
Seperti biasa kegiatan di pagi hari, Abel menyiapkan baju kerja untuk suaminya. Setelah suaminya keluar dari kamar mandi, ia dengan sigap memakaikan baju kerja suaminya, merapikan tatanan rambutnya, memakaikan sepatunya dan terakhir mencium bibirnya minimal 2 menit tanpa jeda. Itulah kegiatan rutin setiap pagi oleh Abel, tapi kali ini berbeda dengan pagi sebelumnya.
Davin harus sabar menunggu istrinya berdandan. Ia juga heran kenapa istrinya begitu bersemangat ingin ikut ke kantor. Meskipun untuk Davin akan menganggu pekerjaan nanti, belum lagi teguran dari dewan kalau sampai Abel minta tiap hari ikut ke kantor. Kalau saat ini Davin punya alasan Abel sedang hamil, dia ngidam ingin berdua terus dengan suaminya. Terdengar alasan yang masuk akal, terlebih itu perusahaan milik keluarga besar Adiguna, tidak ada yang akan protes.
Davin lega istrinya sudah selesai berdandan. Keduanya melanjutkan sarapan pagi dengan selembar roti gandum dengan potongan daging iris dan sayuran selada. Itu menu makan suaminya, tidak dengan Abel yang makan nasi dengan ayam goreng buatan Asisten rumah tangganya.
"Ayo berangkat Sayang, Abang tunggu di luar." Davin sudah menyelesaikan sarapannya dan beranjak dari kursi.
"Abel minum obat dulu," Abel meneguk susunya yang masih sangat dengan cepat. Tak lupa juga ia menelan beberapa obatnya.
Abel segera bergegas menyusul suaminya yang belum masuk mobil menunggu dirinya. Menyadari kedatangan Abel, Davin langsung membuka pintu mobil belakang untuk istriya kemudian ia menyusulausk ke dalam mobil.
"Pagi Pak Bu," sapa Amar dari kursi kemudi depan.
"Pagi Pak Amar," hanya Abel yang menjawab sementara Davin hanya mengangguk.
Mobil bergerak menuju kantor.
******
Hari ini Abel kembali ke kantor suaminya, bukan untuk makan siang bersama seperti kemarin tapi ia bahkan akan menemaninya hingga siang hari.
Tangan Abel terus mengandeng lengan suaminya. Hingga mereka menjadi pusat perhatian setiap karyawan yang melintasi mereka. Davin memamg sedikit tidak nyaman dengan tatapan karyawannya. Davin tidak bisa berbuat apa-apa jika itu sudah menjadi keinginan Abel yang sedang hamil.
Ting
Lift terbuka untuk menuju ruangan Davin, Abel tetap saja mengandeng lengan suaminya. Ya! pemandangan pagi yang membuat mata Abel jadi sepet sedang menyambut.
"Pagi Pak," dengan senyum semeringah. "Pagi Bu," sapa pada Abel dengan nada heran.
Kenapa istrinya yang manja ini mengekor Pak Davin seperti kutu, mereka tidak jadi bertengkar. Floris.
Davin tersenyum dan mengangguk pada Floris. Sedangkan Abel tak bereaksi apa-apa. Bagaimana tidak, senyum si ratu dempul soelah memaksakan ketika menyapanya. Abel sadar dia sudah berdosa memberikan banyak julukan jelek pada Floris.
Ya meskipun terkesan norak memaksa menunjukkan keromantisan. Abel berpikir ia hanya berdua dan satu makhluk halus ini, tidak perlu malu menunjuk kemesraan di depannya. Davin sebenarnya juga tidak nyaman dengan sikap istrinya. Terlebih lagi ini di kantor, tapi lagi-lagi karena Abel hamil Davin tidak bisa berbuat apa-apa apalagi mencegah. Tentu saja Floris merasa risih dengan pemandangan suami istri ini.
"Pak, apa lukamu baik-baik saja," tanya Floris.
"Tentu saja, hanya istrinya yang bisa merawat dengan baik!" jawab Abel ketus sebelum suaminya menjawab. Davin menutup mulutnya kembali fokus pada lembaran dari Floris setelah ada yang memberi jawaban
"Syukurlah," jawab Floris singkat. Rasanya ia ingin sekali pergi dari ruangan atasannya. Pemandangan di depannya terlalu menyakiti matanya, tapi laporannya masih diperiksa oleh bosnya.
"Floris, ini." Davin menyerahkan map pada Floris. Floris mengambil map dan bernafas lega akhirnya bisa keluar dari ruangan panas ini.
"Nona Floris, nanti siang aku ingin kau menemani makan siang," seru Abel pada Floris.
Davin melihat aneh ke arah istrinya.
"Floris kau tidak keberatan kan menemani istriku makan siang?" tanya Davin yang melihat Floris masih dian
"Tentu tidak Pak, saya permisi." Floris menunduk dan segera pergi dari ruangan Bosnya.
"Kenapa tiba-tiba minta makan siang berdua?" tanya Davin melihat aneh ke arah Abel. Setahu Davin, Abel tidak menyukai Floris.
"Pengen aja," jawab Abel. Kini ia sudah tidak sabar menunggu waktu makan siang.
.
.
.
.
.
Next