Lovely Wife

Lovely Wife
Masalah Baru



“Tenang Bumil, inget lagi masa pemulihan. Nanti strees lagi loh.” Rena mengusap perut Abel mencoba menenangkan.


Abel mengambil nafas menenangkan diri. Rena memberikan susu di atas nakas pada Abel agar dia lebih tenang.


“Abelong kamu harus percaya sama suamimu. Dia pasti nggak bakalan tergoda sama cewek model gitu. Bininya cantik gini, sholehah lagi.”


“Rena! Namanya manusia ada khilafnya,”


“Kalau saran aku sih, kamu nggak usah pusingin dulu masalah tanaman duri. Mending sekarang kamu fokus sama calon anak kamu. Nanti dia ikut stress kalau ibunya stress.” Rena berusaha menguatkan Abel.


“Ya kamu bener, anak aku jauh lebih penting.” Abel mengelus perutnya yang rata merasa lebih tenang.


“Gitu dong, bagi tips Abelong biar cepat jadi,” ujar Rena.


“Banyakn doa dan banyak tindakanlah,” Abel terkekeh.


“Udah Abelong, padahal tempat udah sepi di tengah kebun sawit nggak ada ganguan.”


“Sabar, berarti belum rejeki,” ucap Abel.


Meskipun hanya bercerita dan bercanda hal ringan. Kedatagan Rena ke rumahnya di ibukota membawa semangat tersendiri untuk Abel. Kini Abel mulai lebih berpikir positif. Semakin bahagia rasanya akan menjadi calon ibu. Keduanya kini masih bercengkrama menceritakan banyak tentang kehidupan masing-masing di tempat tinggal baru.


Sementara di ruang tamu, dua orang lelaki dewasa juga sedang mengobrol, keduanya membicarakan kehamilan Abel yang sedikit ada masalah di awal. Tak lupa juga Angga selalu memberi nasehat agama tentang amalan ibu hamil.


"Jaga Abel dengan baik ya Vin, harus sabar jadi suami. Orang hamil itu ibarat jihad yang berjuang mempertahankan kehidupan lain dalam dirinya. Saya pernah dengar nasehat, salah satu pahala wanita yang sedang hamil selain jihad. Malaikat beristighfar untuk ibu hamil baginya seribu kebaikan dan menghapuskan seribu kejelekan. Besar sekali keutamaan ini hamil. Kita sebagai suami juga harus lebih dan lebih menjaga istri kita. memberikan tempat sandaran terbaik dan tempat berkeluh kesah terbaik." Angga memberikan sedikit nasehat.


"Ya Pak Angga, saya akan selalu jaga istri saya. Kadang masih nggak percaya sebentar lagi mau jadi ayah," ungkap Davin.


"Ya Vin. Nggak semua orang bisa beruntung seperti kamu dan Abel, langsung diberi amanah sama Allah. Misal saya dengan istri yang sampai sekarang masih menunggu amanah dari Allah."


"Sabar Pak Angga, saya doakan semoga Rena bisa segera nyusul Abel." Davin menepuk pundak Angga.


"Amin! Berdoa dan tak lupa juga berusaha, juga ya Vin." Angga terkekeh.


"Rencana berapa hari Pak Angga di ibukota?" tanya Davin.


"Sekitar tiga hari, Senin selesai pertemuan asosiasi mungkin udah balik ke kota T."


"Ok Pak Angga. Seandainya kondisi Abel memungkinkan pasti saya sudah ajak Pak Angga dan Rena jalan-jalan sebelum pulang."


"Nggak apa-apa Vin, kita ngerti kondisi Abel lebih penting. Kalau Mama Papanya tahu Abel sempat mengalami pendarahan pasti mereka cemas," seru Angga.


"Itulah sebabnya Abel melarang saya memberitahu keadaan sebenarnya pada mereka. Ya pasti mereka sekarang bahagia Abel hamil dan baik-baik saja."


"Ya Vin, kalau itu memang lebih baik tidak masalah."


"Bagaimana kabar perusahaan istri saya Pak, semuanya baik-baik saja kan?" tanya Davin.


"Pak Angga, apa ada masalah?" tanya Davin penuh curiga melihat ekspresi Angga.


Lagi-lagi Angga terdiam, ia seperti tidak bisa menjelaskan keadaan yang terjadi.


"Vin, sebenarnya ada sedikit masalah."


"Benarkah. Masalah apa itu Pak Angga?" Davin ikut panik, bersiap menyimak penuturan Angga.


"Bu Miranda berencana berpindah melepaskan perusahaan dari naungan WPH. Hal itu membuat ketegangan antara Bu Miranda dan Pak Ervin," kata Angga.


"Kenapa Bu Miranda tiba-tiba ingin berpindah naungan dari perusahaan yang sudah membesarkan nama Wilson Palm."


"Kemungkinan tawanan keuntungan yang lebih besar dari WPH? Tapi semau tetap harus melalui kesepakatan dan persetujuan dari Abel," Balas Angga.


"Pak Angga nggak semudah itu berpindah dari naungan dari perusahaan. Apalagi WPH sudah ikut berjuang menaungi Wilson Palm sampai seperti sekarang. Tentu saja pak Ervin sangat marah."


"Saya berharap masalah ini cepat selesai, mendapatkan solusi yang terbaik."


"Pak Angga, perusahaan mana yang ingin mengambil alih Wilson Palm dari WPH."


"Kamu benar-benar nggak tau?" tanya Angga. Davin menggelengkan kepala karena memang tidak tahu menahu tentang perusahaan Abel.


"Adiguna group," jawab Angga.


Davin tersontak kaget. Davin memijat kepala yang tidak gatal. Rasanya ingin marah bercampur kesal. Bagaimana ia tidak tahu kalau Adiguna group masih ingin berusaha mengambil alih perusahaan istrinya. Davin tahu ulah siapa ini?


"Pak Angga saya akan segera selesai masalah ini secepatnya, tolong Abel jangan sampai tahu dulu masalah ini. Saya nggak mau kondisi Abel jadi drop lagi, kalau tahu Paman dan bibinya sedang bersitegang."


"Ya Vin, saya juga berpikir begitu. Ayo sekarang temui Abel saya juga kangen sama dia," ajak Angga.


Davin dan Angga beranjak menuju kamar Abel menemui istri-istri mereka.


.


.


.


.


Next....


Harus sabar sabar Abel 😔😔


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘