
Abel hanya bisa bersikap seperti biasa saat tiba di dalam kamar. Meskipun wajah suaminya masih terlihat kesal padanya.
Abel melepaskan sepatu suaminya seperti biasa ketika Davin sudah duduk di sofa. Ia lanjut meraih kemeja suaminya dan membuka kancingnya satu persatu.
"Abang mau mandi sekarang, Abel siapkan airnya ya." Abel mencoba membuat suasana hangat.
Bukan menjawab Davin malah meraih tangan Abel dan mendekatkan wajahnya mengecup bibir istrinya. Abel hanya pasrah menikmati sesuatu yang kenyal menempel di bibirnya. Ia menikmati setiap sesapan suaminya hingga membuatnya semakin panas ingin membalas ciuman hangat itu.
Davin melepaskan bibirnya dari bibir rasa mint istrinya, melihat Abel yang semakin erat mengenggam kemeja suaminya. Abel mencari kesempatan mengambil pasokan oksigen banyak-banyak.
"Sayang, jaga sikap kamu di depan Nolan. Meskipun dia adalah adik kita, Abang yakin kamu tidak lupa kalau dia pernah punya rasa sama kamu." Davin berusaha menegur Istrinya.
"Ya Bang, Abel hanya senang aja ada Nolan datang ke rumah kita."
"Abang nggak mau berdebat lagi masalah ini, kita bisa sama-sama mengerti kan sekarang!" tegas Davin lagi. Abel hanya mengangguk sambil menyunggingkan senyum.
"Sekarang bantu Abang mandi!" bisik Davin di telinga Abel. Ia berdiri dan menuju ke kamar mandi.
Pasti menjurusnya ke situ lagi ke situ lagi. Abel pasrah mengekor suaminya di belakang.
Beberapa menit di kamar mandi. Abel hanya bisa menahan geli suaminya yang terus menciumi tengkuk leher hingga punggungnya. Tadinya Davin hanya minta dimandikan. Tapi bukan Davin namanya kalau tidak berhasil membujuk Abel mengikuti ritual mandi bersama.
Davin mengelus lagi sambil menggosok spon mandi ke punggung mulus dan bersih, terawat milik Abel.
"Ini untuk membersihkan sisa kegenitan kamu tadi sama Nolan."
"Abang masih aja cemburu, Abel hanya melakukan hal biasa seperti teman pada temannya."
"Auhhhhh Abang!" pekik Abel seperti merasakan gigitan kecil di lekuk lehernya ketika dia membela diri.
"Ingat ya Sayang! Abang suamimu, kamu milik Abang. Kedepannya lebih lah menjaga sikap," ucap Davin.
"Oke kita lanjut di kamar ya, Abang nggak mau keluar kamar sampai besok pagi!"
"Abang! memang kenyang kita bercinta terus! Abel dan anak kita butuh makan." Abel memprotes suaminya.
"Nanti kita suruh Bi Ningsih antar ke kamar kita!" Davin mengangkat tubuh Abel yang tak berbalut apapun.
Abel menurut saja perintah suaminya yang membawanya membersihkan sisa busa di bawah shower. Davin mengangkat tubuh Abel lagi membawa keluar kamar menuju ke tempat tidur.
"Abang sebentar lagi Magrib apa nggak nanti aja!" Abel mencegah tangan suaminya yang akan membuka lilitan handuknya.
"Nggak lama Sayang, Abel mau makan kamu dulu, Abang butuh suntikkan vitamin untuk mengembalikan mood Abang yang kamu buat kesal tadi."
Abel pasrah tak bisa beralasan lagi kali ini. Kini tubuhnya pun sudah di bawah kuasa suaminya. Suaminya sudah sangat siap bekerja mengembalikkan moodnya. Abel hanya bisa menikmati permainan suaminya yang begitu mahir menjelajah tubuhnya.
Mungkin karena kehamilan Abel, suaminya mengerakkan miliknya di dalam tubuh Abel dengan pelan tapi masih terasa cukup nikmat untuk Abel. Ia begitu menikmati setiap sentuhan suaminya. Tanpa di pungkiri, semenjak hamil ia juga ingin terus di jamah suaminya.
Entah sudah berapa kali Abel mencapai pelepasannya hingga tubuhnya lemas seperti kehilangan tulang penopang tubuhnya. Tapi tidak untuk suaminya, tidak ada tanda-tanda suaminya akan mengeluarkan benihnya. Ia masih begitu berapi bertempur dengan tubuh Abel. Hingga saatnya ia sudah meras puas, Davin melepaskan benih untuk mencapai puncak kenikmatan. Ia membaringkan tubuhnya di samping istrinya merasa lemas. Davin meraih tangan tubuh Abel dan memeluknya erat.
.
.
.
.
.
Next ...