
senja menguning di ufuk barat, Avil duduk termenung didepan balon rumahnya. menikmati secangkir coklat panas. Avil kini menjadi gadis yang berparas cantik dan memiliki senyuman manis.
"andai saja ayah dan ibu ada disini, menikmati indahnya senja sore ini, ayah.. ibu Avil sangat merindukan kalian "
"Avil.. kemarilah ada yang ingin nenek sampaikan"
Avil berjalan masuk mendekati nenek Sinu yang tengah duduk sembari merajut sebuah sweater berwarna merah muda. wajah itu tampak keriput, tubuh yang sudah rentan.
"lihat nenek merajut sweater ini untukmu cobalah nak"
"nenek ini sangat cantik, aku akan mencobanya"
Avil bergegas mengenakan sweater buatan nenek dan benar sekali ia nampak semakin manis dan anggun bersama sweater itu.
" nenek ini cantik sekali, terimakasih nenek" Avil memeluk nenek
"berjanjilah nak untuk terus hidup bahagia, nenek sudah tua nenek hanya ingin melihat kamu bahagia"
"nenek, sekarang aku juga merasa bahagia bersama nenek, meskipun terkadang aku merindukan kedua orang tuaku tapi ada nenek di sisiku aku sudah bersyukur, nenek yang merawatku tanpa kurang apapun"
"kamu harus mengejar bahagiamu nak, nenek tidak mungkin menemanimu lebih lama, carilah pendamping yang menyayangimu, bertanggungjawab atas dirimu dan memuliakanmu"
"kenapa nenek terlihat seperti akan meninggalkanku? aku sangat bahagia tinggal bersama nenek"
"ketahuilah nak, kamu tidak mungkin bersama nenek seterusnya kamu harus mencari pendamping untuk menemanimu, sudah jangan murung"
banyak pelanggan yang merasa puas dengan hasil rangkaian bunga Avil. tak jarang mereka meminta Avil untuk mendekor suatu acara. kecintaanya pada dunia bunga membawa Avil pada ketrampilannya merangkai bunga.
Avil bercita-cita membuka toko bunga sendiri suatu saat nanti, dimana ia dapat mewujudkan semua mimpinya bahwa bunga tidak hanya seni untuk dilihat tetapi juga sarana untuk mengungkapkan perasaan.
selain bekerja sebagai florist Avil juga pandai membuat roti, ketrampilannya ini diperoleh dari nenek yang pandai membuat roti. selepas bekerja ditoko bunga Avil selalu membantu nenek, kini nenek sudah terlalu tua untuk membuat roti kini hanya Avil dan 2 orang karyawan nenek yang masih bertahan. Avil tidak ingin toko roti nenek tutup hingga akhirnya Avil pun turun dalam menjalankan toko roti nenek
kini Avil berusia 25 tahun, dimana nenek ingin avil memiliki pendamping hidup yang akan menjaganya, namun Avil sendiri tak sedikitpun pernah memikirkan jika ia akan menikah. selama ini ia hanya memikirkan pekerjaannya sebagai florist dan membantu nenek. mengingat perkataan nenek Avil mulai berpikir semuanya
"haruskah aku mencari pasangan hidup seperti yang nenek katakan? , tapi begini saja aku sudah bahagia, untuk apa aku mencari pandamping"
Pikiran itu masih saja menghantui Avil, ternyata tidak hanya nenek yang menyarankan Avil menikah, tetapi 2 karyawan nenek jenny dan merry juga memintanya untuk memikirkan pasangan hidup.
"Avil benar ucapan nenek sebaiknya kamu mecari pasangan hidupmu, menikahlah. " ucap merry
"bagaimana mungkin aku menikah sedangkan pasangan saja aku tak punya."
"cobalah untuk lebih terbuka pada lelaki, aku rasa banyak lelaki ingin menikahmu, kamu cantik, baik dan juga penyayang. "
"entahlah aku masih bimbang, tapi aku akan mencoba merenungkan ucapan nenek dan kalian."
Sore itu Avil, Jenny dan Merry menutup tokonya lebih awal. kondisi Inggris sangat dingin karna salju.