Lovely Wife

Lovely Wife
Meluruskan



Abel pulang dari kantor Davin bersama Pak lemin. Sepanjang perjalanan Abel hanya memandangi luar jendela. Pak Lemin tak berani menanyakan keadaan majikannya karena terlihat wajah istri atasanya itu sedang buruk. Abel terus berpikir apa kesalahannya yang membuat suaminya marah. Ia hanya berusaha mengungkapkan siapa Floris sebenarnya. Dan benar, firasatnya ternyata memang tepat. Floris punya rencana tidak baik untuk suaminya. Abel berusaha tegar tak mengeluarkan airmata kali ini. Karena ia merasa sudah melakukan hal yang benar.


Mobil tiba di halaman rumahnya. Pak Lemin membukakan pintu untuk majikannya, Abel membalas senyum. Ia segera menuju kamar, rasanya ia ingin berendam di bath up untuk menenangkan pikirannya.


Sore ini, Abel memilih membaca buku tentang kehamilan di kursi balkon kamar sambil menunggu suaminya pulang. Mungkin sekitar setengah jam lagi suaminya akan pulang jika sesuai dengan jam kantor. Abel mendengar dari atas balkon suara mobil yang masuk ke dalam bagasi rumahnya. Abel berdiri untuk memastikan siapa yang datang. Ternyata benar itu adalah suaminya, ternyata dia pulang lebih cepat dari jadwal semula.


Abel segera keluar menuju lantai bawah untuk menyambut suaminya seperti biasa. Bi Ningsih yang membukakan pintu untuk suaminya. Abel sedikit gugup menghadapi suaminya kali ini. Amar menyerahkan tas kerja Davin pada Abel. Abel juga tidak lupa mencium punggung tangan suaminya. Tapi Davin hanya diam, tidak ada ciuman di kening seperti biasa.


“Bu, saya permisi dulu,” kata Amar berpamit pada Abel.


“Terima kasih, Pak Amar,” balas Abel.


Abel segera bergegas menyusul suaminya ke lantai atas setelah kepergian Amar.


Ia membuka pintu kamar, mendapati suaminya yang masih duduk di sofa sambil merebahkan kepalanya di sandaran sofa. Abel bernafas lega suaminya masih menunggunya. Abel melakukan tugasnya seperti biasa, di mulai dengan melepaskan sepatu suaminya. Kini tangannya naik akan membuka kancing kemeja suaminya.


“Abang mau mandi sekarang?” tanya Abel.


“Ya, setelah itu Abang mau bicara sama kamu,” ucap Davin.


“Abel siapkan handuk Abang dulu, nanti Abel antar ke kamar mandi.”


Davin hanya mengganguk, ia segera masuk ke dalam kamar mandi.


...****************...


Abel masih menunggu suaminya yang berganti baju usia mandi. Ia harus siap dengan segala tunduhan suaminya. Tapi kumandang adzan margrib membuat keduanya harus menjalankan kewajiban mereka dulu.


Keduanya kini sudah kembali ke kamar dan duduk di sofa kamar.


“Sayang,” panggil Davin.


Abel mendadak berkaca-kaca karena sejak pulang dari kantor suaminya sama sekali tidak memanggilnya dengan sebutan itu.


“Ya Bang?” jawab Abel.


“Sayang, Abang kecewa sama kamu! Sudah berapa kali Abang bilang. Abang akan atasi sendiri masalah Floris! Tapi kamu! Apa kamu percaya dengan ucapan Abang! Nggak kan!”


Abel hanya terdiam.


“Kamu menyelidiki sendiri masalah Floris di belakang Abang, tanpa memikirkan keadaan kamu.”


“Abang, Abel memang melakukan semuanya tanpa sepengetahuan Abang, firasat Abel yakin banget kalau Floris punya niat yang nggak baik sama Abang. Terlebih waktu Abel liat rekaman CCTV di ruangan Abang, itu semakin memperkuat felling Abel. Ternyata kenyataannya benar dan terbukti kan.”


“Tapi Abang tetap nggak suka cara kamu yang diam-diam bekerja sama sama orang tanpa sepengetahuan suamimu ini. Terlebih sekarang kamu hamil Sayang. Kamu harus fokus sama kehamilan anak kita. kamu masih inget kan kata dokter, tekanan darah kamu tinggi. Kamu nggak boleh stress, selalu rileks.”


“Ya Bang, tapi apa salahnya Abel berbuat semua ini supaya rumah tangga kita jauh dari pelakor. Apalagi rencana Floris, yang bisa saja menjerumuskan Abang dalam dosa besar.”


“Naudzubillamindzalik Sayang. Ini lah masalahnya Sayang. Kamu nggak pernah percaya dengan ucapan Abang. Kamu meragukan kepercayaan Abang. Abang harus bilang berapa kali Sayang, supaya kamu mengerti dan percaya sama Abang.”


"Bang bukan seperti itu maksud Abel. Sungguh...."


"Ya Sayang. Abang ngerti, yang kamu lakukan memang benar. Tapi Abang nggak suka kamu jadi ikut - ikutan memikirkan masalah Floris. Kamu merasa nggak nyaman Floris jadi sekertaris Abang, Abang sudah bilang akan mengajukan rotasi. Abang butuh waktu Sayang, Abang harus punya alasan yang tepat." .


Davin mengengam kedua tangan tangan istrinya.


"Sayang, Abang hanya nggak mau terjadi apa-apa sama kamu dan anak kita. Tolong mulai sekarang fokus saja pada kehamilan kamu. Jangan memikirkan masalah yang lain. Biarkan kalau ada masalah dengan keluarga kita, Abang yang selesaikan. Tolong percaya sama Abang. Abang sangat mencintai kamu. Hanya kamu wanita yang Abang cintai dan sampai kapanpun. Abang harus bilang berapa kali supaya kamu bisa menghilangkan kecamasan kamu ini."


"Ya Bang, Abel minta maaf. Kalau tindakan Abel yang ingin membuktikan kecemasan ini malah membuat Abang berpikir Abel nggak percaya sama Abang. Tapi itu sungguh itu nggak benar bang, Abel percaya sama Abang. Tapi Abel nggak percaya Floris."


Davin membelai menyingkirkan rambut Abel yang mengenai wajahnya dan mengelus pipinya.


"Sayang, sekarang masalah Floris sudah bereskan. Jangan di bahas lagi. Nanti kamu yang pilih penganti Floris, sekertaris yang cocok untuk Abang."


"Asalkan jangan yang seksi lagi, Abang aja yang pilih mewakili Abel." Abel berkata sambil memayunkan bibirnya.


"Mulai lagi kan cemburuannya, Abang jadi pengen gigit rasanya." Davin mulai bisa melebarkan senyumnya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu istrinya dan menghirup aroma tubuh Abel dari pundaknya.


"Abel hanya waspada!" jawab Abel.


Davin tentu saja tidak tahan harus lama-lama marah pada Abel. Ia meraih dagu istrinya dan menempelkan bibirnya di bibir istrinya. Ia menyesapi dengan pelan setiap permukaan benda kenyal yang di sentuhnya. Manis dan selalu membuatnya hangat, itulah yang Davin rasakan.


Abel melepaskan pangutannya karena merasa ia butuh oksigen untuk menetralisir nafasnya. Davin kembali lagi meraih dagu Abel, mengecup bibir ranum istrinya itu.


Davin melepas bibirnya yang menempel pada bibir istrinya. "Canduku dan akan selalu begitu."


"Abang ah ... mulai kan!" Abel mendorong pelan tetapi tubuh suaminya. Davin langsung memeluk Abel sambil tangan kanannya mengelus perut istrinya.


"Kapan ya Daddy bisa tengok adeknya, lama banget puasanya Sayang." Davin berbisik di telinga Abel.


Abel langsung mencubit paha suaminya seperti biasa ketika membahas hal itu.


"Abang selalu aja mesum, sekarang Abel laper kita makan dulu!" Abel langsung bangun dari sofa.


Davin pun ikut bangun melingkar tangannya di perut Abel mencium pundak Abel. "Ya udah yok!" Davin mulai mengajak melangkah dan melepaskan pelukannya.


Abel mengandeng lengan suaminya dan menuruni tangga untuk makan malam. Pasangan suami istri ini kembali hangat mereka menikmati makan malam bersama seperti biasanya.


.


.


.


.


.


.


Next.......


Udah Adem ya, jangan lagi deh ada duri duri lagi ☺️☺️☺️


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘