
Hampir setengah jam di ruang ICU, Abel belum merespon dan belum ada tanda-tanda akan sadar. Tangan Davin tak lepas mengengam tangan Abel.
Davin masih duduk menunduk lesu di samping Istrinya. Merasakan ada sesuatu yang bergerak di tangannya. Ia langsung menatap Abel yang masih terpejam, tapi tangannya bergerak. Perlahan-lahan Davin melihat kepala istrinya yang bergerak. Davin menekan tombol agar dokter segera menemuinya.
Dokter datang ke bilik Abel bertepatan dengan mata Abel yang sayup-sayup terbuka. Dokter memeriksa keadaan Abel. Davin bernafas lega melihat istrinya yang mulai perlahan-lahan membuka mata.
"Sayang! Alhamdulillah kamu sudah sadar." Davin menciumi tangan Abel.
Sedangkan Abel masih terlihat linglung masih belum sadar sepenuhnya. Ia meraba perutnya yang sudah kempes. Itu artinya bayinya sudah dikeluarkan. Abel mulai mengingat terakhir kali ia berada di ruang operasi.
"Pak, bisa bicara sebentar." Dokter mengajak Davin menjauh sedikit dari Abel.
"Pak, setelah di periksa. Ibu Abelia tidak menunjukkan gejala koma seperti dianogsa awal. Tidak ada penyumbatan darah menuju kepala. Ibu Abelia mengalami respon tubuh yang berbeda pada pemberian bius total. Setiap orang menunjuk efek yang berbeda pada obat bius. Setelah di periksa seluruh organnya juga sudah berkerja dengan baik, tinggal pemulihan saja pasaca operasi. Besok pasien sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat inap." Dokter menuturkan pada Davin.
Davin bernafas lega. "Alhamdulillah, terima kasih dokter."
Kecamasan Davin runtuh seketika. Abel akhirnya siuman dan tersadar setelah tidak bisa sadarkan diri selama 18 jam setelah melahirkan.
Davin langsung menemui istrinya yang sudah sepenuhnya membuka mata.
"Abang! mana anak kita." Abel langsung meraih tangan suaminya yang ada di sampingnya.
"Tenang Sayang, anak kita di ruangan bayi." Davin mengelus kepala Abel.
"Abang apa dia baik-baik saja! bagaimana keadaannya. Apa tidak ada masalah. Abel mau ketemu." Abel merasa panik dan akan turun dari ranjang.
Davin dengan cepat menahan Abel dan mencoba menenangkannya. "Sayang, nanti juga kamu ketemu anak kita. Kamu tenang ya."
Davin merogoh saku celananya untuk mencari ponsel. Ia menunjukkan pada Abel foto bayinya yang berada dalam inkubator.
"Ini Sayang, ini bayi kita. Bayi kita kecil tapi sehat. Dia harus di periksa dulu di ruang khusus bayi. Dia mirip sekali dengan Abang."
Abel melihat foto bayinya dari layar ponsel. Ia sudah menjadi ibu sekarang di usianya yang baru akan menginjak 21 tahun. Ia menintihkan buliran air mata. Bayinya sangat lucu. Sangat tidak sabar rasanya Abel ingin memeluk bayinya.
Abel teringat bagaimana bayinya minum, sedangkan asupan pertamanya ada pada dirinya.
"Abang, bagaimana anak kita minum, ASInya ada sama Abel." Abel menyentuh buah dadanya yang terasa penuh.
"Dokter memberi saran diberi donor ASI atau susu formula khusus. Setelah berdiskusi dengan keluarga, kita putuskan untuk memberi bayi kita susu formula sayang sambil menunggu kamu pulih."
Abel merasa pilu mendengar asupan pertama untuk bayinya adalah susu formula. Tapi sekarang yang terpenting adalah dia dan bayinya selamat saja sudah sangat bersyukur sekali. Alhamdulillah.
"Abang, Abel sudah nggak sabar mau ketemu anak kita. Abel pengen nyusui anak kita dan memberi yang terbaik."
"Sabar Sayang, besok kamu akan ketemu anak kita." Davin mencium kening Abel.
Abel merasa tenang sekarang. "Abang, apa Abang sudah siapkan nama untuk anak kita."
"Sudah, terpikir waktu kamu tadi ruang operasi. Tapi Abang nggak yakin kamu suka Sayang," ucap Davin.
"Oh ya ... nama itu doa Bang, kalau namanya bagus kenapa Abel nggak suka."
"Itu spontan terpikir begitu aja," seri Davin.
"Memang siapa Bang?" tanya Abel.
"Arzen, gimana sayang kamu suka."
"Suka Bang, Arzen. Abel suka, nanti kita cari lagi nama panjangnya."
Davin mengelus pipi istrinya. Ia begitu sangat bersyukur istri dan anaknya baik-baik saja, tidak ada rasa yang bisa mewakili rasa bahagianya saat ini.
...----------------...
Keesokan paginya. Keadaaan Abel sudah membaik, Abel dipindahkan dari ruang ICU menuju ruang rawat inap. Abel memasuki ruang rawat inap yang di sambut seluruh keluarganya yang sudah berkumpul di dalam. Abel merasa bahagia, tapi ada yang kurang disini. Dimana bayinya? apakah ia belum bisa bertemu bayinya? Abel sungguh ingin bertemu saja dan melihat sekilas saja.
Abel di pindahkan dari brankar ke ranjang ruangan. Abel melihat ke sebelah ranjangnya, sudah ada box bayi. Berarti bayinya sudah di ruangan rawat inap.
"Selamat Pagi mami," sapa Mama Riri masuk ke dalam ruangan. Ia mengendong bayi mungil di tangannya.
Wajah Abel berbinar melihat Mama Riri dan makhluk kecil itu. Ia langsung menegakkan tempat tidurnya. Apakah itu bayinya?
Abel sedikit gemetar mengendong bayinya pertama kali. Wajah anaknya begitu tenang, lagi-lagi ia merasa terharu. Ia mendekap bayinya dan menciuminya. Ia sudah sangat merindukan bayinya.
"Selamat ya Sayang, kamu jadi ibu sekarang dan Papa jadi opah - Opah." Ervan mencium ujung kepala anaknya.
Abel tertawa renyah. "Makasih Pa."
Di susul Mama Mitha dan Pak Hendrawan mendekati tempat tidur Abel.
"Lihat Nak, cucuku sangat tampa. Dia mirip sekali dengan Davin." Pak Hendrawan memegang pipi bayi mungil itu.
"Ya Pa," ucap Abel yang mengakui kebenarannya. Wajahnya bayinya sangat mirip dengan Daddynya. Hanya bentuk alisnya yang mirip dirinya.
Bayi Abel sudah di perbolehkan ke ruang perawatan karena sudah di pastikan tak memerlukan lagi alat bantu pernafasan. Organ-organ si Bayi sudah bekerja dengan baik. Hanya saja bobot bayinya yang kurang dari 2.5 kg masih perlu pemantauan.
Abel juga merasa terharu, bayinya sudah pandai mengisap ASI dengan baik. Tidak ada kebahagiaan terbesar dalam hidupnya selain memberi asupan yang terbaik untuk anaknya. Meskipun Abel masih kaku menyusui bayi untuk pertama kali. Meskipun tidak banyak, hormon oksitosin Abel bekerja dengan baik sehingga menghasilkan ASI yang yang cukup untuk bayinya. Abel pun banyak mendapat banyak tips dan obat-obatan herbal memperbanyak ASI dari Mama Riri dan Mama Mitha.
Baby Abel pun lagi-lagi tertidur pulas. Abel juga merasa kedua tempat tampungan ASI-nya sudah kosong. Ia menidurkan bayinya di sampingnya. Ia begitu bahagia sampai tidak begitu merasakan nyerinya sayatan bekas operasi di perutnya yang masih basah.
"Makasih ya Sayang, kamu udah beri Abang bayi mungil ini," ucap Davin. Abel tersenyum, lengkap sudah kebahagiaannya.
"Abang kapan kita pulang, Abel nggak mau lama-lama disini."
"Sayang, kamu masih harus dirawat dulu beberapa hari sampai benar-benar pulih," seru Davin.
"Abel kira setelah melahirkan bayinya, Abel bisa sembuh, anak kita juga sudah sehat."
"Butuh waktu sebentar lagi Sayang, biar kita semua pulang dengan keadaan sehat," seru Davin
Abel mengangguk pasrah jika itu demi kebaikan bayi dan anaknya. "Abang kalau namanya. Kita tambahin Arzen Alfarizki. Artinya rezeki luar biasa yang di berikan Allah pada kita."
"Bagus Sayang, jangan lupa pakai nama Adiguna biar dapat warisan dari Opahnya," canda Davin.
"Abang ih ...." Abel mendorong lengan suaminya. "Oh ya Bang, mana Uncle No, apa dia nggak tahu kalau ponakannya sudah lahir."
"Tahu Sayang, mungkin beberapa hari lagi di kesini. Kata Mama, dia lagi sibuk sama calon tunangannya akhir-akhir ini."
"Alhamdulillah, Abel senang dengarnya bentar lagi mereka juga akan nyusul kita."
"Oek ... oek ...." tangisan kehausan baby Arzen mengagetkan keduanya.
Dengan sigap Abel mengendong lagi bayinya. Ia bersyukur tidak mengalami baby blues sindrom pada ibu pemula yang sering di bicarakan temannya. Mungkin karena ia punya dua adik laki-laki dan terbiasa dengan bayi. Ia begitu menikmati menjadi ibu baru sekarang. Meskipun kehamilanya mengalami gangguan, ia tidak bisa melahirkan dengan normal dan juga tidak bisa memberi ASI pertama untuk bayinya . Abel merasa bersyukur sekali, ia dan bayinya bisa sehat dan selamat.
"Abel gantian, Mama mau gendong Baby Arzen." Mama Mitha mengambil Baby Arzen dari gedongan Abel.
Semua keluarga merasa bahagia setelah beberapa waktu lalu di penuhi ketenggangan karena keadaan Abel dan bayinya.
.
.
.
.
.
.
.
NEXT......
Sori Ei telat Up..
Gimana udah lega ya ......
Mungkin kisah Abel akan tamat beberapa bab lagi ya..... Ei nggak mau Novel ini terlalu panjang...
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘