
Hari ini keadaan rumah Davin dan Abel sangat ramai. Keluarga kecil ini mengadakan acara aqiqah putra pertama mereka Arzen Alfarizki Adiguna. Hari ini tepat 40 hari Baby Arzen dilahirkan di dunia. Acara aqiqah Arzen sengaja di adakan hari ke- 40 mengingat kondisi Abel yang harus menjalani masa pemulihan setelah pulang dari rumah sakit.
Keluarga besar Adiguna dan keluarga Abel berkumpul untuk menyambut anggota keluarga baru mereka. Davin dan Abel memperkenalkan Arzen pada keluarga besarnya. Selama ini Davin dan Abel juga membatasi keluarga atau kerabat yang ingin bertemu Arzen dan ibunya dalam masa pemulihan.
Ketiganya memakai baju biru, senada dengan warna di dekorasi unik dominan biru yang disiapkan EO, keluarga ini terlihat kompak dan bahagia.
Acara dimulai dengan pembukaan pembaca doa oleh ustadz, dilanjutkan acara potong rambut bayi yang di gendong oleh Davin. Arzen memang anak yang tenang. Bahkan saat orang-orang tetuah dalam keluarganya menggunting rambutnya. Ia anteng saja tertidur. Tamu undangan jadi gemas sendiri melihat Arzen.
Setelah melewati beberapa prosesi Aqiqah. Acara di tutup dengan ceramah agama dan doa penutup oleh ustadz.
Acara aqiqah Arzen berjalan lancar, kini keluarga besar keduanya mulai menikmati hidangan olahan kambing.
Sedangkan Davin dan Abel berada di samping ranjang box Arzen, keduanya sibuk menyambut tamu yang mulai berdatangan. Rumah mulai penuh dengan tamu dan kolega kerja Davin. Harusnya mereka buat acara di gedung, begitu pikir Abel melihat rumahnya penuh dengan manusia. Rumah mereka jadi sangat ramai sekarang. Kado untuk Arzen mulai mengunung di sebelah box bayi. Arzen juga mulai terbangun dari tidur nyenyaknya mungkin bayi mungil ini terganggu dengan suara bising.
Abel dengan sigap menenangkan bayinya ke dalam kamar. Hanya dengan disusui dan psedikit di timang Arzen kembali tenang.
Abel sudah terbiasa sekarang dengan kegiatan barunya sebagai ibu baru. Awalnya memang susah-susah gampang, tapi semuanya terbiasa dengan sendirinya. Setelah pulang dari rumah sakit Abel hanya fokus mengurusi Arzen dan pemulihan kesehatannya. Ia melupakan sejenak masalah perusahaan dan skripsinya.
Tok ... tok ... tok
"Masuk!" Abel sedikit bersuara keras.
Ternyata adik iparnya muncul dari ambang pintu dengan bersama wanita yang sekarang jadi pasangannya.
"Arzen capek ya." Nolan mendekati Abel yang menimang Arzen.
"Ya, sekarang udah lelap lagi," jawab Abel.
"Ini hadiah untuk Arzen dari kami Kak." Nesya menyerahkan paper bag berukuran besar pada Abel.
"Kenapa repot Nesya." Abel menyisihkan kado dari Nesya.
"Satu lagi ini, buat ponakanku tersayang." Nolan membawa masuk mobil-mobilan listrik mini merk BMW.
Abel hanya mengangguk saja, tahu kalau unclenya pencinta otomotif sejati yang tak jauh-jauh dari roda dua atau empat.
"Makasih uncle, Arzen masih bayi. Nunggu bisa jalan baru bisa di naikin uncle." Abel berucap menirukan suara bayi.
"Ya, nanti balapan sama uncle ya." Nolan megusap Sayang kepala Arzen.
Abel membalas dengan senyuman, ia lega sekarang Nolan terlihat lebih lembut bersama wanita di sampingnya, ia akhirnya bisa menemukan kembali cintanya yang sesungguhnya. Abel yakin sekarang tidak ada lagi rasa lain dalam hati Nolan untuk dirinya kecuali rasa sayang sebagai adik ipar.
"Gimana Bang Davin setelah punya anak?" tanya Nolan.
"Dia lebih perhatian ke aku, dia juga sering cepat pulang sekarang," jawab Abel.
"Kak, sini aku ajak Arzen." Nesya mengambil Arzen dari gendongan Abel. Nesya seperti mengerti Nolan ingin berbicara dengan Abel.
Nesya sedikit menjauh ke sisi kamar dengan Arzen, ia membiarkan dua orang itu agar saling berbicara.
"Aku seneng dengarnya kalau kamu memang benar-benar bahagia sama Bang Davin," jawab Nolan.
"Pasti No, apalagi sekarang ada Arzen di tengah-tengah kita. Aku nggak bisa lagi mengambarkan seperti apa rasa bahagiaku sekarang." Abel tersenyum tulus karena saat ini itulah yang ia rasakan.
"Aku tahu, Bang Davin pasti akan menjaga keluarganya dengan baik. Aku tidak perlu meragukan itu." Nolan menepuk pundak Abel.
Abel hanya mengulum senyum, Nolan tidak tahu saja hari-hari berat yang di lalui Abel bersama Davin. Abel juga berharap tidak ada lagi air mata tapi semuanya akan di terganti dengan cinta.
"Aku juga berharap kamu dan Nesya segera nyusul kita No, merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang aku sama bang Davin rasakan." Abel memegang tangan Nolan.
"Insya Allah," jawab Nolan.
Assisten suami Abel mengetuk dengan sopan pintu kamar Abel yang setengah terbuka.
"Maaf Bu, apa Anda bisa turun sekarang? bapak dan tamu yang datang mencari Anda." Amar berkata sopan seperti biasa.
"Ya Pak Amar sebentar lagi saya turun," ucap Abel.
Kedatangan Amar membuat ketiga orang yang berada di dalam kamar turun ke bawah lagi bergabung dengan yang lain.
...****************...
Waktu seperti ini Arzen biasanya sudah tertidur dan bangun sesekali karena haus. Abel mebelai pipi bayinya yang mungil, ia ingin dekat sejenak dengan Arzen sebelum menidurkannya di box bayi.
Davin yang baru saja keluar dari kamar mandi ikut menyusul istrinya ke atas tempat tidur.
"Tidurkan di box Sayang, kamu istirahat. Kamu pasti lelah seharian tadi!" perintah Davin.
"Iya Bang," jawab Abel. Ia mengangkat pekan tubuh Arzen dan menidurkannya di box bayi di samping ranjangnya.
Ia kembali ke atas tempat tidur dan langsung merebahkan kepalanya di dada suaminya. Tempat yang paling nyaman untuk bersandar.
Davin membelai rambut Abel dan mencium puncak kepala istrinya.
"Sayang, terima kasih udah bersama Abang sampai detik ini, kamu dan Arzen hal yang paling indah yang Allah titipkan pada Abang."
"Kenapa Abang mendadak jadi lebay sih," ucap Abel.
"Abang serius Sayang, Abang nggak pernah menyangka akan bertemu kamu di tengah kepulan asap, langsung jatuh cinta dan sekarang kita jadi bertiga sama Arzen."
Abel hanya terdiam semakin mengeratkan tangannya memeluk suaminya, kepala kembali mengingat lika-liku masa lalu awal pertemuan dengan suaminya. Meskipun perjalanannya tak mudah dan semulus jalan tol, pada akhirnya semuanya kembali pada apa yang di gariskan yang maha Kuasa.
"Oh ya Sayang, bentar lagi kita udah anniversary yang pertama. Kamu mau hadiah apa dari Abang." Davin melepaskan tangan Abel dan kini berbalik menghadap istrinya.
Abel membelai pipi suaminya. "Abel nggak mau apa - apa, Abel cuma mau kita dan Arzen selalu bersama itu sudah lebih dari cukup."
"Tetep dampingi Abang sampai ajallah yang memisahkan kita Sayang, ingatkan Abang jika salah dalam membimbing keluarga kita nanti." Davin membalas membelai pipi Abel.
Davin cukup sadar, dirinya bukanlah suami yang sempurna, bersama Abel kini ia melengkapi ketidaksempurnanya.
"I love you so much My husband," ucap Abel.
Abel merasa sekarang hanya ada kebahagian di depannya. Entah kedepannya, akankah ada ujian lagi yang menimpa keluarganya. Pada dasarnya, kehidupan rumah tangga ibarat sebuah bahtera yang mengarungi samudera. Kadang bahtera berada di lautan yang tenang. Kadang juga ada terpaan badai yang mengombang - ambingkan bahtera. Disaat itulah ujian akan datang, mampukah keduanya akan bertahan.
Abel mengeratkan genggaman pada jari-jari tangan suaminya, selama ada rasa saling percaya dan saling menguatkan setiap kesulitan. Abel yakin ujian apapun pasti bisa ia lalui bersama Davin.
" I love you too so much much more My Lovely Wife."
Satu kecupan hangat Davin layangkan di kening istrinya.
"Kapan kira-kira Arzen punya adek," bisik Davin di telinga istrinya.
"Abang!"
.
.
.
.
.
.
.
☘️☘️☘️☘️THE END ☘️🍀🍀🍀
...****************...
Akhirnya Ei bisa tamati cerita Abelong dan bang Davin🤗🤗🤗. Terimakasih sudah ikuti cerita rumah tangga Abel yang sedikit bikin gregetan kayak sinetron ikan beranak😁😁😁.
Makasih buat yang sudah Komen, like, vote. Ei selalu baca setiap komen tanpa terlewatkan satu pun 🤗.
Jika masih punya pertanyaan ketik di kolom komentar ya.
Sekali lagi terimakasih untuk apresiasi pada karya remah rengginang Ei yang masih banyak kekurangan.
I loph u semuanya love selalu aku terhura udah bisa namatin dua nopel 🤧.