
Abel membuka mata karena mendengar samar-samar suara Adzan subuh. Ia merasakan sedikit pegal dan nyeri di pinggangnya. Dilihatnya kepala suaminya yang terkulai dadanya. Pantas saja badannya terasa berat hingga nyerinya tembus ke pinggang.
"Abang, bang Davin. Bangun udah subuh." Abel menggoyangkan bahu bayi besarnya agar bangun.
Abel terus menggerakkan badan suaminya dan mengelus sesekali kepalanya agar segara membuka mata.
"Sayang, Abang masih capek banget sebentar lagi." Davin malah menikmati belaian istrinya dan memeluk erat Abel.
"Abang, itu Papa pasti nunggu Abang sholat subuh di masjid." Abel terus berusaha membuat suaminya bangun.
"Ya sayang iya," Davin membuka matanya dan bangun menghujani wajah Abel terlebih dulu dengan ciuman.
"Abang udah! sekarang mandi dulu please!" ucap Abel mendorong suaminya.
"Ya, mandi berdua ya."
tok tok tok
Belum sempat menjawab suara ketukan pintu sudah mengagetkan keduanya. Siapa lagi kalau bukan Papanya.
"Vin, cepetan! keburu iqomah!" teriak Ervan dari pintu.
"Ya Pa! sebentar lagi!" balas Davin.
"Cepat! Papa tunggu dibawah." Suara Ervan yang terakhir terdengar bersamaan dengan langkah kaki yang menuruni tangga.
"Tuh Sana mandi! Cepetan!" seru Abel.
"Iya-iya ...." Davin pun menurut kali ini, pergi ke kamar mandi sendiri.
****
Ervan dan Davin berjalan beriringan usai sholat subuh berjamaah di masjid. Lokasi rumahnya dan masjid memang tidak jauh, hanya beda satu gang. Abel dari awal memang sengaja memilih rumah yang tak jauh dari masjid kalau bisa di depan masjid. Tapi rejeki Abel dan Davin mendapatkan rumah yang dekat dengan masjid tapi tidak juga di depan rumah mereka Persis. Karena di depan masjid Hanya ada bangunan Ruko.
"Vin, betah Abel tinggal disini?" tanya Ervan membuka pembicaraan.
"Alhamdulillah betah sepertinya Pa, selama ini Abel cuma bedrest kita belum sempat keliling kota."
"Ya nggak usah keliling kota, kesehatan Abel lebih penting," seru Ervan. Davin hanya mengangguk mengiyakan.
"Vin, Abel sudah tahu kalau Miranda ingin mengalihkan perusahaan di bawah naungan Adiguna." Ervan beralih topik pembicaraan dengan nada serius.
"Belum Pa, aku juga terkejut setelah tahu dari pak Angga."
"Aku hanya kuatir Abel jadi tertekan dengan pilihan yang sulit."
"Pa, aku sudah usahakan membatalkan rencana Adiguna Gruop mengambil alih Wilson Palm meskipun banyak penolakan dari yang lainnya."
"Vin, apa kamu juga tahu kalau karena itu hubungan keluargaku dengan Mas Ervin jadi renggang. Mereka mengira Kamu, aku, Miranda terlibat masalah peralih ini demi keuntungan."
"Ya Pa, aku ngerti pasti Papa hadapi fitnah itu di kota B. Aku minta maaf Pa, Seandainya aku tahu sejak awal aku pasti bisa selesai dengan mudah. Tapi sekarang sedikit lebih sulit karena berita sudah menyebar dan Bu Miranda sudah setuju dengan kesepakatan ini."
"Aku yakin kamu nggak terlibat Vin masalah ini, aku memang tahu dari Miranda sebesar apa keuntungan yang diberikan Adiguna group. Tapi yang terpenting, aku hanya mau keluarga kita tidak ada yang saling berselisih seperti sekarang. Aku juga sudah memberi peringatan Miranda supaya Abel jangan terlibat dulu masalah ini."
"Ya Pa aku ngerti, Aku nggak akan biarkan Adiguna group mengusik perusahaan Abel. Aku akan buat Wilson Palm tetap di bawah naungan WPH."
"Makasih Vin, bukan bermaksud untuk apa-apa Vin. Setelah istriku Amanda meninggal, aku bahkan tidak mengambil satu rupiah pun harta peninggalannya. Aku menyerahkan semua warisannya pada Abel. Harta warisan milik Abel di kelola dengan baik oleh WPH hingga bisa menghasilkan perusahaan baru Wilson Palm yang di kelola Miranda. Bayangkan saja bagaimana rasanya di khianati setelah dirawat dari kecil hingga dewasa. Setelah Dewasa dengan mudahnya menerima pinangan lain karena memberi keuntungan lebih dan merugikan naungan sebelumnya."
"Ya Pa aku mengerti Pa, itulah yang akan aku coba negosiasi dengan Bu Miranda yang sepertinya sudah terlalu tergiur dengan Adiguna. Tanpa memikirkan effectnya yang bisa langsung melemahkan saham WPH."
"Semua keputusan memang di tangan Abel, tapi aku harap kamu bisa selesaikan masalah ini sebelum sampai ke telinga Abel Vin. Aku kuatir bisa berpengaruh pada kehamilannya."
"Ya Pa, aku ngerti. Maaf ya Pa, aku benar-benar nggak tau gara-gara perusahaan keluargaku. Keluarga istriku jadi berselisih seperti ini."
"Ya Vin, aku ngerti setiap manusia pasti punya sisi ketidakpuasan dan menginginkan hal yang lebih. Itu sangat manusiawi."
"Iya Pa, di awal pernikahan keluarga besar kita jadi berselisih seperti sekarang."
Abel dan Davin kembali berjalan meninggalkan danau buatan kecil yang berada tak jauh dari rumahnya. Obrolan mereka cukup panjang jika tidak berhenti terlebih dulu.
Keduanya duduk di kursi teras depan rumah setelah berjalan kaki. Mereka tidak lagi membahas masalah perusahaan keluarga ketika di rumah sesuai kesepakatan. Riri segera datang membawa nampan berisi dua cangkir kopi kesukaan suaminya seperti kebiasaannya di kota B. Jiwa ibu rumah tangganya selalu melekat dimana pun dia berada. Bahkan Riri sudah memasak sarapan untuk keluarganya setelah sholat subuh.
"Mau sarapan sekarang atau nanti," tanya Riri.
"Sebentar lagi Ma, kita mau santai dulu," ucap Ervan.
"Oke," Riri kembali masuk ke dalam rumah.
Davin dan Ervan menikmati cangkir kopi masing-masing. Keduanya menyesap kopi dengan tenang menikmati pagi seolah melupakan masalah yang sedang terjadi.
"Abang Papa!" sapa Abel pada kedua pria kesayangannya. Ia langsung duduk di kursi yang masih kosong.
"Abang, Abel sudah buat daftar untuk keluarga besar dari Abel di kota B yang akan datang ke acara kita. Rencananya sekitar empat puluh Samali lima puluh orang. Abel akan suruh Pak Amar siapkan transportasi dan tempat menginap mereka."
Ervan dan Davin saling bersitatap, bagaimana bisa kita akan mengumpulkan seluruh keluarga. Sementara hubungan keluarga mereka sedang merenggang sekarang.
"Sayang, kenapa harus sebanyak itu yang di undang. Kita undang keluarga inti saja. Lagipula ini cuma acara empat bulanan. Mungkin kalau acara tujuh bulanan bisa kit@ undang seluruh keluarga besar kita." Ervan mencoba menyakinkan Abel.
"Papa benar Sayang, lagipula kondisi kamu juga nggak memungkinkan untuk menerima banyak tamu. Kamu harus banyak istirahat." Davin menyambung meyakinkan Abel.
"Ya juga sih," jawab Abel.
"Kita undang tetangga-tetangga kita sekalian bersilaturahim. Semenjak datang kesini kita jarang bersosialisasi dengan mereka." Davin kembali memberi alasan tepat.
"Setuju dengan Davin," ujar Ervan.
"Iya udah, Abel hubungi keluarga inti kita aja. Omah Opah, Om Ervin, Tante Miranda dan keluarga Adiguna." Abel bangkit dari kursi.
Dengan cepat Ervan meraih tangan Abel. Abel spontan duduk kembali ke kursinya.
"Sayang, biar Papa saja yang menghubungi keluarga kita," ujar Ervan.
"Ya Sayang, kau hubungi saja Nolan. Dia pasti senang akan ke ibukota mendatangi acara kita." Davin menyerahkan ponselnya pada Abel.
"Iya - iya!" Abel meraih ponsel suaminya. Ia masuk ke dalam rumah.
Ervan dan Davin saling pandang.
"Vin, selesaikan segera! jangan simpan masalah ini terlalu lama," nasehat Ervan.
Davin menganguk, untuk pertama ia menutupi hal besar dari istrinya.
.
.
.
.
.
.
NEXT....
😳😳😳 mudahan cepat kelar ya!
nanti up lagi ya!
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘