
Kondisi Abel di pastikan siap menjalankan operasi. Davin terus mengenggam tangan Abel yang di dorong mengunakan brankar menuju ruang operasi. Abel setuju untuk di operasi karena itu jalan satu-satunya untuk menyelamatkan keduanya. Jika kehamilannya dilanjutkan, di kuatirkan terjadi kejang pada ibu hamil yang akan membahayakan nyawa keduanya.
"Sayang, kamu kuat ya. Sebentar lagi kita akan melihat bayi kita." Davin mencium kening istrinya.
"Ya Bang, Bismillahirrahmanirrahim." Abel berusaha kuat. Melepaskan genggaman tangannya.
"Kamu akan jadi ibu yang hebat Sayang." Ervan juga mencium kening Abel.
"Doain Abel ya Pa," ucap Abel sebelum di dorong ke dalam.
"Pasti Sayang, Papa dan Mama akan selalu mendoakan kamu." Ervan mencium lagi kening Abel.
Abel memasuki ruang operasi bersama para perawat. Dada berdebar kencang, ini pertama kalinya ia memasuki dinginnya ruangan operasi. Dokter Stella, dokter kandungan yang selama ini menanganinya tersenyum pada Abel.
"Kita mulai sekarang ya bumil cantik," ucap Dokter itu ceria. Abel tahu itu hanya untuk menyemangati dan menenangkan dirinya.
"Dokter selamatkan anak saya." Hanya itu kata yang bisa diucapkan Abel sambil menahan air matanya.
"Pasti Ibu Abelia," balas Dokter.
Abel hanya tersenyum, mulutnya membaca doa sebelum kesadaran hilang. Ia tahu resiko operasi ini besar, dokter sudah pernah menjelaskan sebelumnya bahkan sebelum ia tahu langsung dari suaminya. Ia sudah siap dengan kemungkinan apapun yang terjadi. Jika memang jalan Allah membuatnya tiada karena melahirkan bayinya. Maka Abel sudah sangat siap, ia mengganggap itu adalah jihadnya.
Entah apa yang di berikan dokter, tiba-tiba pandangan lampu sorot di depannya menjadi kabur dan semuanya mengelap.
...****************...
Sementara di luar ruang operasi. Davin dengan perasaan cemas tak berhenti membaca doa untuk keselamatan istri dan anaknya di ruang operasi. Lampu merah menyala tanda operasi sedang di lakukan. Perasaannya semakin panik, ia duduk lalu berdiri lagi mondar-mandir.
Dokter sendiri yang menjelaskan padanya operasi ini mempunyai resiko. Tentu saja pikiran sangat kacau dan tidak bisa berpikir jernih.
Ervan terus menenangkan Davin meskipun ia sendiri juga panik. Semua hening di luar ruangan hanya mulut mereka saja yang bergerak terus melantunkan doa untuk keselamatan Abel dan bayinya.
"Kamu tenang Vin, Abel dan anak kamu pasti baik-baik saja." Mama Mitha memeluk putranya. Mama Mitha yang baru datang juga ikut merasa panik seperti yang lainnya.
"Makasih Ma," ucap Davin membalas memeluk ibunya.
Setelah satu jam tanpa suara penuh ketegangan di luar ruang operasi, terdengar samar-samar suara tangisan bayi. Wajah masam beberapa waktu lalu berubah menjadi sedikit senyuman. Suara itu menandakan bayi Abel lahir dengan selamat.
"Kamu jadi ayah Vin sekarang." Ervan memeluk Davin. Perasaan semua orang sedikit tenang.
Riri dan Bu Mitha juga bergantian memeluk Davin merasa senang. Jika bayi selamat, bagaimana dengan Abel? kenapa belum ada yang keluar dari ruangan operasi.
"Pak Davin," panggil salah satu perawat.
Davin langsung berdiri mendengar namanya di panggil.
"Silahkan ikut dengan kami untuk mengadzani bayinya." Perawat itu membimbing Davin mengikuti langkahnya.
Davin mengikuti perawat ke ruang perawatan bayi. Ada bulir yang menetes di wajahnya karena haru. Dirinya menjadi seorang ayah sekarang. Perawat menyerahkan bayi yang sudah di tutupi kain bedong pada Davin di ruangan yang berbeda.
Ia gemetar memegang bayi kecil yang masih merah itu. Ia melihat wajah lucu buah cintanya dengan Abel. Ia pun menyeka air mata bahagia yang jatuh begitu saja melihat bayi mungil di tangannya. Ia mendekap dengan pelan putranya untuk pertama kali. Ia mengadzani bayi kecilnya itu di telinga kiri dan membaca iqomah di telinga kanan. Ia mencium bayi kecil mungil yang sedang tertidur itu. Ia tak hentinya bersyukur bayinya lahir dengan selamat.
"Bobot bayinya dua ribu dua ratus gram Pak, masih perlu perawatan di ruang khusus karena lahir belum cukup umur atau prematur. Jika nanti sudah di pastikan organ bayi bisa berkerja dengan normal, bayinya bisa di bawa ke ruang rawat inap."
Perawat meminta Bayi mungil itu lagi dan mempersilakan Davin keluar ruangan dan melihat dari jendela kaca.
"Ada Pa? Abel baik-baik saja kan." Davin bertanya pada Ervan terlihat panik.
Ervan masih diam dan menunduk.
"Ma, ada apa Ma." Davin bertanya pada Mama Mitha.
"Operasi berjalan lancar tapi Dokter tadi bilang, kondisi Abel menurun, dia belum sadarkan diri." Mama Mitha berusaha memberi tahu Davin dengan pelan.
Mendadak dada Davin terasa nyeri, ujian apa lagi yang di berikan Allah padanya. Sekarang yang Davin inginkan hanyalah keselamatan istrinya. Pandangam mendadak kabur, disisi lain ia bahagia bayinya selemat. Disisi lain ia begitu pilu memikirkan nasib Abel yang masih berjuang untuk hidup.
Tak lama berselang pintu ruang operasi terbuka, salah satu dokter menemui wajah sedih bercampur penuh harap didepan ruangan itu. Dokter memberitahukan Abel masih harus dilarikan ke ruang ICU untuk memonitoring keadaannya karena kondisinya belum stabil dan belum bisa sadarkan diri.
"Abel! dokter! katanya dengan operasi anak dan istriku akan selamat! tapi nyatanya! apa yang terjadi pada istriku sekarang! kenapa dia bisa seperti itu!" bentak keras Davin di depan dokter itu.
"Pak kita sudah berusaha melakukan yang terbaik Pak," dokter itu berusaha menenangkan orang yang ada di hadapannya.
Ervan meraih tubuh Davin. "Tenang Vin, apa dengan emosi bisa membuat Abel sembuh, yang dia butuhkan hanya doa dari kita semua!" Ervan berusaha menyadarkan Davin.
Davin mengatur nafasnya mencoba untuk tenang.
Beberapa jam kemudian, Davin di ijinkan untuk melihat Abel. Ia memakai pakaian steril setelah sampai di ruang ICU. Ia melihat kondisi istrinya yang masih terbaring dengan di pasangkan alat-alat yang terhubung dengan layar monitor.
Davin mengengam tangan Abel yang masih tak sadarkan diri. Kenapa keadaan bisa jadi separah ini? harusnya sekarang ia sudah bisa berkumpul dengan anak dan istrinya. Tapi Abel masih terbaring di sini dan belum membuka mata.
Davin mengengam tangan Abel. Ia tak merasa begitu seterpukul ini sekarang. Ia sangat takut kehilangan Abel, ia tidak mau kehilangan abel, ia bisa gila jika Abel tidak di sisinya.
"Sayang, kamu cepat sadar. Anak kita sangat ingin kamu gendong. Kamu pasti juga nggak sabar mau gendong anak kita kan." Davin menyeka air matanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya dirinya merasa serapuh ini. Dulu ia bisa campakkan ribuan wanita. Tapi saat ini, ia sungguh kehilangan jiwanya. Ia begitu pilu karena satu wanita yang sangat di cintainya sekarang terkulai tak berdaya.
"Sayang kamu pasti sedikit kesal melihat anak kita. Dia sangat mirip denganku Daddy-nya. Dia sangat Lucu, dia manis dan bayi kita sehat. Meskipun dia fotokopi Daddynya, tapi aku yakin sifatnya nanti seperti maminya yang cantik. Anak kita akan jadi anak yang Kuat, tangguh, baik hati dan sholeh."
Lagi-lagi tidak ada suara Abel yang Davin dengar, ia hanya mendengar suara monitor yang menunjukkan kerja jantung Abel.
Davin mendekat wajahnya mencium kening Abel. "Bangun Sayang, ayo kita pulang dan berkumpul dengan anak kita." Lagi-lagi ia menangis tersedu di samping Abel karena tidak ada respon sama sekali dari Abel.
.
.
.
.
.
.
.
Next....
Ei jadi nyesek 🤧🤧🤧...
jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘