
Davin menemani mertuanya menonton pertandingan sepak bola. Raganya memang di ruang tamu tapi pikirannya pasti terus di dalam kamar memikirkan istrinya. Ervan begitu heboh melihat pertandingan di layar TV tanpa berhenti berteriak sedetik pun. Davin lebih sibuk kesulitan mengupas kulit kacang, karena ia tak terbiasa mengupas kulit kacang.
“Ya … ya ... maju … maju … serang! Oper! Oper! GOL!” Ervan berterika seperti di hutan. Untung saja semua kamar di rumah Davin di buat kedap suara, jadi teriakannya samar terdengar.
“GOL … Manchester city we love you!” teriak Ervan lagi mengoyangkan kaos Davin.
“Sabar Vin, sebentar lagi Liverpool pasti kalah!” ledek Ervan pada Davin yang memilih Liverpool.
“Nggak Pa kita liat aja nanti!” balas Davin yang sebenarnya tidak tertarik dengan permain bola.
Ia hanya mengimbangi mertuanya yang menyukai Manchester City, sehingga ia memilih Liverpool. Jika di suruh memilih ia lebih tertarik membobol gawang istrinya dan mencetak gol sebanyak-banyak disana. Tapi semuanya buyar ketika mertuanya datang mengedor pintu kamarnya.
Davin lebih fokus melihat lama waktu pertandingan di pojok kiri atas layar, kenapa waktu empat puluh menit terasa begitu lama. Ia juga menenggok ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul hampir pukul satu dini hari.
Pikiran Davin melayang-layang? Apakah istrinya masih menunggunya? Atau dia malah sudah terbawa kea lam mimpi? Ia pasrah lagi sekarang. Mungkin gagal malam ini masih ada malam besok dan besoknya lagi.
“Mancester city menang Vin, tambah poin lagi,” Ervan berteriak lagi.
Kali ini pertandingan Mancester City versus Liverpool di tutup dengan skor 1-0 atas Mancester City. Davin bernafas lega akhirnya pertandingan berakhir juga.
“Vin, balik sana ke kamar, Abel pasti nggak tenang tidurnya kamu nggak disampingnya.” Ucap Ervan.
“Ya Pa, aku ke kamar dulu.” Davin bangkit dari kursi dengan semangat.
“Vin,” panggil Ervan lagi. Davin kembali menoleh ke arah Ervan.
“Sebenarnya pengen bicara empat mata. Tapi udah malam, besok aja kita bahas lagi.” Ervan menepuk bahu Davin dan pergi menuju kamar tamu.
Davin merasa ada nada suara yang beda, nada yang serius dari ucapan Papa mertuanya. Tapi itu bisa di pikirkan besok, sekarang ia ingin kembali ke kamar menemui istri tercintanya.
Davin membuka pintu kamar, ia melihat istrinya yang terbaring di bawah selimut. Ia langsung merebahkan diri di samping istrinya. Ternyata, mata Abel terpejam dan terlihat sangat lelah. Davin maju mundur ingin membangunkan Abel. Meskipun Abel sudah berjanji akan menunggunya tapi kenyataannya dia sudah tertidur pulas.
Apakah ia akan setega itu membangunkan Abel hanya untuk mengajaknya melakukan hubungan badan. Davin dilema sekarang, ia membuka selimut dan melihat istrinya hanya berbalut gaun tidur tipis berwarna biru. Dari balik gaun itu memperlihatkan terawangan tubuh putihnya berserta lekukannya yang membuat Davin ingin mulai menjamah saja.
Kenapa kamu jadi bikin naik lagi sih sayang, harusnya kamu nggak pakai baju ini Sayang.
Tapi ketika melihat wajahnya yang tertidur dengan tenang membuat hasratnya meredup lagi tak tega. Davin pusing sekarang, kenapa wajah dan tubuh Abel tidak bisa sinkron. Ia mengambil keputusan tidak membuka puasanya malam ini. Kalau tidak ada halangan ia akan minta pada Abel besok subuh. Davin berpikir lagi, Papa mertuanya sudah terbiasa sholat subuh berjamaah di masjid. Tidak menutup kemungkinan, besok subuh papanya mengedor pintunya lagi.
Davin meraih tubuh istrinya, memeluknya seperti guling. Ia pasrah, malam ini sepertinya hasratnya belum bisa tertunaikan.
Abel bergerak merasakan hembusan nafas di telinganya. Ia juga merasakan tangan hangat mulai melingkar di perutnya. Abel mengerakkan bahunya merasa geli ada yang menciumnya di sana.
Abel berbalik karena memang ia baru saja tertidur. Davin terkejut melihat Abel yang berbalik, apa yang dilakukannya ternyata membangunkan Abel.
"Abang kapan masuk ke kamar?" tanya Abel membelai pipi suaminya.
"Baru aja Sayang," ucap Davin menciumi tangan Abel yang menyentuh pipinya.
"Ya udah ayo," kata Abel.
"Ayo ngapain?" tanya Davin.
"Abel mau tepati janji," jawab Abel malu membenamkan kepalanya di dada suaminya.
"Abel memang nunggu Abang, ayo bang. Abel keburu berubah pikiran Lo." Abel mencoba mengancam dengan gaya manja.
"Akhirnya Sayang, Abang akan pelan-pelan." Davin tidak bisa lagi menahan nalurinya.
"Berdoa dulu," ucap Abel.
"Iya Sayang ...," balas Davin.
Ia memutar tubuhnya berada di atas Abel. Ia mulai merasakan bibir manis istrinya dengan menyesapnya lembut setiap permukaan. Tangannya mulai menangkalkan kain yang melekat di tubuh Abel. Dinginnya Ac yang menyentuh langsung kulit, membuat kedua saling memeluk erat. Dimulai dengan saling berciuman menghangatkan dan meluluhkan semua keinginan yang tertunda. Rasanya malam ini, Davin harus melepaskan hasrat yang menyiksanya.
Keduanya sama-sama tak terbalut apapun, Abel menyerahkan dirinya untuk mempersembahkan kenikmatan untuknya dan suaminya. Davin memasuki tubuh Abel dan merasakan rasa yang begitu dahsyat yang menjalar di setiap tubuhnya. Karena tak merasakan hampir dua bulan lamanya.
"A-bang," eluhan Abel setiap merasakan hentakan suaminya.
Suara eluhan yang keluar dari mulut Abel, membuat Davin terpacu bergerak lebih cepat untuk menguasai istrinya. Abel hanya bisa merasakan kerinduan akan bercinta telah tuntas, ia begitu menikmati setiap permainan suaminya. Keduanya larut dalam permainan hingga di tutup dengan ledakan kenikmatan yang dirasakan bersamaan.
Davin meloloskan benih cintanya yang lama mengendap di rahim istrinya. Nafas yang memburu dan keringat yang menetes dari pelipisnya menandakan betapa hebatnya permainan keduanya malam ini.
"Kamu luar biasa Sayang! terima kasih." Davin mencium kening Abel kemudian merebahkan tubuhnya disamping Abel.
"Abang juga hebat," balas Abel terbata karena nafasnya yang tak beraturan.
Davin meraih tubuh istrinya dan mendekapnya erat. "Akhirnya tunai sayang, nanti satu kali lagi ya, sebelum Papa kamu mengedor pintu kita lagi."
Abel tertawa kecil dan membenamkan kepalanya di dada suaminya. "Ya, Abel istrirahat dulu."
Keduanya bisa tidur nyenyak malam ini meskipun sebentar lagi memasuki waktu subuh.
.
.
.
.
.
.
.
NEXT.....
Akhirnya ya Bang bisa buka puasa😍😍😍😍
follow Igeh Ei ya @einaz1910
jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘😘