Lovely Wife

Lovely Wife
Panik



Kumandang subuh terdengar samar-samar ditelinga Abel. Abel mengucek matanya mencoba bangun memulihkan kesadarannya. Ia menoleh ke samping di dapatinya suaminya yang masih terlelap. Abel menunduk mendekatkan wajahnya di depan wajah suaminya. Ia mengecup bibir suaminya yang terlihat seksi di matanya. Semenjak hamil Abel memang suka sekali dekat-dekat suaminya.


Davin mengerakkan kepalanya karena merasakan gangguan istrinya. Ia meraih tubuh Abel dan mencium balik bibir istrinya sekilas dan melepasnya pelan.


"Abang, mau itu ...," kata Abel sambil memegangi pipi suaminya. Semenjak hamil tua Abel memang menjadi sangat agresif.


Berbeda dengan suaminya yang sekarang mengurangi frekuensi berhubungan suami-istri semenjak kontrol kehamilan seminggu lalu.


"Itu apa Sayang, udah subuh," balas Davin yang sudah membuka mata.


"Sebentar aja Bang," ucap Abel manja. Ia memeluk erat suaminya.


"Nanti kita ketinggalan waktu subuh," balas Davin.


Abel gagal merayu suaminya, entah apa yang terjadi suaminya benar-benar tidak seperti biasanya. Satu kata saja biasanya suaminya langsung menyerang. Abel terang-terangan Davin tidak respon.


"Abang, nggak selera ya lihat Abel gendut gini, bulat kaya bola, lebar pula." Abel sangat sensitif akhir-akhir ini. Dia juga cukup sadar diri bentuk tubuhnya yang mengalami perubahan bobot drastis dan membengkak di bagian wajah dan kakinya.


Davin hanya terkekeh langsung menarik wajah Abel agar sejajar dengan wajahnya.


"Kamu kok ngomong gitu sih sayang, Abang nggak mau sering-sering nanti kebentur kepala anak kita." Davin berusaha merayu Abel dengan alasannya. Sebenarnya Davin masih mencemaskan keadaan Abel.


"Abang ih alasan aja," balas Abel tertawa kecil.


"Justru kamu sek-si lagi hamil gini Sayang," ucap Davin sambil mencium pipi Abel yang tembem.


"Gombal ...." Abel mencubit perut suaminya.


Davin menahan tangan Abel. "Auu! Sakit sayang, kita sholat dulu keburu pagi."


...****************...


Pagi ini seperti biasanya Abel menyiapkan pakaian kerja suaminya. Sekilas ia melihat bayangan tubuhnya di kaca. Tak terasa usia kandungannya sudah memasuki Minggu ke 34. Ia mengelus perut karena bayinya terus menendang.


"Auh ... Kamu lapar ya De." Abel berbicara


sendiri pada perutnya sambil tersenyum.


Tangan kekar memelukmu dari belakang, ia juga ikut mengelus perut Abel yang buncit.


"Lagi main bola ya De," ucap Davin merasakan tangannya merasakan gelombang.


Abel hanya tersenyum ikut memegangi tangan suaminya di atas perutnya.


"Abang ganti baju dulu." Abel berbalik menghadap suaminya.


"Iya Sayang, mana bajunya," ucap Davin.


"Auuh ...." Abel merintih memegangi kepalanya.


Dengan cepat Davin merangkul tubuh Abel yang baru saja meninggalkannya beberapa centimeter.


"Sayang kamu nggak apa-apa?" tanya Davin panik.


"Akhir-akhir ini kepala Abel sering pusing. Kadang sampai pening. Kayaknya bawaan bayi deh Bang," ucap Abel.


"Ya udah kamu istirahat aja, Abang bisa sendiri kok." Davin mengajak Abel duduk di tepi ranjang.


"Ih Abang ... Abel cuma pusing kok. Di masukin makanan nanti juga sehat," ucap Abel.


"Namanya sakit tetap aja sakit Sayang. Kamu harus istirahat," ucap Davin.


"Abang, Abel sekarang hamil besar. Harus banyak gerak biar melahirkannya lancar."


"Iya ... kamu kan masih pusing Sayang. Nanti kalo sudah sehat kamu boleh gerak-gerak sesuka hati kamu." Davin merebahkan tubuh Abel dan mengelus perut bulat istrinya.


"Abang! Abel nggak apa-apa." Abel sedikit kesal dengan suaminya yang terlalu berlebihan akhir-akhir ini.


"Sudah jangan bawel! Nanti Abang yang suapin kamu juga sebelum ke kantor," ujar Davin.


Tak lama berselang, Bi Ningsih datang ke kamar Abel membawa nampan berisi sarapan. Keduanya akan makan di kamar sesuai keinginan Davin. Davin begitu memperhatikan menu sarapan yang akan di santap Abel.


"Abang makanan Abel rasanya hambar semua," ucap Abel sambil menyuap nasi ke mulutnya.


"Tekanan darah kamu belum turun Sayang, kamu harus kurangi konsumsi garam," balas Davin.


Abel mengunyah pelan makanannya dan menaruh sendok. "Abel tiba-tiba kangen Mama, Mama hadir terus di mimpi Abel. Sebelum melahirkan apa bisa kita tengok ke makam Mama Bang," ucap Abel lagi.


Davin menaruh sendok, ia menghentikan aktivitas makannya. "Sayang, kehamilan tua tidak di anjurkan untuk naik pesawat, kalau nanti setelah melahirkan gimana?"


Abel memasang jurus ngambek, "Kelamaan Abang."


Abel hanya bisa mengangguk, ia meraih sendok lagi dan menyelesaikan sarapannya. Pintu kamar terketuk dari luar.


"Masuk," titah Davin.


Bi Ningsih muncul dari pintu, menemui kedua majikannya.


"Maaf Pak menganggu, di bawah Pak Amar sudah menunggu," kata Bi Mina sopan.


"Suruh tunggu sebentar," balas Davin. Bi Ningsih mengangguk sopan dan keluar dari kamar.


"Abang sana berangkat, Abang udah telat ini," ucap Abel.


"Sayang, kamu nggak apa-apa Abang tinggal di rumah atau Abang di rumah saja hari ini." Davin membelai pipi Abel.


"Suamiku sayang, nggak apa-apa Abel hanya pusing Bang."


"Abang janji akan pulang cepat hari ini," ujar Davin. Ia bangkit dan mencium kening Abel.


Abel membuka selimut dan akan mengantarkan kepergian suaminya ke kantor. Davin langsung merebahkan lagi tubuh Abel yang hampir berdiri.


"Nggak usah antar Abang, kamu istirahat aja. Ini perintah," ucap Davin.


"Siap komandan!" seru Abel manyun.


Abel menarik selimut lagi dan merebahkan tubuhnya. Dari kamar Abel bisa mendengar suara mobil yang keluar dari halaman rumahnya.


...****************...


"Pak," panggil Amar memecah keheningan di perjalanan


"Ya, ada apa?" jawab Davin.


"Berkas yang saya serahkan kemarin, apa bapak bawa?" tanya Amar.


Davin menepuk jidatnya, "Amar aku lupa membawanya, Abel sakit. Aku yang menyiapkan perlengkapanku sendiri."


"Kita belum terlalu jauh Pak. Apa kita kembali saja," tanya Amar.


"Ya Amar, kita kembali saja. Berkas itu penting kan."


Amar memutar balik kemudi kembali ke rumah. Tak lama mobil berhenti di depan rumah. Davin segera masuk menuju ruang kerjanya. Ia mencari berkas yang ia tinggal di meja kerja. Ia merasa sedikit aneh, jika pulang tak menemui istrinya. Mungkin sekarang dia sedang tidur. Davin membuka pintu ruangan di sebelahnya.


Davin langsung berlari melihat Abel yang tergeletak tak jauh ranjang. Ia langsung membopong tubuh istrinya yang tak sadarkan diri.


"BI NINGSIH! BI NINGSIH!" teriak Davin.


"Ya Pak," jawab Bi Ningsih. "Astaghfirullahaladzim Mbak Abel kenapa." Bi Ningsih kaget melihat Davin yang membopong tubuh istrinya menuruni tangga.


"Carikan penutup kepala untuk Abel dan buka pintunya." Davin sangat panik Abel yang masih belum sadarkan diri.


Amar melihat Bosnya yang begitu panik dan tergesa-gesa sambil membopong tubuh istrinya langsung membukakan pintu mobil. Mobil langsung melesat ke rumah sakit.


"Sayang, bangun sayang!" Davin menepuk-nepuk pipi Abel sangat panik, Tapi Abel tapi Abel masih belum sadarkan diri.


"Amar lebih cepat!" bentak Davin.


"Ya Pak! tenanglah Pak. Sebentar lagi kita sampai." Amar ikut panik melihat Bos-nya.


Davin benar-benar panik dan ketakutan. Semenjak dokter kandungan memberi tahu Abel terkena Preeklampsia, Davin mencari tahu dan membaca artikel tentang hal itu. Kenyataaanya cukup mengejutkan dan membuat selalu mencemaskan keadaan Abel.


Davin membopong tubuh Abel masuk ke ruang UGD. Ia meletakan tubuh istrinya di atas brankar untuk segera di tangani tenaga medis.


Mulutnya tak pernah berhenti berdoa untuk Istrinya agar tidak terjadi apa-apa. Apakah ini ujian yang harus dilewatinya bersama Abel sebelum bertemu bayi lucunya. Batin Davin.


.


.


.


.


.


.


NEXT.....


Ei Kambek.....akan Ei usahakan Up lagi 😘