Lovely Wife

Lovely Wife
Masuk Kamar



Sementara di tempat berbeda di dalam sebuah pesawat dari kota T. Davin bisa bernafas lega karena berhasil membuat Miranda Wilson menandatangani surat pembatalan pengalihan perusahaan Wilson Palm. Ia berhasil menghalang peralihan perusahaan sebelum Miranda menyampaikan pada Abel.


Ia berharap dengan ini keluarga Wijaya kembali rukun lagi kepada mertuanya karena kesalahpahaman mereka terluruskan. Hanya Pak Hendrawan saja yang belum tahu masalah ini. Mungkin cepat atau lambat ia akan tahu, atau Davin sendiri yang akan memberi tahu setelah mereka bertemu di Ibu kota.


Sekarang ia merasa sangat lelah dan ingin sekali pulang ke rumah bersama istrinya.


"Maaf Pak," tegur Amar membangun Davin yang merendahkan tubuhnya sambil menutup mata.


Davin langsung terbangun mendengar suara Amar. "Ada apa Amar?"


"Ada informasi terbaru dari kepolisian Pak, Saya sudah mengantongi siapa pemilik No polisi kendaraan dari potret CCTV yang diberitahukan mertua Anda."


Davin mendongak dengan semangat. "Siapa Amar? siapa orang yang berusaha menyelakai Istriku!"


"Pak, namanya Debora Sahita. Menurut penyelidikan ia sama sekali tidak pernah terkait atau mengenal Anda maupun Nona Abelia."


"Jadi siapa orang itu, kenapa dia ingin menyelakai istriku." Davin mulai kesal.


"Orang yang saya suruh mengabarkan kalau Debora sudah menjual mobilnya satu tahun lalu Pak. Sekarang orang yang saya suruh akan menyelidiki lagi siapa pembeli dan pemilik mobil merah itu. Sabarlah Pak mereka akan mengabari kita secepatnya jika mendapatkan informasi terbaru." Amar menuturkan dengan panjang lebar sesuai informasi yang dimiliki.


"Ya baiklah aku akan menunggu dan kabari secepatnya," titah Davin.


"Pasti Pak," jawab Amar.


"Amar berapa lama lagi kita akan sampai, aku sudah sangat merindukan istriku."


"Mungkin setengah jam lagi Pak. Apa perlu saya memberitahu Ibu untuk menyiapkan kamar terlebih dulu Pak," balas Amar.


Davin terkekeh. "Keluarga istriku sedang berada di rumahku, kau tahu kan betapa ributnya mereka."


Amar ikut tertawa melihat Bosnya.


...****************...


Sementara di rumah Abel. Keluarga Ervan dan Nolan masih mengobrol dengan santai. Setelah lebih satu jam, Ervan berpamitan akan istrirahat di kamar bersama Riri dan anak-anak.


"Abel, sebaiknya kamu juga istirahat. Nanti kita mengobrol lagi," ujar Nolan


"Sebentar lagi Bang Davin pulang, aku tunggu dia dulu," jawab Abel. "No, cerita dong gimana kamu bisa sama Nesya." Sambung Abel mendadak usil.


"Nanti juga tahu sendiri," balas Nolan.


"Kamu nggak asik ah No, cerita nggak!" Abel memukuli Nolan dengan bantal sofa seperti anak kecil.


Nolan berusaha menghindar meskipun ini hanya candaan.


"Abel stop nggak! kamu kayak anak-anak aja! nggak berubah!" Nolan memegang kedua tangan Abel, menahan Abel yang akan memukulnya lagi.


"Ehem ... kalian seru banget! sampai Nggak tahu Abang datang."


Keduanya menghentikan aktivitasnya tarik menarik tangan dan menoleh ke asal suara.


Abel meraih punggung tangan suaminya, ia masih menunggu ciuman di kening seperti biasa tapi tak kujung ada. Abel mendongak melihat ekspresi wajah suaminya yang terlihat aneh.


Apa Bang Davin salah paham sama aku dan Nolan.


"Bang, baru datang!" Nolan juga ikut mendekati kakaknya dan memeluknya.


"Kamu udah lama berduaan dengan Kakakmu seperti tadi," seru Davin dengan nada ketus.


Nolan jadi merasa bersalah Kakaknya menjadi marah dan salah Paham.


"Bang kita hanya bercanda, lagipula tadi ada Om Ervan sama Raffa Raydan juga." Nolan meluruskan kecurigaan Kakaknya.


"No, sebaiknya kamu istirahat pakailah kamar di atas ada kamar kosong disebelah kamar kita." Perintah Davin.


"Ya Bang!" jawab Nolan yang tak bisa menolak Kakaknya. Nolan menepuk bahu Davin meminta ijin naik ke atas tangga.


Davin melirik ke arah Abel. Betapa kesalnya dia tidak mendapat sambutan di depan rumah, malah melihat istrinya yang asik bercanda-canda dengan Nolan.


"Hape kamu mana! sampai nggak tahu Abang pulang!" seru Davin.


"Di cas Abel nggak dengar." Abel memasang wajah manis agar suaminya tidak marah.


"Senang kamu bisa bertemu dan tertawa-tawa dengan Nolan seperti tadi Sampai nggak dengar suara mobil suamimu pulang!" balas Davin.


Abel berusaha tidak terpancing emosi karena kesalahpahaman suaminya. Abel mengerti suaminya pasti lelah sehingga pikiran sedang tidak bisa berpikir jernih.


"Maaf Abel bener nggak denger, Abel hanya lama tidak bertemu dan bercanda dengan Nolan. Maaf!" Abel hanya tidak menyangka suaminya marah karena hal remeh ini.


"Kita ke kamar sekarang! jangan harap bisa keluar kamar sampai malam atau besok pagi!" titah Davin menarik tangan Abel.


Abel mengikuti langkah suaminya. Ia hanya bisa pasrah dan tidak membantah apa yang akan di lakukan suaminya. Ia hanya tidak ingin terjadi keributan yang bisa menghebohkan tamu-tamunya.


.


.


.


.


.


.


Next.....


Hedehh Abang 🤦


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘