
Floris menyalakan mesin mobil, menarik tuas transmisi. "Gue mau kasih sedikit pelajaran untuk ibu direktur kita." Mobil Floris mulai berjalan.
"Flo, Lo mau ngapain, jangan gila ya Flo!" ucap Dina panik melihat Floris yang menatap Abel dengan sinis.
...----------------...
Floris melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedikit lebih cepat dari rata-rata, sedetik lagi besi ini akan menyerempet Abel dan tubuhnya akan terbanting ke belakang.
"Berdoa saja Ibu direktur, apa ada yang bisa menolongmu. Dengan begini kamu akan menutup mulutmu yang sombong itu." Floris terus mengeluarkan umpatan yang kekesalan pada Abel.
Mobil semakin dekat, Floris semakin berapi ingin menyerempet kulit wanita yang sudah di posisi baik di hadapannya.
Pedal gas semakin ia percepat injak supaya setelah merebahkan tubuh Abel ia bisa melesat secepat kilat. Dina pun tidak bisa berbuat apa-apa melihat Floris yang begitu berambisi.
"ABEL! MINGGIR!" teriak lelaki yang berlari secepat mungkin melihat mobil warna merah yang akan menabrak Abel.
Mobil merah itu kehilangan targetnya karena ada seorang laki-laki yang mendorong ke ke belakang tubuhnya hingga terjatuh dan tak sempat terserempet.
Tubuhnya langsung memeluk Abel dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai agar tubuh Abel tidak terbentur di lantai.
"Sayang, hampir saja!" Ervan masih mengimbangi nafasnya yang tersengal. Ia tak bisa membayangkan kalau tadi ia tidak cepat menarik tubuh Abel.
"Alhamdulillah Pa, Abel takut banget Pa. Untung ada Papa," Abel yang masih gemetar dan menangis haru di dada Papanya.
"Sekarang kamu bangun Sayang, punggung Papa sakit." Ervan menahan sakit punggung karena menabrak pot bunga saat merebahkan tubuhnya agar Abel tak terhantam menyentuh lantai.
Riri yang masih syok membantu Abel berdiri dan menjadi tontonan pengunjung mall.
"Alhamdulillah, Papa datang tepat waktu nolong kakak." Riri memeluk Abel dan mengelus perutnya.
"Mabok kayaknya sopirnya!" kata salah satu pengunjung.
"Gue sumpahin nabrak tiang listrik tuh orang!" Kata pengunjung yang lainnya.
"Papa, nggak apa-apa," Riri membantu suaminya berdiri karena lengannya terlihat terluka terkena goresan.
"Nggak apa-apa Ma, yang penting Abel sama bayinya nggak apa-apa." Ervan membersihkan pasir yang menempel di tubuhnya.
"Mobil tadi sengaja ingin nyelakain kamu sayang, kita nggak bisa membiarkan lolos begitu saja. Apa maksud dia ingin nyelakain kamu." Ervan mengeratkan pelukannya pada Abel.
"Tapi sudah pergi juga Pa orangnya," ucap Abel mendongak ke arah Papanya.
"Ya sayang kamu bener, tapi papa hapal warna mobilnya. Papa hanya takut dia akan mencelakakan kamu lagi."
Ervan menyuruh Riri dan anak-anaknya masuk ke dalam mobil terlebih dahulu bersama Pak Lemin. Ervan berdalih ingin ke bagian securiti sebentar untuk melihat mobil siapa yang hampir mencelakai Abel.
******
"Lo gila Flo, kalau istri pak Davin tadi ke serempet dia bisa aja terluka," ujar Dina mengelus dada ketika mobil keluar dari Mall.
"Lo nggak lihat tadi dia ada Mas-mas yang nolong! aku gagal! kesel banget gue! coba kalau nggak, tuh si Abel udah gue serempet sampai terkapar dia!" Floris terus mengumpat kesal.
"Flo kita sahabat udah lama ya, gue nggak mau lihat Lo jadi jahat gini gara-gara kekaguman Lo sama pak Davin, Lo bahayain keselamatan orang tahu!" bentak Dina.
"Din, gue nggak mau nabrak Abel ya. Gue cuma mau nyerempet kulit-kulitnya yang mulus biar lecet dan terkapar di lantai. Biar suaminya males nyentuh dia."
"Lo gila Flo, kalau kita ketangkap mobil kita bisa di bakar tahu nggak! karena tabrak lari" ungkap berlebihan Dina
"Mungkin hari ini Nyonya Abelia Davin Adiguna beruntung dari Florista."
"Kamu gila Flo," ucap Dina mulai frustasi menasehati sahabatnya.
.
.
.
.
.
NEXT.....