Lovely Wife

Lovely Wife
Aneh



Sementara di sisi yang berbeda di rumah sakit, Abel keluar dari ruangan lab setelah pengambilan darah. Ia bersimpangan dengan wanita yang ia kenal. Wanita itu masih penuh balutan perban di kepalanya di kursi roda dengan perawatan yang mendorongnya.


"Floris ...." Sapa Abel.


"Ibu Abelia," jawab Floris sopan. Ia meminta perawat berhenti agar dirinya bisa bicara dengan Abel.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Abel.


"Saya baik, mungkin dua hari lagi sudah boleh pulang," jawab Floris.


"Syukurkah kalo begitu," ucap Abel.


Floris meraih tangan Abel, "Ibu Abelia, mungkin disini bukan tempat yang tepat. Tapi sungguh aku ingin meminta maaf karena pernah berusaha mencelakaimu."


Floris menitihkan air mata dan buru-buru ia seka lagi. Abel lega setidaknya Floris mengakui kesalahan dan menyesali perbuatanya.


"Setiap orang pasti pernah punya kesalahan, aku udah maafkan kamu," balas Abel.


"Anda orang yang baik, tak seharusnya saya ingin berbuat tidak baik kepada Anda. Saya memang pantas di hukum." Floris mengeratkan genggaman tangannya.


"Nona Floris, penyesalan selalu datang terlambat. Yang terpenting kita menyadari kesalahan kita dan tak akan mengulangi hal yang sama lagi," seru Abel. Abel merasa kini Florista mantan sekertaris genit suaminya benar - benar sudah menyesali perbuatannya.


"Terima kasih sudah berbaik hati memaafkan saya," ucap Floris lagi. Abel menggangguk mengiyakan.


Perawat yang membawa Floris memberi isyarat agar Floris segera kembali ruangannya.


"Ibu Abelia, jika nanti saya ada waktu dan kesempatan. Saya juga ingin meminta maaf pada Pak Davin," ucap Floris sebelum perawatan mendorongnya.


"Ya, tapi sekarang lebih baik kamu fokus pada penyembuhanmu dulu," balas Abel.


Floris mengangguk dan meminta ijin untuk melanjutkan ke ruang laboratorium. Abel juga berbalik kembali ke poli kandungan setelah berpisah dengan Floris. Abel merasa lega, setidaknya ada hal positif dari sikap bar bar Tante Mirna. Floris terlihat sangat menyesali perbuatanya dan jera. Mudahan setelah ini, dia tidak lagi berhubungan atau mengoda suami orang.


"Sayang lama banget," sapa Davin yang sudah menunggu di depan ruang Poli.


"Ya, tadi Abel berpas-pasan sama Floris kita ngobrol sebentar. Dia di rumah sakit ini juga."


"Floris? sayang, kamu jangan dekat-dekat sama dia, Abang kuatir dia akan menyakiti kamu lagi."


"Ya Bang, Abel bisa jaga diri kok lagipula Floris masih luka-luka. Dia sepertinya juga sudah berubah," ucap Abel.


"Ya udah sekarang kita pulang, Abang mau ke apotik senbentar ambil resep obat kamu." Davin mengandeng tangan Abel.


...****************...


Abel meminum obat yang di sodorkan suaminya sebelum tidur. Abel merasa semenjak dari rumah sakit suaminya jadi lebih perhatian ekstra padanya. Bahkan makan saja, suaminya harus protektif mimilihkan menu.


Ia bersandar di bantal memainkan ponsel menunggu suaminya yang pergi sejenak ke ruang kerja.


Abel memeriksa pesan dari grup-grup WA yang tak di lihat sejak sore tadi.


"Innailaihi wainailaihi rojiun," Abel beristirja' membaca pesan grup SMPnya dulu. Ada salah satu temannya yang meninggal dunia karena melahirkan.


Abel yang penasaran menelpon Rena sahabatnya. Tak lama sahutan suara dari balik telpon terdengar.


"Ya Abelong,"


"Ren, apa bener teman SMP kita di Vita meninggal setelah melahirkan."


"Aku denger sih gitu, katanya pendarahan. Tapi aku sama kamu nggak bisa ngelayat, kita bertiga sudah beda kota."


"Ya bener, kita doain aja mudahan amal ibadahnya di terima disisaNya." Abel mulai sedikit takut.


"Ya Ren, kamu juga mudahan cepat nyusul."


"Amin, udah dulu ya Mas Angga manggil."


"Ya udah ... aku mau juga manja-manjaan dulu sama suami, assalamu'alaikum," Abel menutup teleponnya.


Setelah mendengar kabar itu, jujur Abel merasa ada sedikit rasa takut di tengah rasa bahagia. Meskipun ia sudah berusaha berpikir positif tapi manusiawi, dia juga ketir mendengar kabar kematian temannya itu.


"Ma, lagi sibuk nggak?" Abel memutuskan menelpon Mama Riri untuk pengobati rasa penasarannya.


"Nggak sih Kak, lagi tidur aja sma Papa. Ada apa Kak."


"Abel mau nanya? waktu pertama kali hamil, mama takut nggak sih waktu dekat-dekat melahirkan."


"Ya Sayang mama takut, kadang mikir? bagaimana kalau terjadi sesuatu. Tapi Mama kembalikan semuanya sama Allah. Setiap Mama ketakutan, Mama selalu berdoa minta yang terbaik untuk anak di perut mama. Karena tidak ada yang bisa merubah qodar kecuali doa. Hanya Allah kak yang bisa nolong kita kak. Mama pasrahkan semuanya sama Allah, kalau memang qodar mama nggak baik, Mama Anggap itu sebagai jihad Mama bejuang bertaruh nyawa untuk satu nyawa."


"Ya Ma." Abel mengelus perutnya seolah tidak boleh terjadi sesuatu pada bayinya.


"Kakak takut ya?"


"Ya Ma, Abel merinding denger teman Abel meninggal karena melahirkan."


"Kakak, namanya umur kita nggak ada yang tahu. InsyaAlloh Kakak sama calon cucu Mama baik-baik aja, Kakak nggak boleh berpikir macam-macam. Nanti kakak malah stress, selalu berpikir positif demi bayi kakak. Allah tahu yang terbaik untuk kita semua."


"Ya Ma, ya udah Abel udah lebih tenang. Bang Davin juga sudah masuk kamar, Abel tutup dulu ya ... Assalamu'alaikum."


Abel mengakhiri panggilan dengan Mama Riri melihat suaminya yang masuk kamar. Davin naik ke atas ranjang di samping Abel. Tangannya tak lupa senang mengelus perut Abel yang bulat besar itu.


"Telpon siapa?" tanya Davin.


"Mama Riri, tadi Abel sempat panik sekarang Alhamdulillah udah tenang." Abel kini merebahkan kepalanya di pundak suaminya.


"Panik kenapa Sayang, kamu harus happy sebentar lagi kita akan lihat senyum anak kita." Davin meraih dagu Abel dan mencium lembut. Sementara ini ia tidak ingin memberi tahu Abel keadaannya sekarang. Ia tidak menambah pikiran istrinya dan memperparah keadaan.


Abel melepaskan bibirnya dari bibir suaminya yang tidak biasanya mencium dengan lembut. Ya, biasa Davin mencium Abel dengan lu-matan dan penuh gairah.


Davin mengelus pipi Abel, ia mencium lagi kening Abel. "Makasih ya sayang sudah mengandung anak Abang. Sekarang kita tidur ya." Davin meraih selimut menutupi tubuh mereka.


Abel memiringkan tubuhnya ke kiri, karena posisi miring ke kiri yang di anjurkan selama hamil besar. Tak lupa, Davin memeluk Abel dari belakang sambil mengelus perut istirnya.


Abel hanya menurut karena merasa suaminya sedikit berbeda setelah pulang dari rumah sakit.


.


.


.


.


.


Next......


Ei kembali lagi🤧🤧 up panjang Lo😘😘


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote😘