Lovely Wife

Lovely Wife
Belum Rela



Davin sudah rapi pagi ini dengan kemejanya berwarna biru lengan dengan blazer warna Navy yang senada dengan celananya. Ya, Abel hanya bisa mengamati suaminya yang berdiri di depan cermin. Ia masih dalam proses bedrest atau rebahan di atas kasur sampai beberapa hari ke depan.


Suaminya memang terlihat semakin tampan dengan tatanan rambutnya yang usai di beri pomade. Abel mendadak merinding, gimana si tanaman duri nggak terpesona dan klepek-klepek kalau dekat suaminya yang ganteng begini.


Abel jadi gemes pengen peluk suaminya tapi apa yang bisa dilakukan Abel, suaminya melarang Abel turun dari tempat tidur kecuali urusan ke kamar mandi. Abel juga rindu menyiapkan keperluan kerja suaminya. Abel berharap segera pulih dan bisa kembali melayani suaminya.


Davin menghampiri Abel yang sedari tadi menatapnya. Ia langsung mencium singkat bibir istrinya.


Davin melepaskan ciumannya. "Makan dulu, baru Abang akan pergi kerja." Abel menganguk.


Didepan Abel sudah ada sup dan bubur, tak lupa juga apel dan mangga buah yang tak pernah absen selama Abel bedrest.


"Abel sarapan Apel aja Bang," ucap Abel sambil menusuk dengan garpu potongan apel. Kondisi perutnya memang tidak memungkinkan jika makan selain buah.


"Nanti kamu nggak makan nasi Sayang kalau Abang tinggal, nanti lupa makan." Davin berusaha merayu Abel agar mencoba untuk makan selain buah.


"Suapin ya," pinta Abel manja.


"Iya, Sayangku!" Davin mulai menyendok bubur dan memberikan pada Abel. "Sampai habis baru Abang berangkat kerja."


"Iya Pak Komandan," ucap Abel. Davin meraih kepala Abel dan mencium keningnya, selalu saja gregetan ia melihat tingkah Abel.


"Maaf ya Bang Davin, seharusnya tugas Abel mengurus suami, ini malah sebaliknya. Abang selalu repot ngurusin Abel." Abel mengengam tangan suaminya.


Davin membelai pipi Abel. "Sayang kamu kan Istri Abang mengandung anak Abang, apalagi kondisi kamu belum pulih begini. Tugas kamu sekarang hanya sekarang hanya menjaga kesehatan kamu dan calon anak Abang."


Abel melempar senyum. "So sweet, I love you Bang Davin."


"Love you too, sekarang habiskan makanan kamu. Baru Abang akan berangkat."


"Bang Davin. Abel boleh antar kedepan, sekali ini saja. Please," seru Abel memasang wajah manis.


"Hmmmm ...," Davin berpikir. Abel semakin bergelayut manja. "Oke, untuk kali ini aja." Abel langsung semeringah bisa turun dari tempat tidur mengantar suaminya.


Usai menghabiskan sarapannya, Davin mengizinkan Abel untuk mengantarkannya ke halaman. Tapi tidak segampang itu, Davin menuntun Abel dengan sangat pelan seperti nenek-nenek yang akan menyeberang jalan. Ya, Abel berpikir ini terlalu berlebihan. Tapi mungkin beginilah sikap prosesif suaminya ketika dirinya sedang hamil.


Abel langsung memeluk erat suaminya ketika mereka sudah berada di halaman. Aroma tubuh suaminya membuat Abel ingin berubah pikiran tidak memperbolehkan suaminya kerja hari ini. Terlebih sekarang ia seperti belum rela suaminya akan pergi berdua dengan si tanaman duri. Bagaimana tidak! menurut Abel, pagi ini suaminya terlihat lagi ganteng-gantengnya. Pasti tanaman duri tidak akan melepaskan kesempatan.


Abel menggelengkan kepala berusaha membuang pikiran jeleknya.


"Sayang, Abang harus pergi sekarang." Davin berusaha membujuk Abel yang mendadak manja.


Abel mengangkat tubuhnya dari dada hangat suaminya. "Hati-hati," jawab Abel meskipun ia menjadi berat ditinggal suaminya.


"Sayang, sebentar lagi Mama datang, tadi pesawat Mama sudah landing," seru Davin.


"Ya Bang, " seru Abel sambil meraih punggung tangan suaminya dan menciumnya.


Davin mengelus perut Abel kemudian berjalan menuju mobil yang sudah dibuka sopir sejak tadi sambil melihat adegan romantis bosnya. Abel melambaikan tangan ketika mobil Davin mulai meninggalkan halaman.


Abel akan berbalik untuk masuk ke dalam rumah, tapi Abel mulai mendengar mobil berhenti di halamannya. Abel langsung berbalik berharap itu suaminya. Tapi jelas itu bukan suaminya, itu adalah ibu mertuanya yang glamor.


"Abel ...," Bu Mitha berhambur memeluk Abel.


Abel membalas pelukan Bu Mitha. "Mama apa kabar?"


"Baik sayang, Mama senang sekali mau punya cucu pertama keluarga Hendrawan Adiguna." Bu Mitha sangat bahagia.


"Ayo kita masuk Ma, kita ngobrol di dalam," seru Abel.


"Ya Sayang ayo, mama juga beli banyak hadiah buat kamu." Bu Mitha melenggang bersama Abel ke dalam rumah.


Abel sangat tahu ketikan bersama ibu mertuanya pasti ia akan dapat hadiah barang-barang branded.


*****


Sementara di tempat berbeda, Davin sudah tiba di bandara. Ia bersama Floris masuk ke dalam pesawat. Kali ini Davin memakai pesawat pribadi dari perusahaannya untuk urusan bisnis.


Pesawat lepas landas, Floris duduk di samping Davin. Setelah awak pesawat menghindangkan beberapa kudapan dan minuman, mereka pergi meninggalkan keduanya.


Floris melihat ke arah Davin yang tenang, ia hanya berdua sekarang. Floris tak tahan melihat keadaan ini. Ia meraih lengan Davin dan bersandar di bahu Davin.


"Vin, akhirnya kita bisa berdua seperti ini. Aku lelah harus terus berpura-pura."


.


.


.


.


.


.


Next....


😳😳😳😳😳😳😳😳😳Whaat!!!


Tinggalkan jejak dear like komen vote 😘😘😘