrinya.


"Abang juga! Kalau di kantor nggak usah genit, bikin istri panas aja," ucap Abel.


Davin menyentuh hidung Abel, "Kalau Abang lagi khilaf."


"Abang!"


Abel bersiap memukul Davin tapi Davin meriah tangannya menggenggamnya.


"Bercanda Sayang, Istri Abang ini cemburuan banget sih tambah cinta Abang. Mana berani Abang macem-macem." Davin menarik Abel dalam pelukannya dan menghujani Abel dengan ciuman di ubun-ubunnya.


"Ya udah ayo ke kamar Bang. Abel pengen rebahan di pijitin sama Abang," seru Abel manja. Davin bangun dari kursi menggandeng tangan Abel.


Abel merebahkan tubuhnya di atas kasur, karena punggungnya mulai nyeri akhir-akhir ini. Davin duduk bersila di samping istrinya. Ia mengelus bahagai perut Abel yang masih rata. Sesekali ia menciumi perut istrinya gemas membayangkan jika nanti jika sudah membesar.


"Sekarang tolong Abang pijitin," seru Abel. Davin langsung meriah kaki Abel menekan dengan tangannya. Dia memang tidak tahu cara pijat memijat. Ia hanya menekan saja asalkan terlihat oleh Abel di berusaha memijat.


Abel juga mengerti di pijat suaminya seperti di pegang-pegang saja kakinya. Ya! Abel jujur pijatan kaki yang diberikan suaminya sangat jauh dari nyaman dan profesional. Tapi karena yang meminjat suaminya membuat Abel merasa lega ada sensasi kepuasan tersendiri.


"Udah belum Sayang," tanya Davin mulai lelah memijat kurang dari satu jam.


"Udah, ayo kita tidur," balas Abel langsung manarik selimut menutupi tubuhnya.


Davin ikut membaringkan tubuh di samping Abel, ia memeluk istrinya dari belakang sambil tangannya mengelus perut Abel.


"Sayang, nanti kalau sudah boleh ehem-ehem, Abang mau minta bayaran ya. Siang malam kita tempur," Davin berbisik di telinga Abel kemudian mencium lekuk leher istirnya.


"Abang mesum!" Abel mendorong wajah suaminya yang mengigit pundaknya.


"Udah tidur yuk Bang, besok Abel ikut Abang ke kantor," jawab Abel meronta karena suaminya terus saja mengganggunya meraba sana sini.


"Iya bumilku yang manja," jawab Davin menghentikan aktivitasnya.


Abel butuh istirahat yang cukup, memulihkan tenaganya untuk menghadapi tanaman duri.


.


.


.


.


.


Next...


**manja-manjaan dulu ya zen,😍😍😍


Ei lanjut nanti....


Visual Florista



jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘😘**