Lovely Wife

Lovely Wife
Siapa Pelakunya?



Rumah Abel yang penuh dengan puluhan orang mendadak sepi. Semuanya tamunya satu persatu mulai meninggalkan rumahnya. Abel dan Davin masih di depan pintu utama untuk mengantarkan tamunya pulang. Hanya tersisa keluarganya yang masih di dalam rumah.


"Abel, omah pulang dulu ya Nak, jaga bayimu baik-baik." Bu Niah memeluk Abel karena akan pulang sore ini juga bersama yang lain.


"Omah nanti sering-sering kesini ya." Abel masih memeluk manja omah tersayangnya.


"Ya," Bu Niah mencium kening Abel lalu mengelus perut Abel.


"Abel sehat-sehat sampai melahirkan ya Sayang." Tante Vina memeluk Abel.


"Ya Tante, kalau Kayla sudah pulang suruh dia temui Abel Tante." Vina mengangguk mendengar ucapan Abel.


Mobil yang membawa rombongan keluarga Wijaya meninggalkan rumah Abel dengan lambaian di iringi lambaian tangan Abel, Davin dan keluarga Ervan.


Giliran Mama Mitha memeluk Abel akan berpamitan juga untuk kembali ke kota B.


Mama Mitha melepaskan pelukannya. "Mama pulang dulu ya, jaga cucu Mama baik-baik ya."


"Pasti Ma," balas Abel.


Abel juga mencium punggung tangan Papa mertuanya.


"Kamu jaga diri dan cucu Papa baik-baik ya," ucap Pak Hendrawan.


"Ya Pa," jawab Abel.


Kini giliran adik ipar yang akan berpamitan. Abel melirik ke sebelah melihat Nolan yabg masih memeluk Davin. Keduanya masih mengobrol saling memberi motivasi.


Nolan di hadapan Abel sekarang, ia jadi serba salah melihat Nolan. Bersikap biasa nanti suaminya cemburu. Bersikap jaim, ya Nolan pasti berpikir yang tidak-tidak.


"Abel, aku balik dulu. Jaga keponakan aku baik-baik," seru Nolan memegang kedua pundak Abel.


"Ya No pasti, kamu juga cepat nyusul kita ya." Abel hanya bisa memberikan kata-kata penyemangat.


Nolan membalas senyum, wajah bahagia Abel saja sudah membuatnya senang. Apalagi Kakaknya Davin yang tidak henti mengelus perut Abel dengan senyum yang semeringah.


Nolan berpaling ke arah Davin. "Bang! aku boleh pegang keponakanku."


"Ya No, Abel kakak sekaligus sahabat kamu kamu kan," seru Davin. Ia berusaha bersikap normal pada adiknya meskipun masih ada rasa cemburu pada adiknya itu.


Nolan memegang sekilas ujung permukaan perut Abel seperti yang lain. "Baik-baik sama Mama ya De," ucap Nolan.


Entah ada rasa senang tersendiri membayangkan bayi yang akan menjadi keponakan kecilnya.


"Uncle juga cepat punya aunty juga ya," canda Abel.


"InsyaAlloh," balas Nolan. Ia semakin merasa rasa sayang dan cintanya kini perlahan berubah menjadi kasih sayang yang tulus dari adik ke Kakaknya.


"Udah No, kamu mau ketinggalan pesawat." Davin menyenggol Nolan yang melamun melihat istrinya.


"Ya Bang. Jaga Abel dan keponakanku." Nolan menepuk pundak Davin.


Davin membalas memeluk lagi adiknya. "Cepat selesaikan kuliah." Nolan mengangguk mengiyakan.


Mobil - mobil yang membawa rombongan keluarga perlahan-lahan menghilang dari halaman rumah Abel.


Rumah Abel kembali sepi, hanya tertinggal Papa mama dan adik-adiknya saja.


"Kalian istrirahat saja. Biar Papa yang bereskan di bawah." Ervan merangkul pundak Abel.


"Pa, kan ada orang EO juga yang beres-beres. Papa istirahat aja juga," ucap Davin.


"Papa ngawasin aja. Sana Vin, ajak Abel ke kamar mukanya udah capek banget." Seru Ervan.


"Ya Pa iya, ini Abel mau ke kamar." Abel mengandeng lengan suaminya.


"Cape ya Sayang," ucap Davin yang kini merebahkan tubuh Abel.


"Iya Bang," jawab Abel yang getir karena suaminya yang berada di atasnya. Ia takut suaminya minta jatah lagi untuk tongkat saktinya karena sekarang Abel sungguh sangat lelah. Terlebih lagi semalam ia sudah melakukan berjam-jam. Apa masih kurang?


Davin mulai mencium lekuk leher Abel. Abel jadi memejamkan matanya merasakan sensasi geli yang menjalar di tubuhnya.


"Abang nggak minta ehem-ehem kok sayang, Abang tahu kamu lelah. Abang cuma mau tanya aja." Davin menghentikan aktivitasnya dan merebahkan diri di samping Abel.


Abel merambat dengan manja, memeluk tubuh suaminya dan menjadi dada suaminya sebagai sandaran kepalanya yang paling nyaman meskipun tak seempuk bantal.


"Abang mau tanya apa?" tanya Abel sambil memainkan jarinya membuka kancing baju suaminya.


"Kenapa kamu nggak cerita sama Abang, kalau ada orang yang ingin nabrak kamu di mall."


Abel langsung mendongak mengangkat kepalanya mensejajaran dengan kepala suaminya.


"Abang kok tahu," seru Abel.


"Papa yang kasih tahu," seru Davin.


"Papa! Abel mau kasih tahu kalau Abang di rumah."


"Kamu kenapa diam-diam sama Abang kalau keselamatan kamu terancam." Davin mencubit hidung istrinya.


Abel menumpu dagunya dengan tangan. "Abel sebenarnya mau beri tahu Abang, tapi suasana hati Abang kemarin lagi nggak baik, cemburu sama adik sendiri."


"Harusnya kamu langsung beritahu Sayang, gimana kalau kamu dan anak kita kenapa-kenapa." Davin meraih dagu istrinya dan mengecupnya singkat.


"Abel pikir itu hanya ketidaksengajaan orang Bang, jadi Abel nggak terlalu kepikiran."


"Bagaimana kalau orang itu sengaja dan Abang tahu siapa orangnya." Davin mendadak menekan kata-katanya sedikit geram.


"Abang tahu siapa orangnya?" tanya Abel kaget.


"Ya Sayang Abang tahu. Abang nggak akan biarkan dia berusaha menyelakai kamu lagi." Davin mengelus pipi Istrinya.


"Siapa?" tanya Abel lagi penasaran.


"Besok kamu ikut ke kantor Abang ya. Kalau kamu ijinkan, Abang langsung seret saja ke kantor polisi dengan bukti yang ada."


"Abang siapa sebenarnya orangnya, kenapa dia sengaja ingin menabrak Abel." Abel semakin penasaran.


"Besok kamu juga tahu Sayang, sekarang kita tidur kasihan bayi kita. Mungkin dia lelah." Davin meraih tubuh Abel dan memeluknya seperti guling seperti biasa.


Abel hanya pasrah mengikuti arahan suaminya dan memejamkan matanya di atas dada suaminya. Mata terpejam tidak dengan pikirannya yang melayang-layang. Siapa orang yang berusaha ingin mencelakai dirinya? Ia baru saja beberapa bulan di ibukota tapi ia sudah punya musuh. Terlebih musuhnya yang ingin membahayakan keselamatan dirinya.


Ternyata benar kata orang ibukota lebih kejam dari pada ibu tiri. Begitu yang ada di di pikiran Abel. eits! kecuali Mama Riri, dia ibu tiri berhati sutra.


.


.


.


.


.


.


NEXT......