Lovely Wife

Lovely Wife
Berbuat Dosa?



Davin dan Floris kini berada di perusahaannya milik keluarganya Adiguna grup di kota B. Sebelumnya Floris meminta izin untuk ke toilet sebentar. Untuk apa? tentu saja untuk membentulkan riasnya. Ia ingin tampil sempurna jika dekat dengan Davin.


Davin sudah di sambut asistennya yang sudah terlebih dahulu tiba di kota B ketika memasuki lobby kantor.


"Mana sekertaris Anda Pak? kenapa Anda sendirian," tanya Amar pada Bosnya.


"Dia ke toilet," jawab Davin.


"Harusnya dia menunggu Anda sampai di ruang rapat baru pergi," decak Amar kesal.


"Sudah tidak apa-apa?" Davin melenggang menuju lift. Diikuti Amar yang mengekor di belakangnya.


Davin menuju ruang rapat yang sudah di penuhi para petinggi perusahaan Adiguna Gruop. Tak lama Floris datang dan menarik perhatian penghuni rapat. Bagaimana tidak tubuhnya tinggi semampai dengan rambut warna coklat di tambah lagi dandanannya yang terlihat glowing dan berkilau, sangat serasi dengan pakaiannya kemeja tosca dan rok hitam selutut. Ia terlihat paling cantik dan menonjol di antara para sekretaris petinggi perusahaan yang lain di ruang rapat.


Karena yang memimpin rapat kali ini adalah Davin, ia sudah duduk di barisan depan sambil menyiapkan materi rapat.


"Pak Davin pasti betah lama-lama di kantor kalau punya sekertaris begini," cetus salah satu peserta rapat sambil melirik ke arah Floris.


Seisi rapat langsung tertawa mendengar seseorang menyindir Davin. Floris tersenyum bangga.


Aku benar-benar jatuh cinta pada suami orang.


"Sudah ada yang menunggu di rumah Pak, nggak berani lama-lama di kantor," balas Davin.


"Pak Davin bisa saja, kalau begitu mainnya di luar saja seperti biasa," balas candaan petinggi perusahaan yang lain. Suara gelak tawa kembali tercetuk.


Davin hanya tersenyum tak ingin menanggapi sindiran rekan-rekannya. Mungkin bagi mereka bersama wanita lain yang bukan pasangannya adalah hal biasanya. Terlebih menjalin hubungan terlarang atau sekedar bersenang-senang. Meskipun Davin dulu pernah merasakan kencan dengan banyak wanita walaupun tanpa melakukan hal lebih.


Tapi bagi Davin memiliki Abel adalah segalanya, ia sangat mencintai Abel dan tak ingin menyakitinya atau membuatnya kecewa.


Setelah saling melempar basa-basi seisi ruangan, rapat pun dimulai. Suasana kembali serius dengan pembahasan keuntungan, masalah dan kendala-kendala perusahaan. Beberapa jam kemudian rapat pun dihentikan sementara untuk beristirahat.


Davin masuk ruangan lamanya ketika menjabat sebagai dewan direktur. Davin tiba-tiba merindukan Abel. Ia mengambil ponselnya dan melakukan video call mengobati rindunya. Seseorang mengetuk pintu dari luar, Davin menyuruhnya masuk.


Amar datang membawa nampan berisi makanan untuk Bosnya sesuai pesanan.


"Abang makan dulu sayang, kamu jangan lupa makan. Nanti setelah selesai Abang pulang, Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumusalam love you," balas Abel dari layar ponsel.


"Love you too much more," balas Davin. Telepon terputus.


"Terima kasih Amar, kamu makanlah dulu juga sebelum mulai rapat lagi." Perintah Davin pada asistennya.


"Ya Pak. Tapi saya permisi ingin mengurus berkas rapat, sebentar lagi saya akan kembali." Davin mengangguk dan Amar menunduk sopan berbalik meninggalkan ruangan.


Davin mulai menikmati ayam teriaki langganannya dulu ketika berada di kota ini. Terdengar suara ketukan pintu. Davin menyuruh masuk. Ia meneguk air usai menyelesaikan suapan terakhirnya.


Floris datang menbawa beberapa map dengan Warna yang berbeda-beda.


"Permisi Pak, ini dokumen yang harus bapak setujui sesuai dengan bahasan rapat." Floris menyerahkan map berwarna biru.


Ketika akan melangkah pergi, kaki Floris tersandung karpet hingga keseimbangan tubuhnya oleng.


"Ahhh...," pekiknya. Tadinya ia berpikir akan jatuh terperosok di lantai, tapi ia salah. Davin sudah menahan tubuhnya karena kebetulan ia berada di depannya. Kini wajah Floris terbenam di bahu Davin.


Floris mengangkat wajahnya, ini saat yang paling di sukai Floris. Wajah keduanya hanya terpaut hanya beberapa centimeter. Rasanya ia harus mencium bibir orang yang ada di hadapannya sekarang.


Davin mendadak canggung dengan situasi ini, ia bahkan sempat menelan saliva melihat warna cheri bibir seseorang di hadapannya yang hanya terpaut beberapa centimeter.


"Nona Flo, keluar jika urusanmu sudah selesai." Suara seseorang membangunkan lamunan keduanya.


Sejenak Davin tersadar dan melepaskan Floris dari genggamannya. Astaghfirullahaladzim, demi apa aku hampir melakukan dosa. Davin terus mengutuk dirinya dalam hati.


Floris panik dan merapikan lengan kemejanya yang sedikit kusut, "Terima kasih dan Maaf Pak."


"Ya, keluarlah," balas Davin merasa pusing. Ia bahkan hampir tergiur dengan bibir indah yang bukan milik istrinya.


"Permisi Pak," Amar memberi tisu pada Davin dan menunjuk noda lipstik di rahang Bosnya.


Davin dengan cepat mengelap geli noda lipstik yang bukan milik Abel, mungkin tak sengaja tadi menempel di rahangnya.


"Pak jika wanita itu berusaha mengodamu aku bisa memberinya pelajaran" seru Amar.


"Tidak Amar tadi dia hampir terjatuh dan aku menolongnya." Davin mengatakan apa adanya.


Tapi kini pikiran Davin menjadi tidak tenang, ia rasanya ingin segera pulang dan bertemu istrinya. Hanya Abel lah yang bisa membuatnya lupa dengan kejadian penuh godaan setan beberapa menit lalu.


"Ayo kita kembali ke ruang rapat dan segera pulang. Aku sangat merindukan istriku." Titah Davin.


"Baik Pak," balas Amar.


Amar mengikuti langkah bosnya keluar ruangan.


.


.


.


.


.


**Next...


Deg deg deg😳😳😳


Jangan lupa tinggalkan jejak dear like koment vote 😘☺️😘**