
Sayup-sayup terdengar suara burung berkicau di telinga Abel. Yang tak lain suara alarm ponselnya. Ini hari Sabtu, Abel terbiasa tidur lagi setelah sholat subuh. Memang apalagi yang bisa dilakukan Abel beberapa hari ke depan, hanya bisa berbaring di atas tempat tidur.
Ia menoleh ke samping tempat tidurnya. Kemana suaminya? Tumben jam segini sudah bangun. Bukankah ini hari Sabtu. Tidak perlu ke kantor juga kan. Yang di tunggu muncul dari balik pintu kamar mandi.
"Sayang udah bangun," kata Davin menghampiri Abel di tempat tidur.
Tubuh suaminya tercium begitu harum seperti aroma permen. Abel langsung refleks memeluk suaminya dan menenggelamkan kepalanya di dada suaminya yang masih polos. Entah kenapa Abel suka sekali aroma tubuh suaminya kali ini, bahkan ia ingin menjilatinya seperti cokelat.
"Kamu nggak mandi atau makan dulu," tanya Davin sambil mengelus rambut istrinya.
"Mau peluk Abang aja dulu," jawan Abel manja.
Davin menurut saja karena mungkin bawaan kehamilannya. Abel memang nggak biasa bertingkah begini. Dia selalu langsung mandi ketika bangun dari tidur. Tapi kali ini Abel memang bersikap aneh membuatnya geli, Bagaimana tidak Abel mengusap-usap kulitnya. Davin memang geli, tapi ada sesuatu yang lebih ia takutkan lagi kalau terbangun.
"Tumben bangun pagi?" tanya Abel. Ia menghentikan aktifitasnya dan mengangkat kepalanya. Davin lega akhirnya Abel menghentikan aktivitasnya yang membuat hampir tidak tahan ingin memakan istrinya.
"Abang mau antar klien aja ke bandara, setelah itu Abang pulang," ucap Davin.
"Bisa diganti nggak yang antar, hari ini Abel maunya nempel terus sama Abang." Abel merengek dan masih bersikap manja.
"Ehmm Abang akan coba ya Sayang, tapi Abang hanya sebentar aja setelah itu Abang langsung pulang?" ucap Davin lagi.
"Ya udah deh." Abel mengalah melepaskan pelukannya.
"Mandi dulu sana, bau istri Abang," kata Davin malah kembali membaringkan menciumi pipi Abel.
"Iya, iya. Tapi lepasin dulu." Abel meronta dari serangan suaminya. Lalu bangkit segera ke kamar mandi.
Davin tertawa renyah melihat Abel yang kabur. Davin meraih baju atasan Abel yang terlepas lalu menciumnya. Aroma tubuh istrinya selalu membuatnya candu dan tergila-gila.
Tak lama Abel sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian seadanya. Ia melihat suaminya yang sudah rapi dengah kemeja putih dan celana hitam.
Abel memeluk suaminya dari belakang yang sedang menata rambut. "Bang Davin beneran pergi ya."
"Iya kan nggak lama," balas Davin.
"Nggak tahu kenapa, Abel tiba-tiba pengen dimasakin sarapan sama Abang."
"Masak! yang bener aja Sayang. Abang nggak bisa." Davin langsung menolak dengan seketika.
Abel memanyunkan bibirnya dan melepas pelukannya. Davin seketika menoleh ke arah Abel mengengam tangannya.
"Sayang kalau kamu mau saham Adiguna Gruop Abang pasti kasih atau kamu suruh Abang buat strategi pemasaran jitu kelapa sawit kamu Abang lakukan. Tapi kalo ...." Davin tidak melanjutkannya katanya.
Membayangkan masuk dapur saja tidak sudah ngeri apalagi masak. Sejak dari kecil Davin sudah terbiasa di layani.
"Tapi ini bukan maunya Abel, ini maunya ini." Abel menunjuk perutnya sambil terus merengek manja.
Davin masih binggung, tapi mau gimana lagi. kalau sudah yang jadi alasan bayinya sepertinya ia tak bisa menolak.
"Iya udah iya. Jangan cemberut lagi." Davin mencubit kedua pipi Abel.
Abel bertepuk tangan kegirangan. ternyata enak ngidam. Kapan lagi lihat pak Adiguna masak di dapur.
.
.
.
.
.
Next....