Lovely Wife

Lovely Wife
Percaya



Matahari pagi yang celah menyelinap masuk ke dalam kamar melalui celah-celah jendela. Abel tak lagi berdiri di bawah sinar matahari pagi untuk memenuhi kebutuhan vitamin kulit B pada Baby Arzen. Itu adalak petuah Mama dan Mama mertuanya, menjemur bayi di pagi hari mencegah bayi kuning dan membuat kulitnya sehat. Entah dalam medis itu di benarkan atau tidak persepsi keduanya Mamanya. Tapi Abel menurut saja, kalau memang itu baik untuk anaknya.


Hari ini, hari ke 38 untuk umur baby Arzen. Badannya makin berisi dan montok karena Arzen kuat sekali menyusu. Arzen pun sudah bisa tertawa jika mendengar suara Daddy dan maminya. Mertuanya sudah pulang seminggu yang lalu. Luka bekas operasi di perut Abel sudah mengering meskipun belum sepenuhnya sembuh kata dokter. Gejala Preeklampsia yang di alami selama hamil juga sudah mulai pulih. Meskipun ia masih harus memeriksa keadaanya ke rumah sakit dua Minggu sekali.


Saat ini Abel masih mengurus bayinya sendirian tanpa melibatkan babysister sesuai saran suaminya. Abel merasa sanggup melakukan pekerjaan lain di sela waktunya untuk Arzen. Arzen termasuk bayi yang tidak rewel dan jarang menangis.


Davin keluar dari kamar mandi dan melihat aktivitas yang sama dilakukan istrinya setiap pagi. Abel menidurkan baby Arzen dengan memberinya ASI.


Abel menoleh ketika merasakan sesuatu yang dingin menyentuh lehernya. Ia mendapati suaminya yang terbalut handuk di pinggangnya dengan rambut yang masih basah. Abel segera melepaskan niplenya dengan pelan dari baby Arzen agar tidak terbangun.


"Arzen tidur lagi?" tanya Davin yang sekarang berlutut di depan istrinya. Ia mendekatkan wajahnya dengan Arzen yang tidur pulas, menciumnya pelan.


"Kalau udah kenyang pasti Arzen tidur lagi." Abel bangkit dari sofa akan meletakkan Arzen ke box bayi.


Abel menarik selimut agar menutupi tubuh mungil di dalam box ini. Abel merasakan tangan kekar sudah melingkar di perutnya. Abel berbalik, ia merasa sekarang giliran mengurus bayi besarnya. Semenjak ada Arzen, Abel mulai jarang membantu suami mempersiapkan diri untuk ke kantor seperti dulu. Terkadang ia harus menyusui Arzen ketika Davin akan bersiap berpakaian. Davin yang menyadari kesibukan Istrinya, kadang mengalah dan tidak keberatan bersiap-siap sendiri.


"Sini Abel bantu keringkan rambut." Abel menarik handuk kecil yang di pegang suaminya. Mumpung ada waktu untuk memanjakan suaminya.


Davin menurut ketika tangan Abel mulai memijat kepalanya dengan handuk kecil. Davin mendongak ketika rambutnya sudah mulai terasa kering. Ia meriah dagu Abel dan mengecupnya singkat.


"Makasih istriku," ucap Davin.


"Ya suamiku."


Davin memeluk Abel, "Sayang tanggal merahnya belum selesai ya."


Abel merenggangkan pelukan suaminya. Ia menatap suaminya. "Sabar Abang masih dua hari lagi kalau nggak mundur."


"Emang bisa mundur sayang," tanya Davin tak senang.


"Bisa saja Bang, disambung dengan datang bulan." Abel mencoba mengoda suaminya.


"Mudahan nggak Sayang, kasihan udah kelamaan puasa. Dia kangen sama kamu," seru Davin dengan wajah memelas.


"Ya ... ya nanti kalau udah selesai langsung konfirmasi sama Abang."


"Yes ... gitu dong Sayang, Abang jadi semangat kerja."


"Abang." Abel mengalungkan tangan di leher suaminya. "Sekarang Abel gak seramping dulu, badan Abel masih melar setelah melahirkan. Dada Abel sudah kendur. Cinta Abang nggak berubah kan sama Abel." Abel cukup tahu diri perubahan tubuhnya setiap ia melihat kaca.


Davin hanya terkekeh. "Kamu aneh-aneh aja Sayang. Semelar apapun kamu. Abang tetep cintanya sama maminya Arzen."


Abel memerah malu, semenjak melahirkan ia memang jarang bermesraan. Ia juga belum melakukan program penurunan berat badan ataupun pemakaian kontrasepsi. Ia hanya melakukan perawatan tubuh saja kehilangan bekas-bekas garis di perutnya.


Abel juga memberi jarak agar Davin tidak tergoda begitu pula sebaliknya. Davin kadang harus menahan hasratnya karena efek rasa candu pada istrinya.


"Abel cinta Bang Davin." Abel mengu-lum senyum manis pada suaminya.


"Abang juga cinta banget sama kamu," jawab Davin mencium kening Abel sekarang.


Merasa sudah terlambat ia melepaskan pelukan istrinya dan meraih kemeja yang sudah di siapkan Abel di ranjang.


"Sini Abel kancingkan bajunya." Abel menarik tubuh suaminya untuk mendekat.


Tok ... tok ... tok


Davin membuka pintu, Bi Ningsih nampak dari balik pintu.


"Mbak, ada yang cari bapak!" ucap Bi Ningsih.


"Siapa Bi?" tanya Abel.


"Namanya Angel, katanya sekertarisnya bapak."


"Ya, sebentar saya turun." Abel kembali masuk ke kamar.


Ia memberitahu suaminya jika ada orang yang ingin menemuinya. Davin menyuruh Abel turun menemuinya dulu karena Davin belum selesai bersiap.


Abel turun menuju ruang tamu akan menemui tamunya. Abel cukup terkejut melihat sekertaris baru suaminya. Abel tidak menyangka kalau sekertaris suaminya cantik ... eh cantik dan sek-si mungkin lebih tepat. Ia hanya tahu sekertaris sebelumnya penganti Floris. Dari segi penampilan wanita itu sebelas dua belas lebih sek-si dari Florista. Apakah semua sekertaris bos harus cantik dan se-ksi seperti itu?


Pikiran Abel mulai melayang - layang, akankah sekertaris baru suaminya akan menjadi Florista jilid dua. Akan kah ketenangan keluarganya akan terganggu dengan seorang sekertaris lagi. Tapi sekretaris suaminya bukannya sudah berkeluarga. Abel tidak perlu lagi takut atau was - was. Ya, Abel memang tipe yang sangat pencemburu.


"Tunggu! suami Saya masih siap-siap."


Abel belum mendeteksi ada bibit pelakor dalam diri wanita didepannya. Meksipun tampilanya sek-si dengan roknya yang kurang bahan, tapi tak segenit Floris waktu pertama kali bertemu. Lagipula ia kenapa harus was-was kalau ada wanita yang dekat dengan suaminya. Dia kan bekerja dan profesional. Lagipula ia sudah ultimatum suaminya cari sekertaris yang sudah berkeluarga bukan.


"Saya panggilkan saja." Abel berbalik kembali ke kamar menemui suaminya.


"Abang!" keluh Abel pada Davin yang sedang menyisir rambut.


Davin menoleh ke arah istrinya. "Ada apa Sayang. Angel masih nunggu Abang."


"Ih ...." Abel menjewer telinga Davin.


"Auhhhhh ...."


"Sakit Sayang, kenapa Abang di jewer." Davin mengusap telinganya.


"Abang! Kenapa nggak bilang sama Abel punya sekretaris baru yang lebih seksi dari Floris!" Abel berbicara keras kali ini dengan tangan yang melipat di dada.


"Kamu nggak nanya Sayang."


"Abang!" Abel menarik lagi telinga suaminya.


"Sstttt ... nanti Arzen bangun Sayang,"


"Abel gimana mau nanya, Abel kan ngurus kehamilan Arzen."


Davin meraih pinggang Abel, memajukan badan istrinya agar berhadapan dengannya. Abel masih memasang gaya merajuk memalingkan wajahnya ke kanan, ia tak mau bertatapan dengan suaminya. Davin menangkup wajah istrinya agar melihat ke arahnya.


Davin menghela nafas, tak hanya ibu hamil, ibu menyusui juga gampak sensitif dan merajuk.


"Sayang, Angel itu sekertaris baru yang gantikan sekertaris sementara Abang pengganti Floris. Sekertaris yang merekrut dan menyeleksi itu HRD, Abang hanya memastikan suka atau nggak pilihan HRD. Lagipula Angel itu udah berkeluarga, Abang cari sekertaris sesuai keinginan kamu Sayang." Davin mengesek-gesekan hidungnya ke pipi Abel.


Abel mulai sedikit lega, ia mulai bisa menarik senyuman. "Abel kira Abang yang genit cari sekertaris yang cantik-cantik dan seksi."


"Ya harus begitu Sayang, nggak enak dilihat kalau nggak cantik."


"Abang!" Abel mencubit perut Davin kesal.


"Bercanda Sayang, ini yang Abang gemes dari kamu. Bawel dan Cemburuan!" Davin berbicara tepat di depan wajah Abel.


"Abang tuh, Playboy kelas bawal," canda Abel karena sudah tak sekesal tadi.


Davin mengeratkan pelukannya. "Tapi hati Abang sudah berlabuh ke dermaga yang tepat. Abang hanya mencintai dan di miliki satu wanita. Yaitu Abelia Amvan Wijaya ini. Ibu dari putraku Arzen Alfarizki Adiguna."


Abel jadi merona malu, mendengar ucapan suaminya.


"Ya udah ayo keluar, Abel juga mau nunggu EO untuk persiapan aqiqahnya Arzen lusa." Abel mengandeng lengan suaminya keluar kamar.


Abel menepis semua pikiran buruk. Hal terpenting dalam rumah tangga adalah kepercayaan. Mulai sekarang ia berjanji akan selalu percaya pada suaminya. Ia juga berharap tidak ada lagi ujian dalam rumah tangganya hanya karena kesalahpahaman orang ketiga.


.


.


.


.


.


Next......



Mami Abel dan Baby Arzen 😍


gambar akan dihapus sewaktu-waktu karena copyright.


Menuju Ending 🤗