Lovely Wife

Lovely Wife
Di bawa Paksa



Davin mengajak Abel duduk di sofa menenangkan istrinya. Ia tahu kondisi Istrinya yang terlalu emosional akan mempengaruhi kesehatan anak dalam kandungannya.


Amar menyerahkan segelas air putih pada Davin sesuai perintahnya. Davin meminumkan kepada Abel yang masih tegang.


"Sayang, kamu tahu tunggu disini, Abang akan menemui Floris dan Pak Heru sebentar." Davin meminta ijin pada istrinya. Abel menggangguk kepada suaminya.


Di ruangan lain.


Floris berhadapan dengan atasannya yang berumur hampir setengah abad itu. Floris menangis terseduh meminta pembelaan dari pria itu.


"Pak Tolong, saya masih ingin bekerja disini dengan bapak," rayu Floris.


"Flo, ini salah kamu sendiri, kalau saja Davin bukan putra dari keluarga Adiguna mungkin saya masih bisa selamatkan kamu," ucap Pak Heru sambil memeriksa berkas Floris.


"Pak, saya sudah lama kerja disini sebelum perusahaan ini jadi kantor pusat, apa karena ketidaksengajaan pada istri atasan saya harus di pecat." Floris terus merengek.


"Kau tenang saja Flo, kita bisa bertemu di luar kantor, selama dekat denganku, kamu akan mudah mendapatkan pekerjaan baru," kata Pak Heru genit.


Tua bangka menyebalkan, aku ingin tetap kerja disini agar bisa terus merayu Davin.


"Pak. Posisimu sama dengan Davin, tidak bisa kah kau menolongku."


"Flo, Davin tidak melapor kejadian ini saja kau harus bersyukur," ucap Pak Heru.


"Siapa bilang yang aku tidak melaporkan kasus ini." Davin muncul dari balik pintu yang terbuka di ruangan Pak Heru.


Keduanya langsung beralih pandangan ke sumber suara.


"Pak Davin! berkas Floris sudah selesai." Pak Heru menyerahkan pada Floris.


"Tanda tangani itu Flo, kau di pecat dari perusahaan milik keluargaku!" ucap Davin.


Floris langsung berdiri meraih tangan Davin. "Pak tidak bisakah kau pertimbangan lagi, aku sungguh tidak sengaja."


Davin melepaskan tangannya yang di pegang Floris. "Flo awalnya aku suka cara kerjamu, keuletanmu. Tapi ternyata kau punya tujuan lain kan! pertama, istriku memergokimu punya obat perangsang dan kau berkata kasar padanya, aku terima alasanmu itu obat temanmu dan aku hanya memutar saja posisimu agar istriku merasa tenang. Tapi sekarang kau keterlaluan Flo, kau seperti sengaja ingin menabrak istriku kan!"


"Pak ... sungguh aku tidak sengaja!" Floris masih berusaha memegang lengan Davin dengan harapan akan mendapatkan pengampunan.


"Lepaskan tanganku Flo, jelaskan nanti di kantor polisi jika mereka datang menjemputmu!" ucap Davin lagi.


"Pak kenapa kau tega sekali padaku Pak," ucap Floris.


"Sekarang kemasi barangmu!" ucap Davin.


"Pak Davin, apa tidak terlalu berlebihan melaporkan Floris ke kantor polisi, tidak ada korban dan tidak ada yang terluka. Istrimu baik-baik saja kan." Pak Heru berusaha membela Floris.


"Biarkan polisi yang meyelesaikan masalah ini kantor polisi."


"Pak Davin! memecat Floris secara sepihak karena masalah pribadimu sebenarnya adalah salah, sekarang kau malah melaporkan seorang yang tak segaja melakukan kesalahan!" Pak Heru membela Floris lagi.


"Pak Heru jika melihat rekaman CCTVnya kau sadar apakah itu ketidak sengajaan atau itu tujuan lain. Aku tidak bisa melihat istriku merasa terancam. Biarkan semua di jelaskan di kantor polisi!" tegas Davin lagi pada Pak Heru.


"Pak ...." Floris memegang lagi tangan Davin.


"Flo, kemasi barangmu! aku tak ingin melihatmu lagi!" Davin menarik tangannya lagi dan keluar ruangan.


"Pak ...." Teriak Floris sambil meneteskan air mata buayanya.


Pak Heru memegang pundak Floris. "Flo tenanglah masih ada aku, aku akan membantumu bebas dari tuntutan."


"Pak aku tidak bersalah, mungkin istri Pak Davin yang terlalu cemburu padaku hingga ia membuat Pak Davin terhasut." Ucap Floris.


"Tenang Flo, aku bersamamu sekarang!"


Floris bersandar di pundak Pak Heru, "Terima kasih atas kebaikan bapak." Davin kau sangat keterlaluan. Untuk sementara aku harus berlindung dengan tua bangka ini, aku nggak mau di penjara.


...****************...


Diruangan yang lain, Abel sudah bisa menenangkan dirinya sambil merebahkan kepalanya di sofa. Ia sungguh tidak menyangka Floris akan berbuat senekat itu pada dirinya. Abel mengelus perutnya yang mulai buncit memberi ketenangan juga pada bayinya.


Abel hanya bisa bersyukur sampai detik ini suaminya belum tergoda. Tapi lama kelamaan si tanaman duri pasti berusaha lebih keras lagi. Untung saja waktu itu dirinya bertindak cepat dengan obat perangsang itu. Ia hanya bisa berharap, kejadian ini menjadi pelajaran untuk Floris dan membuatnya menyadari kesalahannya. Abel juga berharap rumah tangganya menjadi kembali tenang. Apalagi tinggal menunggu waktu ia dan suaminya akan kedatangan kebahagiaan baru yang mewarnai rumah tangganya.


"Sayang ...," suara Davin yang membangun lamunan Abel.


"Abang," Abel berdiri menghampiri suaminya yang baru masuk ruangan. "Gimana Floris Bang," sambung Abel.


"Sayang! kamu kenapa cemas begitu sih," Davin memeluk istrinya. "Kemungkinan sebentar lagi polisi akan menjemputnya untuk menindak lanjuti laporan Abang."


"Floris di tangkap polisi? apa dia juga akan di penjara?" tanya Abel.


"Ya, kalau dia terbukti bersalah. Tindakan Floris mengarah ke kriminal," jawab Davin.


Sejenak Abel merasa iba, tapi mungkin dengan ini akan jadi pelajaran bagi Floris. Membahayakan nyawa orang lain adalah tindakan jahat dan kriminal.


"Sekarang kamu tenang kan sayang, fokus pada anak kita." Abel mengelus perut buncit Abel.


Abel mengeratkan pelukannya pada suaminya. "Sebenernya Abel kasihan sama Floris, wanita seperti dia seharusnya bisa mendapatkan lelaki single dan baik. Kenapa dia malah suka dengan Abang, lelaki yang sudah beristri dan karena itulah dia juga nekat membahayakan orang lain."


Davin hanya diam. Karena selama ini, memang ia tidak menyadari rasa ketertarikan Floris padanya. Ia hanya menganggap Floris sebagai sekertarisnya yang rajin dan ulet ketika berkerja. Wajah manis Floris memang selalu membuat Davin mempercayai kata-katanya.


"Sayang, yang penting sekarang kamu baik-baik saja kan."


Abel mendongak menatap wajah suaminya. "Abang, jujur! Abang pernah nggak hampir termakan rayuan wanita itu. Dia kan sudah pernah pegang-pegang perut Abang, mungkin dia juga pernah usaha pegang-pegang yang lain yang nggak Abel tahu." Ucapan Abel sambil mempraktekkan cara Floris yang meraba perut suaminya.


Davin terkekeh melihat wajah istrinya yang sedang cemburu. "Ngapain harus tergoda wanita lain Sayang, kalo yang di rumah saja ada yang halal dan lebih menggoda begini." Davin meraih lagi tubuh istrinya dan menghujani Abel dengan kecupan.


Ucapan istrinya memang ada benarnya, ia teringat pernah sekali hampir mencium Floris karena pengaruh parfum yang mirip wangi Abel dan bujukan setan pastinya. Tapi untungnya ia cepat sadar kalau wanita yang didepannya bukannlah wanita yang halal untuknya.


"Abang ih ini di kantor ...." Abel mencoba menghindari suaminya yang mengecupnya berkali-kali.


"Memang kenapa," Davin berhenti menciumi Abel, ia menangkap wajah istrinya. "Abang hanya mecintai kamu Sayang cuma kamu, selamanya."


"Kenapa, mendadak lebay sih." Pipi Abel merona merah.


"Kamu tanyanya aneh-aneh, Abang di kantor kerja bukan di pegang-pegang sekertaris. Abang jadi pengen kan sekarang di pegang-pegang kamu." Canda Davin sambil mengarahkan tangan Abel ke bagian bawah tubuhnya.


Abel mendorong tubuh suaminya. "Abang mesum nggak tau tepat ih!" Davin hanya terkekeh berhasil membuat mengoda istrinya.


Tok tok tok


Ketukan pintu membuat keduanya berhenti bermesraan.


"Permisi Pak, pihak polisi sudah datang membawa Floris," ucap Amar.


Davin langsung mengandeng tangan Abel, di ikuti Amar yang mengekor di belakangnya. Ia memasuki lift khusus petinggi perusahaan untuk turun ke lobby.


Bertepatan dengan pintu lift yang terbuka. Abel dan Davin melihat Floris yang di bawa dua orang laki - laki berpakaian serba hitam.


Davin memang meminta pihak berwajib tidak membuat gaduh di kantor dan membuat karyawan yang lain ribut saat penjemputan paksa Floris untuk diperiksa.


Abel mengengam erat tangan suaminya, ia merasa iba sebenarnya melihat Floris masuk mobil di bawa paksa petugas. Tapi mungkin dengan ini seseorang bisa menyadari kesalahannya.


.


.


.


.


.


NEXT......


Sori baru Up 😘 udah Ei panjangin ya Up nya.


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘