
Abel kini hanya duduk di sofa karena suaminya mengeluh kram Abel terus duduk di atas pahanya. Lagipula jika Abel terus pada posisi begitu Davin sangat tidak konsentrasi bekerja. Ia berharap ini pertama dan terakhir istrinya membututi dirinya ke kantor. Davin bukannya tidak suka, ia hanya takut kelakuan Abel akan membangunkan sesuatu benda yang tak kenal tempat termasuk di kantor.
Abel memainkan ponsel menunggu waktu makan siang yang memdadak menjadi lama.
Akhirnya setelah banyak menonton drama koren, Floris mengetuk pintu masuk ke dalam ruangan Davin. Si tanaman duri memberi tahu sudah waktunya makan siang dan mengajak Abel makan siang bersama sesuai kesepakatan.
"Tunggulah aku di luar dulu," kata Abel.
Floris hanya mengangguk, matanya melirik sambil berjalan, kedua atasannya saling menyatukan bibir hingga suara lenguhan terdengar di telinganya. Dia memang kesal dan gergetan pada Istri bosnya itu, tapi Abel adalah istrinya sedangkan dia hanyalah orang yang baru akan berusaha merebut hati atasannya itu.
"Pergilah dengan Floris. Nanti Abang akan menyusul," ucap Davin sambil mengusap ujung bibir istrinya yang belepotan. Abel menganguk, Davin heran kenapa istrinya mendadak jadi ganas saat berciuman.
Keduanya kini berjalan beriringan tanpa suara ke cafe di sebelah kantor. Masakan Italia yang di inginkan Abel.
Minuman pesanan datang terlebih dahulu. Keduanya duduk berhadapan. Abel terus memperhatikan Floris dengan tatapan tajam. Sedangkan Floris memilih menyesap minuman di depannya dan memperhatikan objek lain.
"Nona Floris, berhentilah mengganggu ataupun mencari perhatian suamiku ketika kalian bekerja!" kata Abel sedikit keras hingga membuat Floris mengalihkan pandangan ke arah Abel.
"Hahaha, apa maksudmu Nona Abelia," jawab Floris sambil tertawa.
"Apa kau pikir aku tidak tahu, wanita seperti apa dirimu?" balas Abel.
"Oh ya, wanita seperti apa diriku ibu Abelia, kenapa kau begitu ketakutan. Kau seperti ketakutan kehilangan suamimu!" kata Floris tajam seolah dia lupa wanita di hadapannya adalah istri Bosnya.
"Ya ternyata benar dugaanku dan beberapa informasi yang aku dapat. Wanita seperti itulah dirimu! pengoda suami orang!"
"Hahahaha!" lagi-lagi Floris tertawa mendengar ucapan Abel.
Wajah Abel memerah entah segeram apa dia sekarang pada orang dihadapannya.
"Floris dengar, kenapa wajah cantikmu, otak pintarmu dan karirmu yang bagus di perusahaan suamiku. Apa hanya kau gunakan untuk mengoda setiap atasanmu? Apakah tidak ada pria single yang bisa kau goda!"
"Wohh tenanglah ibu Abelia, itu semua bukan urusanmu! bagaimana jika suamimu sendiri yang tergoda padaku."
"Jangan pernah bermimpi Nona cantik, suamiku tidak akan tergoda dengan wanita berduri seperti dirimu."
"Kau sangat percaya diri Ibu Abelia," balas Floris dengan senyum licik.
Abel mulai terpojok karena Floris sama sekali tidak tahu malu dengan terus menjawab. Tapi Abel tidak mau kalah.
Dia harus disingkirkan dari kantor suamiku.
"Jaga ucapanmu ibu Abelia, jadi kau ingin sombong dan menunjukkan istri keluarga Adiguna yang punya banyak uang."
"Tentu tidak! untuk apa aku menggunakan nafkah yang diberikan suamiku untuk wanita seperti dirimu! Nona Floris mintalah rotasi atau keluar dari perusahaan. Aku akan membuatmu mudah cari pekerjaan baru. Jangan coba-coba kau dekati lagi suamiku, jangan menumbuhkan duri dalam rumah tanggaku atau dengan uangku aku bisa melakukan apapun yang tidak akan pernah kamu duga-duga." Abel menekan nada suara dengan nada mengancam.
"Kau berusaha mengancamku!" kata Floris dengan nada menekan juga.
"Ya kenapa! kau takut! aku sudah tahu wanita seperti dirimu selalu menggunakan trik murahan. Berpura jatuh, menumpahkan kopi apalagi selanjutnya yang akan kamu lakukan! menambahkan pil perangsang dalam minuman suamiku!" Abel meronggoh tasnya dan melemparkan botol kaca kecil ke arah Floris.
Floris menelan ludah merasa heran setelah menangkap botol dari Abel. Bagaimana bisa Abel menemukan obat itu dalam meja kerjanya yang sangat tersembunyi. Floris kali ini mati kutu tidak bisa menjawab apapun perkataan Abel.
"Jadi pikirkan baik-baik semuanya Nona Floris sebelum kamu menyesal. Aku bisa saja sekarang berteriak bilang kalau kamu adalah pelakor. Biar perempuan-perempuan di cafe ini akan melemparimu dengan sepatu!" Ancam Abel lagi dengan sedikit tertawa renyah.
"Kau!"
"Maaf sepertinya selera makanku hilang, aku akan makan saja dengan suamiku. Bye!" Abel bangkit dari kursi.
Tak lupa dia mengambil cangkir kopi yang ia pesan. Ia menyenggolnya hingga mengenai kemeja Floris, dia panik dan langsung berdiri.
"Maaf, aku nggak sengaja!" balas Abel.
Wajah Floris sudah merah padam menahan marah, tanpa memperdulikan pakaian kotornya, ia manatap punggung Abel yang berjalan meninggalkannya. Ia tidak percaya akan mendapat ancaman seperti itu dari istri Davin. Ia ingin sekali rasanya menarik kerudung Abel dan menjambak-jambak rambutnya.
Abel terus melangkah, ia menghembuskan nafasnya lega untuk pertama kalinya ia mengancam seseorang.
.
.
.
.
.Next...
Semangat Abelongπππ
jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote π